Kumparan Logo

Kian Ekspansif, Ini Alasan Hary Tanoesoedibjo Masuk Bisnis Batu Bara dan Migas

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hary Tanoe lewat PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) kian ekspansif di sektor energi Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Hary Tanoe lewat PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) kian ekspansif di sektor energi Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Hary Tanoesoedibjo lewat perusahaannya PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) kian ekspansif di sektor energi. Terbaru, perusahaan yang masuk dalam MNC Group ini mengakuisisi 85 persen saham perusahaan migas di Papua Barat, PT Suma Sarana.

Sekadar catatan, IATA resmi berganti nama menjadi PT MNC Energy Investments Tbk untuk mencerminkan perubahan kegiatan usaha Perusahaan dan memperkuat posisinya di industri terkait.

Dengan nama baru, perseroan juga telah mengakuisisi PT Bhakti Coal Resources (BCR) yang memiliki 9 Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

"Secara organik, BCR akan terus fokus untuk meningkatkan produksi pada IUP-IUP yang telah beroperasi dan memulai produksi di IUP-IUP baru,” tulis manajemen IATA dalam keterangan tertulis di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/4).

Hal ini dilakukan semaksimal mungkin memanfaatkan momentum harga batu bara yang masih sangat tinggi. Secara inorganik, IATA akan terus mencari peluang akuisisi tambang baru baik batu bara maupun mineral lainnya seperti emas dan nikel serta menakar prospek lain yang berkaitan dengan energi terbarukan.

Selain itu, IATA akan terus berevolusi guna meningkatkan sinergi dan efektivitas di semua lini. Perseroan berencana untuk terjun di usaha kontraktor, logistik & transportasi, trading, dan lain sebagainya.

Ilustrasi pertambangan migas Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

"Hal-hal yang disebutkan di atas ditambah dengan rencana akuisisi Blok Semai III milik PT Suma Sarana, semakin memantapkan langkah Perseroan di sektor energi,” tambah manajemen.

IATA juga terus akan fokus pada kegiatan eksplorasi untuk mencari cadangan baru dan menjalin kontrak penjualan jangka panjang dengan para pembeli. Manajemen Perseroan yakin segala upaya yang ditempuh akan semakin mendorong kinerja dan profitabilitas IATA melesat diantara para kompetitornya serta membawa dampak positif bagi para pemegang saham.

Memanfaatkan Naiknya Harga Komoditas

Perseroan juga menganggap dunia memasuki fase baru dengan masuknya pasukan Rusia ke wilayah Ukraina. Konflik geopolitik ini turut memanaskan harga komoditas dan energi global.

IATA mencatat, harga minyak mentah dan gas alam terus menguat. Harga Brent berada pada level USD 97,90 per barel pada Jumat (8/4). Sementara itu, harga gas alam berada di level USD 6,30 per MMBtu (million british thermal units).

Di mana Rusia menempati posisi kedua pemasok minyak mentah dunia setelah Arab Saudi, dengan pangsa pasar hingga 10 persen kebutuhan minyak global. Sedangkan, ekspor gas alam Rusia menyumbang 26 persen dari perdagangan pipa internasional dan 8 persen dari perdagangan LNG.

Sekitar 77 persen dari ekspor ini pergi ke negara-negara Eropa dan menyumbang sekitar 40 persen dari total konsumsi gas alam Eropa.

"Melihat dari data tersebut, Rusia merupakan pemain utama dalam pemenuhan kebutuhan minyak dan gas alam di Eropa. Walaupun banyak negara enggan mengembargo perdagangan energi Rusia, sanksi terhadap bank dan entitas lain akan menghambat ekspor minyak, gas alam, dan batu bara Rusia, mengancam pasar energi global,” tutur manajemen IATA.

Sehingga pengurangan pasokan minyak dan gas alam Rusia akan mendongkrak harga energi fosil.