Kumparan Logo

Kisah Investasi ‘Bodong’ Kripto yang Rugikan Puluhan Miliar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi transaksi uang kripto di aplikasi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi transaksi uang kripto di aplikasi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Selasa 15 April 2025 menjadi awal mula kisah petaka Nonik, bukan nama sebenarnya dimulai. Hari itu tiba-tiba seseorang dengan nomor tak dikenal memasukkan nomor WhatsApp-nya ke dalam grup berkedok investasi dengan nama ‘Kunci Sukses Kekayaan’.

Tak seperti biasanya yang selalu keluar atau menolak undangan grup tak dikenal, hari itu Nonik tertarik untuk bergabung dengan grup yang berisikan puluhan anggota yang tak pernah kenal satu sama lain.

Rasa curiga saat awal bergabung sempat menyelimuti Nonik. Ia sempat menanyakan tujuan dari dari undangan grup ini kepada asisten Hengki. Hengki alias HL merupakan otak atau mentor investasi yang diduga ‘bodong’ ini.

“Awalnya kan, ngakunya dari Mirae [Sekuritas]. Terus awal-awalnya tuh, dua bulan pertama itu dia April sampai Mei membahas tentang saham,” jelas Nonik kepada kumparan, Selasa (16/9).

Setiap hari Nonik mempelajari analisis pasar, peluang investasi, hingga rekomendasi saham untuk meningkatkan literasi investasi. Sistem belajar melalui daring serta mengadakan kuis berhadiah setiap pekan.

Tak hanya saham, topik investasi lain yang dibahas seperti emas, obligasi, hingga kripto. Seiring berjalannya waktu, pembahasan Henki merujuk pada kripto. Menurut Hengki, sekitar bulan Juni hingga Agustus pasar saham mengalami guncangan dahsyat.

Hengki selalu menekankan aset kripto merupakan solusi di tengah guncangan pasar saham. Setiap kali memperdagangkan (trading) kripto Hengki selalu menunjukkan imbal hasil yang tinggi.

Bahkan, menurut Nonik, Hengki tak pernah gagal saat trading kripto. Ini lah yang semakin membuat Nonik percaya dengan Hengki untuk terus mengikuti instruksi selanjutnya.

“Pak HL mengatakan bahwa bitcoin merupakan investasi safe haven selain emas,” jelas dia.

Modus Investasi Kripto

Ilustrasi aset kripto. Foto: Shutterstock

Usai Hengki kerap menunjukkan keuntungan selangit dari aset kripto, Nonik semakin yakin dengan proyek investasi di kripto. Pada awal Juni Henki mulai memperkenalkan Bronx sebagai platform investasi kripto (exchange crypto) dari Amerika Serikat (AS).

Menurut pengakuan Hengki, Bronx ini telah mendapat mendapat lisensi dari SEC (lembaga regulator sekuritas dan bursa USA) dan lisensi MSB (Money Services Business), yang dikenal sebagai lembaga perizinan paling ketat di industri finansial.

Setelah saling berinteraksi untuk mempelajari investasi di aset kripto, Hengki kembali mengajak AS untuk bergabung di grup dengan nama ‘Nusantara’. Menurut AS, anggota grup ini sekitar 87 orang.

Namun, untuk bergabung di grup ini, AS diminta untuk berkomitmen memberikan keuntungan 5 persen dari trading untuk mendukung proyek perdagangan kripto melalui sistem Artificial Intelligence (AI) yang digagas oleh Hengki.

Belum selesai, syarat lain untuk bergabung grup ini yaitu harus memiliki dana USD 100.000 atau sekitar Rp 1,6 miliar (kurs Rp 16.440 per Dolar AS diakses pukul 22.44 WIB). AS pun mendaftar grup tersebut.

“Pak HL memberikan iming iming profit bisa mencapai 300 persen -1000 persen,” imbuh AS.

Puluhan Miliar Melayang

Ilustrasi Kripto. Foto: Shutterstock

Setelah dua bulan dicekoki analisis pasar dan trading kripto yang selalu untung, Hengki mulai mengenalkan istilah baru: ICO, Initial Coin Offering.

“Ini seperti IPO di saham, tapi lebih aman. Potensi profit bisa ratusan bahkan ribuan persen tanpa risiko,” kata HL suatu malam di grup.

ICO pertama, koin bernama NOCT, dijual dengan harga USD 1,2 per keping. Nonik tergoda. Hanya lima hari kemudian, 25 Juli, koin itu dilisting di harga USD 7,56. Untung berkali lipat.

Tiga hari berselang, ICO kedua pun muncul. Namanya AGXCE. Harga awal USD 1,8. Nonik menambah dana, berharap hasil serupa. Namuni aneh, hasil diumumkan tanpa harga listing. Malah muncul periode ‘langganan kedua’ dengan harga melonjak USD 8,82.

HL tetap menenangkan. “Ini peluang emas, pasti lebih tinggi saat listing,” kata Hengki.

Kecurigaan Nonik mulai tumbuh. Ia mencoba menarik dana pada 4 Agustus. Namun manajer exchange Bronx menolak. Alasannya, ada 'promo cashback' hingga September. Dana baru bisa ditarik setelah itu.

“Waktu itu saya mulai yakin mereka penipu,” kata Nonik.

Meski begitu, HL tidak berhenti. Pada 11 Agustus, ia meluncurkan ICO ketiga: koin GPCT. Harga awal USD 2,1. Untuk menarik lebih banyak korban, HL menawarkan akses khusus SVIP dengan prioritas alokasi. Anggota grup yang belakangan disadari Nonik hanyalah komplotan.

Mereka pamer bukti transfer miliaran rupiah, bahkan mengaku menjual rumah demi ikut serta.”Menurut saya ini sudah konyol sih,” tegas Nonik.

Tanggal 5 September, koin GPCT dilisting di harga fantastis: USD 86,436. Lagi-lagi HL mengiming-imingi penarikan sebagian dana. Nonik sempat berharap.

Namun harapan itu runtuh pada 8 September. Exchange Bronx mengedarkan surat palsu mengatasnamakan SEC. Dalihnya, akun pengguna Indonesia diblokir karena dugaan pencucian uang. Syarat pencairan: setor 'biaya verifikasi' sebesar 10 persen dari total aset.

HL berpura-pura kaget. Namun ia segera menyarankan anggota untuk membayar agar dana bisa keluar.

“Seperti biasa, komplotannya mengaku sudah setor dan berhasil menarik dana puluhan miliar. Semua rekayasa,” ungkap Nonik.

Di titik itu, Nonik sadar bahwa ia terjebak sindikat penipu yang merancang strategi begitu rapi, dari edukasi gratis hingga jebakan biaya verifikasi.

“Ketika saya sadar ini penipuan, sudah terlambat. Uang saya tidak bisa ditarik lagi. [Kerugian] lebih dari puluhan miliar,” tutupnya.

instagram embed