Komisi VI DPR Kritik Rencana Ekspor Listrik: Lucu, Di Sini Sering Mati

20 September 2023 17:08 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDIP, Mufti Anam. Foto: YouTube Komisi VI DPR RI
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDIP, Mufti Anam. Foto: YouTube Komisi VI DPR RI
ADVERTISEMENT
Rencana pemerintah untuk ekspor listrik rendah karbon mendapat kritik dari Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDIP, Mufti Anam. Rencananya, pemerintah mulai tahun 2026-2027 akan mengekspor listrik rendah karbon ke Singapura sebesar 2 Gigawatt.
ADVERTISEMENT
Kritik tersebut didasarkan pada tata kelola listrik dalam negeri belum optimal, dia mencontohkan kasus pemadaman listrik di wilayah Jawa Timur.
"Soal rencana ekspor listrik ke Singapura, itu perlu dipertimbangkan. Kalau memang surplus boleh, tapi di dalam negeri tata kelola diperbaiki dulu," kata Anam saat RDP Komisi VI dengan Dirut PLN, Rabu (20/9).
Dia mencontohkan tata kelola listrik di Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, di mana di sana sering terjadi pemadaman listrik dan membuat warga di sana sulit dihubungi. Padahal lokasi kecamatan ini hanya berjarak 1 jam perjalanan dengan PLTU Paiton.
"Kita berpikir ekspor, tapi di dalam negeri listrik di mana-mana mati kan lucu juga," tegasnya.
Ilustrasi gardu listrik PLN. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Demokrat, Muslim, juga menyoroti persoalan pemadaman listrik meskipun saat ini PLN sedang oversupply listrik. Bahkan di Sabang, kendala listrik menjadi pengganjal investasi masuk ke sana.
ADVERTISEMENT
"PLN kalau kita lihat hari ini oversupply, tapi ada di sisi lain beberapa daerah sulit juga. Contoh Sabang, ini memang, boleh dicek, itu jadi kendala investasi berkaitan dengan listrik. Padahal di sana ada sumber energi. Mudah-mudahan PLN bisa memberi solusi, sehingga investasi tak terganggu," kata dia.
Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi, Rachmat Kaimuddin, mengatakan keran ekspor listrik 2 GW ke Singapura akan dimulai antara 2026 atau 2027 mendatang. Rachmat menekankan, keran impor Singapura di Indonesia ini merupakan investasi dengan nilai besar yang diberikan kepada developer dan pabrikan.
"Untuk tahunnya, itu bisa jadi pada saat mulai mungkin pada saat 2026-2027 ya mulainya. Jadi ini mungkin kabar baiknya juga karena ini akan ada investasi yang jumlahnya besar ke developer dan tentunya juga pabrikan," kata Rachmat saat ditemui usai acara Indonesia Sustainability Forum, Jumat (8/9).
ADVERTISEMENT
Ada 5 perusahaan Indonesia yang telah mengajukan proposal penyediaan listrik rendah karbon ke Singapura, yakni Konsorsium Pacific Medco Solar Energy Medco Power with Consortium partners, PacificLight Power Pte Ltd (PLP) and Gallant Venture Ltd, a Salim Group company, Adaro Green, dan TBS Energi Utama.
Namun, Rachmat menekankan impor listrik rendah karbon ini juga akan melibatkan PLN sebagai perusahaan BUMN. "Kita tentu libatkan PLN, sudah ada diskusi nanti akan dilaporkan kalau sudah clear. Pasti akan dilibatkan dalam hal ini," ungkap Rachmat.