Bisnis
·
16 Oktober 2020 17:42

Kisah Sukses Kopi Tuku Jualan Kopi Literan saat Pandemi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Sukses Kopi Tuku Jualan Kopi Literan saat Pandemi (10445)
Kedai Kopi Tuku Foto: Akbar Ramadhan/kumparan
Terbatasnya aktivitas masyarakat selama masa pandemi mempengaruhi roda perekonomian. Oleh karena itu, setiap pengusaha saat ini membutuhkan strategi baru untuk beradaptasi dan membangun champion team dalam masa sulit ini.
ADVERTISEMENT
Hal inilah yang juga dilakukan oleh Chief People & Legal Officer MAKA Group Adisti Ikayanti dalam menjalankan salah satu brand unggulan mereka, yaitu Toko Kopi Tuku. Adisti mengatakan di masa pandemi, khususnya saat PSBB lalu, pihaknya mau tak mau harus memperbaharui strategi penjualan.
“Saat awal PSBB, kami berpikir bagaimana Tuku bisa tetap dinikmati orang walaupun banyak keterbatasan akses. Akhirnya kami berinovasi dengan produk dan membuat Tukucur, kopi Tuku dalam kemasan 1 liter, sehingga orang-orang bisa tetap menikmati kopi Tuku tanpa perlu memesan berkali-kali dalam kemasan kecil,” kisah Adisti dalam Top Business Talk #2 Bangun Champion Team Hadapi Resesi, Jumat (16/10).
Meski demikian Adisti mengakui bahwa sejatinya ide Tukucur alias kopi 1 liter tersebut sudah ada sejak sebelum pandemi. Adisti mengatakan inovasi tersebut sejatinya sudah siap untuk diluncurkan, sehingga bukan ide yang serta merta muncul saat pandemi.
Kisah Sukses Kopi Tuku Jualan Kopi Literan saat Pandemi (10446)
Kedai Kopi Tuku Foto: Akbar Ramadhan/kumparan
Hanya saja, ketika pandemi melanda, peluncuran Tukucur ternyata mendapat sambutan hangat. Adisti merasa momentum peluncurnya menjadi jauh lebih tepat. Meskipun, pihaknya juga harus menghadapi tantangan lain. Pandemi membuat Kopi Tuku harus berinovasi dalam cara penjualan yaitu menjajal ecommerce.
ADVERTISEMENT
“Sebelum pandemi (Tukucur) sudah hampir ready to launch. Tapi akhirnya tadi, selalu ada hikmah di balik pandemi. Pandemi ini menjadikan momen launch justru memanfaatkan faktor yang belum pernah kita coba sebelumnya yaitu jualan lewat ecommerce,” ujarnya.
Dalam tahap ini, Adisti mengaku pihaknya harus beradaptasi dengan sistem penjualan baru dan membutuhkan champion team untuk menjalankannya. Karena sebelumnya, tim yang in charge tidak begitu familiar dengan platform e-commerce. Sehingga akhirnya MAKA Group memutuskan melakukan restrukturisasi tim yaitu memindahkan karyawan antar departemen supaya kerjanya lebih efektif.
“Selain itu, kami juga melakukan rekrutmen dibantu oleh TopKarir dalam proses mencari dan mengembangkan talenta kerja. Jadi kami bisa lebih fokus ke pembaruan strategi sementara proses rekrutmen dan development talenta kerja dibantu TopKarir,” tandasnya.
ADVERTISEMENT