Kumparan Logo

Kisah Dede, Local Hero Pertamina Sulap Limbah Jerami Jadi Bahan Budidaya Jamur

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Budidaya jamur merang yang dikelola Local Hero Pertamina di Karawang. Foto: Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Budidaya jamur merang yang dikelola Local Hero Pertamina di Karawang. Foto: Pertamina

Jerami yang selama ini dianggap sebagai limbah oleh petani di Desa Muara, Karawang kini memiliki nilai ekonomi. Dulunya, jerami hanya dibakar usai panen, namun kini Dede Kurniawan (31) memanfaatkan limbah jerami itu sebagai media tanam untuk membudidayakan komoditas lain yakni jamur merang.

Adapun Dede merupakan Local Hero Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dari program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina di Desa Muara. Melalui program DEB (Desa Energi Berdikari), proses budidaya jamur merang kini didukung energi dari PLTS yang sebagai sumber energi.

“Kami tuh di sana ada potensi jerami, ada petani padi, jadi kita manfaatkan untuk budidaya jamur merang. Bagi masyarakat sekitar, awalnya jerami yang tidak bermanfaat, sekarang jadi bernilai ekonomis,” kata Dede ketika berbincang dengan kumparan di Grha Pertamina, Jakarta pada Jumat (28/8).

Sampai saat ini, Dede bercerita bahwa sudah ada sekitar sembilan orang masyarakat yang tergabung menggerakkan DEB Desa Muara. Dari situ, masyarakat menurutnya sudah merasa terbantu karena bisa mendapat keuntungan dari nilai ekonomi budidaya jamur merah.

Budidaya jamur merang yang dikelola Local Hero Pertamina di Karawang. Foto: Pertamina

Di samping itu, omzet yang dihasilkan dari DEB Desa Muara per tahunnya juga kini sudah berhasil menembus puluhan juta per tahun.

“Jadi masyarakat yang dulunya pada nganggur, sekarang ngurusin jerami gitu, yang aktif sembilan orang. Omzet dalam satu tahun kita bisa menghasilkan Rp 90 juta. Itu dibagi (ke para anggota),” ujarnya.

Saat ini, produksi jamur merang DEB Desa Muara yang diawaki Dede sudah bisa melakukan produksi hingga 6 kwintal per bulan. Harga jualnya pun cukup baik dengan Rp 31 ribu per kilogram.

Dengan hasil produksi tersebut, saat ini jamur merang hasil DEB Desa Muara disalurkan baik ke pengepul maupun ke masyarakat yang akan menjual langsung kepada para konsumen.

Sedangkan terkait awal mulanya memanfaatkan jamur, Dede sendiri bercerita bahwa awalnya ia memang bergerak di sektor pertanian sebagai ketua kelompok tani. Dari situ, ia menyadari bahwa ada potensi yang belum dimanfaatkan dari limbah jerami.

Tak hanya budidaya jamur merang, Dede bercerita bahwa kelompok juga mengembangkan Pertanian Terintegrasi Berbasis PLTS. Dengan begitu, energi dari PLTS yang merupakan dukungan dari Pertamina digunakan untuk berbagai hal mulai dari kumbung jamur merang yang menggunakan IoT khususnya untuk pengaturan suhu sampai alat inkubasi atau mesin penetasan telur unggas yang kini aktif menetaskan telur bebek.

Untuk lini penetasan telur, Dede bercerita bahwa hal itu memang cukup memberikan nilai tambah terhadap produksi telur bebek yang selama ini dilakukan. Hal ini karena harga Daily Old Chick lebih tinggi ketimbang harga telur.

Kini, per harinya, terdapat 130 telur yang dihasilkan. Dengan adanya alat inkubasi yang didukung energi dari PLTS, terdapat peningkatan nilai ekonomi per telurnya bisa mencapai Rp 12 ribu.

“Di sana ada 300 bebek. 300 bebek itu per hari bertelur 130 telur. 130 telur per hari itu kalau dijual langsung, telurnya harganya Rp 2 ribu, berarti cuma dapat Rp 260 ribu. Kalau dimasukin mesin penetas, dia berubah jadi anak bebek atau DOC, itu harganya Rp 12 ribu yang betina. Jadi peningkatannya beberapa kali lipat,” ujarnya.

Local Hero Pertamina di Karawang. Foto: Pertamina

Dengan adanya PLTS dari Pertamina, hal yang dirasakan bukan hanya soal adanya listrik di tengah lahan pertanian. Selain itu, energi dari PLTS tak sekadar mendukung penggunaan mesin inkubasi dan teknologi IoT untuk mengatur suhu kumbung jamur. Setelah mendapatkan PLTS, kelompoknya kini juga bisa menggunakan pompa air sampai melakukan pekerjaan pada malam hari.

Hal itu menurutnya menjadi hal yang saat ini paling berdampak pada anggota kelompok karena pekerjaan menjadi lebih mudah dengan adanya teknologi.

“Ya perubahannya, awalnya kami kerja di sana nggak pake teknologi, jadi masih manual. Awalnya penyiraman tanaman kita masih pake embrat, dan lain-lain, nggak ada listrik, inkubasi kita masih pake penetesan manual, seperti ayam menetas itu sendiri. Sekarang adanya listrik di sana, teknologi, sangat terbantukan lah,” kata Dede.

Sementara itu VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan bahwa program DEB juga melahirkan inovasi-inovasi pengembangan masyarakat. Dari penggunaan hanya di satu bidang, tumbuh inovasi pemanfaatan lainnya.

“DEB dihadirkan Pertamina dengan semangat pemberdayaan. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat energi bersih, tetapi menjadi bagian penting dalam mengelola dan memanfaatkannya untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Baron.