Komisi IX DPR: Kita Harus Akui Pemerintah Gagap Tangani Virus Corona

Komisi IX DPR menganggap pemerintah tidak maksimal dalam menghadapi serangan virus corona yang semakin menggila.
Wakil Ketua Komisi IX Nihayatul Wafiroh merasa, sejauh ini pemerintah kurang siap bertindak baik saat virus tersebut belum datang, sampai menjangkit masyarakat Indonesia.
“Kita mau tidak mau harus mengakui pemerintah gagap dalam menangani (virus corona),” kata Nihayatul saat diskusi di HIPMI yang dipantau melalui sosial media, Jumat (20/3).
Nihayatul mengatakan, kegagapan pemerintah juga ditambah dengan ego sektoral masing-masing lembaga yang menanganinya. Ia mencontohkan, sebelum Satgas dibentuk, masing-masing pihak mulai dari Kemenkes sampai KSP berupaya menjadi pemimpin dalam penanganan virus corona.
“Lalu keluar keputusan presiden itu dihandle BNPB dan saya tahu betul BNPB tak punya keahlian dalam kesehatan, fokusnya (BNPB) adalah banjir. Nah ini yang menjadikan kita di DPR selama ini kaget juga BNPB jadi leading sektornya,” ujar Nihayatul.
Selain itu, Nihayatul menyoroti kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam menerapkan Work From Home (WFH) dan sekolah dari rumah untuk mencegah penyebaran virus. Menurutnya, kebijakan tersebut juga kurang maksimal karena tidak ada keterangan lanjutan kepada masyarakat.
“Sekolah diliburkan 14 hari tanpa diberikan semacam pendidikan, sosialisasi ke wali murid kenapa 14 hari, kenapa diliburkan. Dan juga mal tetap buka, tempat nongkrong tetap buka. Akhirnya yang ada bukan Work From Home tapi jadi bener-bener liburan,” ungkap Nihayatul.
Untuk itu, Nihayatul menyarankan agar pemerintah memberikan penjelasan yang detail kepada masyarakat mengenai penanganan virus corona. Hal itu, kata Nihayatul, penting dilakukan agar masyarakat tidak panik dengan kondisi yang sedang terjadi.
“Paling penting sosialisasi. Kegaduhan masyarakat karena tak tahu mereka mau apa, caranya seperti apa. Saya contohkan Korsel tiap 2 jam sekali ada sms blast yang menerangkan (penanganan corona),” terang Nihayatul.
“Harusnya dari awal Indonesia di sms blast ada keluhan ini, apa yang dilakukan. Nah ini hanya jaga jarak, jangan keluar, jangan datang ke kerumunan, tapi enggak ada kalau saya merasa sakit saya ke mana,” tambahnya.
