Kiat Pertamina Tekan Laju Penurunan Produksi Rokan: Optimalkan DICE Pakai AI
·waktu baca 3 menit

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mampu menekan laju penurunan produksi minyak di Blok Rokan dengan mengoptimalkan digitalisasi. Melalui Digital & Innovation Center (DICE), kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk menunjang sarana pemantauan real-time sekaligus melakukan analisis untuk seluruh proses operasional hulu migas Rokan.
Aktivitas pemantauan ini meliputi pengeboran, pengapalan, lifting, inventory, sampai operasional produksi. Operation Head Subsurface Development & Planning Zona Rokan, Mochamad Taufan, menyebut bahwa AI mendukung timnya mengolah data wilayah kerja Rokan—dengan lingkup operasional yang luas dan masif—menjadi lebih efisien.
“Sumur (minyak) di Rokan sangat banyak. Ada sekitar 12.600 sumur yang harus dikelola oleh PHR. Nah, untuk mengelola itu diperlukan AI sehingga membantu para engineer di Rokan bisa bekerja lebih efisien,” jelas Taufan dalam kunjungan media ke Rumbai, Pekanbaru, Kamis (16/10/2025).
“Jadi, data-data dari sumur tadi akan masuk ke dalam sistem AI machine learning, sehingga bisa keluar rekomendasi apakah sunur ini ada masalah atau tidak,” imbuhnya.
Dinilai lebih efisien, penggunaan AI menurutnya mempercepat tindak lanjut masalah di sumur. Selain itu, bisa menghemat sumber daya. Melalui bantuan AI, Rokan berhasil menekan laju penurunan produksi sebelum alih kelola (2021) dari sekitar 11 persen per tahun menjadi nol persen.
Mengenal DICE, Fasilitas Pemantauan Real-time: Baca Data Lebih Efisien
DICE menjadi fasilitas unggulan yang dimanfaatkan manajemen dalam memantau data lapangan. Lebih dari sekadar ruang diskusi, jelas Taufan, DICE dilengkapi dengan 66 layar yang menampilkan data dalam bentuk dashboard digital. Beberapa data tersebut terkait pemantauan aktivitas pengeboran, jadwal pengeboran terintegrasi (Integrated Drilling Schedule), penyiapan lokasi pengeboran dan pembangunan fasilitas sumur minyak, hingga pengelolaan kegiatan produksi dan maintenance.
"Manajemen PHR menggunakan data dan pemantauan DICE sebagai pertimbangan untuk proses pengambilan keputusan," jelas Taufan.
WK Rokan sendiri memiliki luas wilayah 6.400 km2 dengan 12.600 sumur aktif, 35 stasiun pengumpul, dan 13.200 km jaringan pipa alir dan 500 km jaringan shipping line.
“Pengeboran sumur pengembangan di WK Rokan juga sangat masif, sekitar 500 sumur per tahun atau lebih dari 50 persen pengeboran sumur pengembangan di Indonesia ada di WK Rokan,” tandasnya.
Penggunaan AI, imbuh Taufan, merupakan bagian dari program Optimization Upstream (OPTIMUS) di lingkungan Subholding Upstream. OPTIMUS adalah upaya untuk mengoptimalkan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Hingga akhir tahun 2025, program OPTIMUS yang dijalankan PHR ditargetkan mampu menghasilkan efisiensi operasional hingga USD 46 juta atau setara dengan Rp 762 Miliar.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menuturkan, WK Rokan menjadi salah satu sumber minyak andalan Pertamina. WK Rokan, ujarnya, mampu memproduksi minyak bumi setara 26 persen produksi minyak nasional.
"Pertamina berkomitmen meningkatkan produksi migas untuk mencapai ketahanan energi nasional. Pada WK Rokan kami melakukan berbagai upaya untuk menjaga laju produksi, sehingga tingkat produksinya masih dapat terjaga dengan baik," jelas Fadjar.
