Kumparan Logo

KKP: Peluang Ikan Patin RI di Pasar Internasional Cukup Besar

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ikan Patin (Foto: bibitikan.net)
zoom-in-whitePerbesar
Ikan Patin (Foto: bibitikan.net)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mendorong produk perikanan budi daya khususnya ikan patin agar dapat merebut pasar domestik dan internasional. Hal ini menyusul adanya kebijakan KKP yang melarang impor ikan patin dari negara lain.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing KKP, Nilanto Perbowo, mengatakan peluang patin di pasar domestik cukup besar. Apalagi KKP akan memberlakukan syarat keamanan melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produksi ikan patin.

"Pasca penerapan kebijakan proteksi impor patin, geliat industri patin Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan," kata Nilanto saat membuka investment forum di Gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta, Rabu (11/4).

Nilanto menuturkan, tahun ini KKP menargetkan produksi ikan patin mencapai 604.587 ton. Angka ini naik 38% dibandingkan tahun 2016 yang hanya 437.111 ton per tahunnya.

Sementara untuk permintaan pasar domestik, angka konsumsi ikan patin per kapita cenderung meningkat setiap tahunnya yakni mencapai 21,9% terhitung dari tahun 2014 hingga 2017 dengan preferensi produk yang dikonsumsi ikan segar sebanyak 76%, ikan asing diawetkan 15%.

"Agenda ini adalah sebuah momentum, semua pihak yang hadir, dari unsur pemerintah, pelaku usaha patin, budidaya, perbankan, Perguruan Tinggi, BUMN, seluruh perusahaan, maupun pendatang baru yang hadir, bahwa patin asli indonesia harus memberikan kontribusi lebih baik terutama untuk pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Pemerintah, kata Nilanto, tengah serius menggarap potensi perikanan budi daya di Indonesia. Bahkan, produksi ikan patin lokal pun sudah dipasarkan di pasar global. Nilanto menyebutkan, peluang ikan patin di pasar internasional cukup besar lantaran tren kebutuhan ikan patin di beberapa negara mengalami kenaikan.

Impor patin China tumbuh pesat hingga mencapai 34.400 ton per tahun. Angka tersebut disusul Thailand yang mencapai 19.200 ton per tahunnya. Di Amerika Latin, impor ikan patin juga menunjukkan kenaikan hingga 12,3%.

"Meningkatnya kebutuhan patin di beberapa negara tersebut, merupakan kesadaran masyarakat dalam memenuhi gizi dan protein. Ini juga dapat dijadikan peluang bagi Indonesia, untuk menduniakan patin lokal," ujarnya.

Sementara itu, tren ekspor patin Indonesia didominasi ke Thailand dengan persentase 44%, yang diikuti Jepang 15% dan Myanmar 14%.