Kinerja Fundamental dan Keterbukaan Informasi Penting Jaga Kepercayaan Investor

Dinamika pasar modal yang diwarnai beragam informasi mengenai aksi korporasi membuat keterbukaan informasi dan kondisi fundamental semakin penting menjadi rujukan investor. Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, investor perlu mencermati informasi material berdasarkan sumber resmi perusahaan, terutama ketika muncul rumor yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar.
Menurut Nafan, konfirmasi resmi perusahaan atas sebuah kabar penting diperhatikan investor, agar dapat membedakan informasi terverifikasi dengan spekulasi di pasar.
"Investor perlu membedakan informasi material yang telah dikonfirmasi dengan spekulasi pasar," kata Natan, Rabu (30/9).
Sifat hati-hati tersebut penting dimiliki investor, salah satunya dalam melihat fakta di balik aktivitas perdagangan di pasar. Menurut Nafan, tidak semua transaksi di bursa bisa dikaitkan dengan aksi korporasi tertentu, apalagi jika tak ada analisis lebih lanjut atas hal tersebut.
"Lebih tepat melihat transaksi sebagai aktivitas perdagangan yang perlu ditelusuri berdasarkan pihak yang bertransaksi, harga, volume, dan keterbukaan informasi terkait, bukan semata-mata dari nilai transaksi agregatnya," kata Nafan.
Nafan mengingatkan investor agar selalu menggabungkan beberapa sumber informasi sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi suatu perusahaan. Apabila investor mengacu pada informasi resmi serta mencermati kinerja fundamental emiten, mereka dapat menempatkan berbagai sentimen pasar dalam konteks lebih utuh.
Menurut Nafan, fundamental emiten merupakan salah satu indikator kunci untuk melihat sehat atau tidaknya sebuah perusahaan, terlebih jika hendak dijadikan opsi investasi oleh pelaku pasar. Analisis terhadap fundamental perusahaan penting dilakukan terlebih apabila investor memilih emiten perbankan sebagai tujuan berinvestasi.
"Di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi pasar, indikator utama seperti pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, dan dana murah masih memberikan gambaran bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga," kata Nafan.
Salah satu emiten perbankan yang beberapa hari terakhir kerap diperbincangkan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Pembicaraan terkait BCA kerap menyita perhatian investor, apalagi beberapa waktu lalu perusahaan ini dirumorkan akan diakuisisi oleh pengusaha asal Kalimantan, Haji Isam.
Nafan menilai, dari sisi fundamental, BCA masih menunjukkan ketahanan cukup kuat. Salah satu buktinya, pada semester I 2026 emiten tersebut meraih laba bersih Rp 29,5 triliun. Pada periode yang sama, penyaluran kredit tumbuh 8% secara tahunan menjadi Rp 1.036 triliun.
Nafan juga menyoroti struktur pendanaan BCA yang sehat dan kuat, ditopang dana murah atau CASA yang jumlahnya mencapai 84,3% dari total dana pihak ketiga perseroan. Hingga paruh pertama 2026, CASA BCA meningkat 10,2% menjadi Rp 1.082 triliun. Kemudian, dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau NPL BCA berada di level 1,9%, sementara Loan at Risk (LAR) tercatat 4,9%.
Beberapa tahun terakhir BCA konsisten membukukan pertumbuhan laba bersih. Pada 2024, laba bersih BCA mencapai Rp 54,8 triliun atau tumbuh 12,7% secara tahunan. Setahun setelahnya, laba bersih naik 4,9% menjadi Rp 57,5 triliun. Pertumbuhan tersebut diikuti kenaikan penyaluran kredit dari Rp 922 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp 993 triliun per akhir 2025.
Tak hanya mencatat kinerja positif, BCA juga rutin melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback). BCA telah menyatakan melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.
Menurut Nafan, buyback merupakan salah satu cara manajemen perusahaan membantu menjaga stabilitas harga saham, sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap fundamental perseroan.
"Ini sebagai salah satu mekanisme stabilisasi dan bentuk pengelolaan modal yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor ketika volatilitas meningkat," ujarnya.
