KKP & Dedi Mulyadi Bakal Revitalisasi Waduk Cirata
·waktu baca 2 menit

Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono mengungkap hasil produksi ikan budidaya dari Waduk Cirata, Jawa Barat, sudah tidak layak konsumsi. Untuk itu, Kementerian KP akan menggandeng Pemerintah Jawa Barat untuk melakukan revitalisasi.
Menurut Trenggono, kondisi ikan yang tidak layak konsumsi dari keramba di waduk tersebut diakibatkan pencemaran khususnya dari kadar merkuri yang sangat tinggi.
“Pak Dirjen Budidaya itu ingin merilis kondisi yang sesungguhnya. Waduk cirata itu sebenarnya sudah tidak layak dimakan, ikannya itu sudah tidak layak. Karena merkurinya sangat tinggi, keadaan merkurinya sangat tinggi dan itu sangat tidak sehat untuk masyarakat,” kata Trenggono dalam Penandatanganan MoU Perikanan Budidaya Tambak dengan Pemerintah Daerah Jabar di Kantor Kementerian KP, Jakarta Pusat, Rabu (25/6).
Meski demikian, menurut Trenggono penghentian kegiatan produksi ikan dari keramba di waduk tersebut bukanlah solusi. Ia percaya Pemerintah Jawa Barat juga memiliki langkah yang tepat untuk membenahi persoalan tersebut.
“Tapi kalau itu langsung di stop, ribuan keramba di situ, pasti akan demo kepada KKP. Nah ada Pak Gubernur ini, metodenya luar biasa. Membenahi bantaran kali saja beliau luar biasa,” ujarnya.
“Jadi saya yakin Waduk Cirata, kemudian Waduk Purwakarta Jatiluhur pasti selesai dan kita punya keyakinan ini menjadi model sehingga seluruh waduk dan seluruh danau di seluruh Indonesia bisa kita jaga kelestariannya,” lanjutnya.
Terkait upaya revitalisasi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga ingin menggandeng Kementerian KP untuk melakukan revitalisasi keramba tak hanya di Waduk Cirata namun para beberapa keramba di waduk lainnya di Jawa Barat.
“Nanti saya mengajak pada bersama-sama dengan Pak Menteri (KP) satu, membenahi keramba di Jatiluhur, Cirata, dan Saguling,” kata Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi ada beberapa hal yang perlu direvitalisasi pada keramba di beberapa waduk tersebut adalah persoalan eceng gondok dan limbah dari peternakan yang mengakibatkan munculnya zat merkuri.
“Membenahi eceng gondok yang sudah tingkatnya mencemaskan mencemari lingkungan sehingga tidak terjadi sedimentasi dan pencemaran merkuri yang tumbuh akibat peternakan yang terlalu berlebihan,” ujarnya.
