Kumparan Logo

KLHK Dorong Pertambangan Emas Skala Kecil Tak Lagi Gunakan Bahan Merkuri

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penambang emas di Gunung Botak, Maluku. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penambang emas di Gunung Botak, Maluku. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Penggunaan bahan merkuri pada pertambangan emas skala kecil (PESK) dapat sebabkan dampak buruk bagi lingkungan maupun kesehatan. Untuk itu, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan KLHK terus melakukan upaya untuk menghapuskan penggunaan merkuri pada proses penambangan emas di PESK.

Rosa menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 21 tahun 2019, penghapusan penggunaan merkuri untuk proses penambangan emas ditargetkan pada tahun 2025.

“Dan progresnya kami tidak bisa sendirian, kementerian dan lembaga terkait tidak bisa sendirian, harus bekerja sama dengan Pemda, sehingga Pemda sesuai Perpres tersebut diperintahkan membuat rencana aksi pengurangan dan penghapusan merkuri,” ujarnya saat webinar bertajuk Menuju PESK Bebas Merkuri, Selasa (8/2).

Adapun sebagai solusinya, Rosa mengatakan bahwa telah menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk membuat teknologi pertambangan emas tanpa menggunakan bahan merkuri.

Sementara itu, Plt Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi BRIN, Dadan M. Nurjaman, menjelaskan teknologi tersebut menggunakan bahan sianida sebagai pengganti dari merkuri. Melaui teknologi pelindian (leaching) sianidasi tersebut, Dadan mengatakan produktivitas tambang emas akan meningkat dibanding menggunakan merkuri.

“Pengelolaan dengan merkuri recovery-nya di bawah 50 persen. Jadi ada konsentrasi emas 20 ppm, kalau dengan merkuri di bawah 10 gram emas diperoleh. Tapi dengan teknologi pelindian sianidasi ini recovery di atas 90 persen, dari 20 ppm tadi bisa diperoleh 18 gram emas,” jelasnya.

Lebih lanjut lagi, Dadan menjelaskan untuk penerapan teknologi PESK non merkuri tersebut perlu ada biaya produksi tambahan sebesar 30 persen.

“Dari sisi perolehan jauh lebih produktif. Walaupun perlu investasi dengan peralatan tambahan, tapi itu bisa dikonversi dari perolehan penjualan emas yang lebih besar lagi, di samping lebih ramah lingkungan,” ujarnya.