kumparan
search-gray
Bisnis10 Maret 2020 10:53

Kondisi Ekonomi RI: Stagnan, Dipukul Perang Dagang, Dihantam Virus Corona

Konten Redaksi kumparan
Bongkar muat peti kemas di Tanjung Priok
Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Virus corona menambah tekanan bagi kondisi ekonomi Indonesia yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Masalah domestik dengan neraca transaksi berjalan yang selalu defisit, ditambah hantaman kondisi ekonomi global.
ADVERTISEMENT
Tekanan terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut. Paket kebijakan ekonomi hingga stimulus terbaru terus dikeluarkan pemerintah untuk mengerek ekonomi nasional.
Berikut beberapa masalah yang terjadi pada perekonomian Indonesia:
Pertumbuhan Ekonomi Stagnan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2015 tak pernah bisa beranjak dari 5 persen. Angka ini jauh dari target pemerintahan Joko Widodo di lima tahun pemerintahannya.
Sementara pada 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia mentok di angka 5,02 persen. Kondisi perang dagang dan gejolak ekonomi global menjadi pemicunya. Ekonomi dalam negeri sebagian besar hanya bersandar pada konsumsi rumah tangga.
Perang Dagang
Perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah berdampak pada berbagai negara, termasuk Indonesia. Ekspor Indonesia cukup tertekan karena negara-negara mitra utama akan mengurangi produksi.
ADVERTISEMENT
Selain itu, perang dagang juga membuat negara lain menyasar Indonesia melakukan impor sejumlah barang yang sebelumnya dikirim ke AS atau China. Hal itu memanfaatkan keterbukaan perekonomian Indonesia.
Pada 2019, neraca perdagangan defisit sebesar USD 3,2 miliar sepanjang Januari-Desember 2019. Memang lebih baik dari 2018, hanya saja tak hanya impor yang menurun, ekspor turunnya lebih tajam.
Namun, jika dilihat angka nilai ekspor tahun lalu dibandingkan 2018 menurun cukup tajam. Pada 2018, nilai ekspor mencapai USD 180 juta. Sedangkan pada tahun 2019 hanya USD 167,5 juta.
Impor juga menurun. Pada tahun 2018 nilai impor mencapai USD 188,7 juta. Sedangkan pada 2019 nilai impor secara keseluruhan USD 170,7 USD.
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai virus corona
Sejumlah penumpang pesawat mengenakan masker di area Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (31/1/2020). Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Hantaman Virus Corona
Virus Corona yang diketahui pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada pertengahan Januari 2020, secara cepat langsung membuat badai ekonomi dunia.
ADVERTISEMENT
Paling terasa adalah di sektor pariwisata. Jumlah wisatawan diperkirakan anjlok. Turis asal China yang merupakan pelancong paling banyak ke Indonesia jumlahnya diperkirakan menurun.
Catatan BPS, jumlah turis China ke Indonesia pada Januari 2020 memang masih positif, mencapai 181.281 kunjungan atau tumbuh 17,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, saat itu penerbangan dari dan menuju China belum ditutup. Dampak paling terasa diprediksi akan mulai terasa pada Februari 2020, setelah seluruh penerbangan dari dan menuju China ditutup. BPS belum mengumumkan data tersebut.
Tak hanya pariwisata, bursa saham juga terdampak akibat virus corona. Investor khawatir dan terjadi aksi panic selling. Kemarin, IHSG terperosok 361,731 poin (6,58 persen) ke 5.136,809.
Sejak awal tahun 2020, IHSG turun 18,46 persen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan semua emiten atau perusahaan publik melakukan pembelian kembali (buyback) saham.
Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Perang Dagang Minyak
ADVERTISEMENT
Anjloknya harga minyak dunia hingga 20 persen turut mempengaruhi kondisi ekonomi global, termasuk Indonesia. Kemarin, IHSG ditutup anjlok 6,58 persen yang salah satunya dipicu harga minyak.
Bahkan perdagangan di bursa Wall Street dihentikan sementara, hanya 4 menit setelah pembukaan Senin (9/3) waktu Amerika Serikat (AS). Pemicunya sejumlah indeks anjlok cukup dalam.
Kondisi di bursa komoditas juga tidak lebih baik. Pasar berjangka bursa utama AS tergelincir karena investor dicekam kekhawatiran pelemahan ekonomi dunia. Pemicunya adalah perang harga minyak di tengah penyebaran virus corona.
Pemicunya gara-gara produsen minyak tidak akan memangkas produksi, sedangkan permintaan menurun. Awalnya Rusia yang menolak penurunan produksi. Kemudian Arab Saudi melakukan langkah serupa.
Padahal sebelumnya Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mendorong penurunan produksi untuk tetap mempertahankan harga minyak di level yang cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari Reuters, Arab Saudi justru akan meningkatkan produksi minyak mentah mulai bulan depan. Saudi Aramco, akan meningkatkan produksi minyak mentahnya secara signifikan di atas 10 juta barel per hari (bph) pada April.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white