Kisah Gen Z dari Riau Bisa S2 di Amerika Serikat Berkat Beasiswa Pertamina
·waktu baca 5 menit

Tasya Ulfa Yusianda (24) dan Bunga Fitri Sartika (25) tampak semringah saat muncul di layar monitor, Kamis (16/10). Malam itu, mereka tengah berbincang-bincang via zoom dengan sejumlah wartawan yang berada di kantor Pertamina Hulu Rokan (PHR), Dumai, Riau. Tasya dan Bunga sendiri tengah berada di Texas, Amerika Serikat. Mereka tengah menempuh studi di Texas A&M University.
Dua perempuan asal Riau itu adalah penerima Beasiswa Prestasi S2 Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang berangkat studi tahun 2024. Tasya diterima di jurusan Chemical Engineering (MSc), sementara Bunga di Geologi (MSc). Jurusan yang masih sejalan dengan kuliah S1 mereka. Tasya adalah lulusan Teknik Kimia Universitas Indonesia (2021), sementara Bunga lulus S1 dari Teknik Geologi UGM (2022).
Bagi Tasya dan Bunga, berkuliah S2 di AS merupakan mimpi yang jadi kenyataan. Keduanya siap melenggang memajukan riset di bidang migas dan mengaplikasikannya saat kembali ke Indonesia.
Bunga bercerita, kesempatan bisa S2 di Amerika bermula ketika beredar informasi soal beasiswa Pertamina Hulu Rokan (PHR) di media sosial. Dia pun memutuskan mendaftar dan melengkapi semua kebutuhan administrasi. Setelah melalui sejumlah proses mulai dari seleksi akademis hingga membuat proposal soal minyak dan gas, Bunga akhirnya terpilih bersama Tasya. Mereka menjadi yang terbaik dari total 185 putra-putri terbaik Riau yang turut mendaftar.
Setelah terpilih, Bunga dan Tasya langsung mendapat pendampingan dari Pertamina Foundation selaku mitra pelaksana program Beasiswa Prestasi PHR. Mereka didampingi saat pendaftaran universitas, pengenalan budaya, IELTS, sampai letter of acceptance (LOA).
Namun, perjuangan tentunya tidak berhenti sampai mendapat beasiswa saja. Bunga bercerita, kesulitan yang sempat dihadapi terkait membagi waktu antara urusan akademik, domestik, dan hiburan.
“Tapi prioritasnya tentu di akademik sesuai dengan tujuan awal ke AS,” kata Bunga kepada wartawan.
Senada dengan Bunga, Tasya juga merasa kesulitan dengan gaya belajar di kampus. Selain ada lebih banyak PR, ujian yang harus diikuti juga ternyata cukup banyak. Maka, penting baginya untuk mengatur prioritas, terlebih di tahun-tahun akhir saat mulai riset. Dia juga merasa beruntung dikelilingi oleh teman-teman yang siap membantu sewaktu kesusahan. Ditambah lagi, banyak diskusi interaktif di kelas yang menjadi kesempatan mereka belajar dari para ahli yang membuat mereka lebih percaya diri dan berani bicara.
“Kehidupan sosial sebenarnya curi-curi waktu saja kalau di weekdays, biasanya di research group Tasya kadang beberapa orang ngajak lunch keluar. Kadang makan malam bareng Bunga atau di weekend kita cari aktivitas, kayak nonton olahraga atau entertainment dari kampus,” ujar Tasya.
Riset soal Migas untuk Diterapkan di Tanah Air
Saat ini, dua Gen Z asal Riau itu baru saja menyelesaikan tesis sebagai syarat lulus. Selama menempuh masa studi, keduanya banyak terlibat dalam riset-riset terkait migas (minyak dan gas). Berkuliah di AS merupakan keuntungan tersendiri, sebab Texas A&M University memang terkenal akan risetnya yang berkelas dunia.
Bunga menjelaskan, sewaktu dia kuliah S1 pernah melakukan riset soal coal bed methane. Sebuah penelitian terkait pengambilan gas dari reservoir batubara. Sementara saat ini, riset yang tengah dia lakukan fokus ke eksplorasi migas di dua cekungan yang berada di sekitar Texas. Tujuannya untuk membandingkan cekungan mana yang bisa memproduksi migas dengan lebih bagus.
“Mungkin aplikatifnya untuk eksplorasi migas baru untuk menemukan cadangan (migas) baru, mungkin itu sangat aplikatif untuk di Indonesia. Tapi sekarang risetnya dilaksanakan di Amerika,” jelas Bunga.
Sementara Tasya, tengah melakukan riset terkait optimasi sistem untuk energi terbarukan. Dia menyebut, topik risetnya bersinggungan dengan fokus dunia yang mengarah ke net zero emission. Singkatnya, Tasya mencari tahu cara optimalisasi tentang solar PV (photovoltaik) yang mungkin di masa mendatang sudah tidak bisa dipakai.
“Tujuan risetnya untuk tahu kalau misalnya sudah 20 tahun, sudah nggak bisa dipakai, alat dan materialnya bisa digunakan kembali,” ujar Tasya.
Dia membayangkan, riset-riset seperti itu bisa berguna untuk lapangan-lapangan migas di Indonesia yang sudah tua agar bisa dioptimalkan sumber dayanya.
Women in STEM dan Mimpi Berkontribusi untuk Indonesia
Industri minyak dan gas dinilai merupakan industri yang didominasi pria. Istilah women in STEM—perempuan di bidang sains dan teknologi—pun muncul sebagai kampanye mendukung kesetaraan gender di industri. Tasya maupun Bunga sepakat bahwa bekerja di industri migas bukanlah soal gender, melainkan soal potensi individu.
“Saya sadar bahwa beberapa pekerjaan di lapangan biasanya diutamakan laki-laki karena mungkin lebih kuat. Cuma sekarang sudah banyak perempuan yang bekerja di lapangan, jadi sebenarnya itu sudah bukan menjadi penghalang perempuan bekerja dan berkembang di dunia migas,” terang Bunga.
Para gen Z ini yakin bahwa potensi industri migas masih sangat besar, meski isu muncul bahwa industri tersebut kian meredup. Di tengah era AI dan machine learning, menurut Bunga, kian banyak peluang-peluang baru di migas dan energi terbarukan.
Keduanya berharap, akan lebih banyak lagi putra-putri Indonesia yang berani mengembangkan karier dan edukasi di industri ini. Terutama dengan memanfaatkan beasiswa sebaik-baiknya untuk masa depan migas Indonesia.
“Harapannya setelah pulang dari sini, semoga ilmu-ilmu, riset, pengalaman yang kita dapatkan di sini bisa diaplikasikan, bisa membantu kita berkontribusi nantinya di the future of migas Indonesia juga,” ucap Tasya.
Bunga dan Tasya merupakan penerima Beasiswa Prestasi PHR untuk jenjang S2. Selain mereka, ada juga sejumlah putra-putri terbaik Riau yang mendapat beasiswa untuk jenjang S1 di Universitas Pertamina. Inisiatif ini merupakan wujud dukungan Pertamina untuk mewujudkan generasi yang unggul.
Inisiatif yang sejalan dengan Asta Cita Prabowo-Gibran untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dalam konteks Tasya dan Bunga menyangkut isu sains, teknologi, pendidikan, kesetaraan gender, dan penguatan peran perempuan. Selain itu, juga erat kaitannya dengan dorongan pada swasembada energi.
Selama satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Pertamina sendiri konsisten mendukung pembangunan SDM melalui berbagai program seperti Beasiswa Prestasi PHR, Enduro Entrepreneurship Program (EEP), Pertamina Goes to Campus, dan sejumlah program lain.
