Konflik di Timur Tengah Memanas Lagi, China Borong Minyak Rusia

Importir minyak China mempercepat pembelian minyak mentah ESPO dari Rusia di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg pada Sabtu (25/7), berdasarkan keterangan sejumlah pelaku pasar, seluruh kargo minyak ESPO untuk pengiriman Agustus dari Terminal Kozmino di pesisir Pasifik Rusia telah habis terjual.
Bahkan, beberapa kargo untuk pengiriman September juga sudah berpindah tangan. Para pedagang menyebut laju transaksi jauh lebih cepat dibandingkan pola perdagangan normal.
Tingginya permintaan membuat harga minyak ESPO menguat, dengan diskon terhadap kontrak ICE Brent menipis menjadi sekitar USD 1 per barel, dari sebelumnya USD 3 hingga USD 4 per barel sekitar 2 pekan lalu.
Secara umum, minyak ESPO biasanya diperdagangkan mendekati jadwal pengiriman karena waktu pelayaran dari Terminal Kozmino ke China hanya sekitar 1 pekan.
Namun, kondisi tersebut berubah seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia akibat konflik di Timur Tengah.
Analis Utama Pasar China di Vortexa Ltd., Emma Li, mengatakan perusahaan-perusahaan minyak besar China mulai agresif mengamankan pasokan sejak Juli 2026.
"Perusahaan minyak besar China yang dipimpin Unipec telah memborong minyak ESPO Rusia sejak Juli, sementara gangguan terbaru di Timur Tengah semakin mempercepat pembelian untuk pengiriman Agustus dan September," ujar Emma Li.
Lonjakan pembelian mulai meningkatkan volume ekspor minyak Rusia ke China. Berdasarkan data perusahaan intelijen pasar Kpler, impor minyak Rusia melalui jalur laut diperkirakan mencapai level tertinggi sejak Maret, ketika konflik di Timur Tengah pertama kali mengganggu pasokan minyak kawasan itu.
Sepanjang Juli, China telah mengimpor minyak mentah dari Rusia sekitar 1,4 juta barel per hari
Meski kualitas ESPO tak sepenuhnya sama dengan minyak mentah asal Timur Tengah, jenis minyak ringan dengan kadar sulfur rendah itu tetap diminati kilang-kilang di China karena harganya yang lebih murah dan mampu menghasilkan lebih banyak solar (diesel).
Kondisi tersebut bahkan mendorong sejumlah perusahaan pengolahan minyak menjual kembali sebagian pasokan minyak dari Uni Emirat Arab, termasuk jenis Upper Zakum, untuk memperoleh keuntungan jangka pendek.
