kumparan
25 Juli 2017 8:52

Kisah Sukses China dalam Reformasi BUMN

Tembok Besar China
Menjadi pemisah China dan Mongol (Foto: nehccire/Thinkstock)
Sebelum reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di China dimulai pada 1990, pertumbuhannya terbatas dan kalah oleh sektor swasta. Namun, saat ini, ada sekitar 150.000 BUMN yang dikendalikan pemerintah China, dan BUMN menyumbang 80 persen kapitalisasi pasar di sektor seperti energi dan industri.
ADVERTISEMENT
Dilansir dari The Economist, Selasa (25/7) IMF memprediksi program ambisius ini bisa meningkatkan ekonomi China hingga 10 persen, atau sekitar 1 triliun dolar AS, dalam 10 tahun ke depan.
Selain itu, sebanyak 200 BUMN China terbesar menyumbang 9 persen dari pendapatan global negara untuk pertambangan batu bara, 6 persen untuk produksi mobil dan 5 persen untuk konstruksi.
Adapun salah satu strategi reformasi yang dilakukan China adalah membuka akses seluas-luasnya untuk pendanaan bagi ekspansi. Lebih dari 50 persen kredit bank dikuasai oleh BUMN. Selain itu, pemerintah China memperbolehkan perusahaan BUMN membagikan saham kepada karyawannya. Hal ini diyakini bisa mendongkrak kinerja karyawan dan perusahaan.
Sebagai contoh, Shanghai International Port Group (SIPG), operator utama pelabuhan kargo Shanghai, pelabuhan tersibuk di dunia. Pada Juni 2015, sebagai langkah awal, mengalokasikan 1,8 persen saham perusahaan kepada karyawan; Sekitar 16.000 dari 22.000 karyawannya.
ADVERTISEMENT
"Pekerja lebih fokus pada pertumbuhan perusahaan (sejak memiliki saham)," jelas Wakil Presiden SIPG, Ding Xiangming.
Strategi lainnya yang tengah dikembangkan menjanjikan adalah "reformasi kepemilikan campuran", yaitu mengizinkan BUMN menjual saham kepada investor swasta. Pemerintah berpendapat bahwa pemegang saham swasta akan menuntut lebih banyak dari BUMN, terutama jika investasinya patungan dan lebih besar. Memang konsep ini tidak tergolong baru, namun hasilnya banyak BUMN besar telah terdaftar di pasar saham sejak awal tahun 2000an, dan berhasil menarik investor dari luar.
Meski demikian, tantangan berat masih menghadang sektor BUMN China ke depan. BUMN China memang menguasai 80 kapitalisasi pasar di sektor seperti energi, industri dan utilitas. Tapi kapitalisasi BUMN masih 40 persen atau kurang dari nilai pasar untuk sektor seperti konsumsi, kesehatan dan IT. Dengan sektor-sektor baru yang tumbuh jauh lebih cepat daripada industri energi, perusahaan swasta mungkin bisa mengancam daya saing BUMN di negeri tirai bambu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan