Konsumer Emas BCA Syariah Tumbuh 81 Persen hingga Agustus 2026

BCA Syariah mencatat pertumbuhan pembiayaan konsumer sekitar 30 persen secara tahunan hingga Agustus 2026. Dari segmen tersebut, pembiayaan emas menjadi salah satu yang mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni mencapai 81 persen.
Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumen BCA Syariah, Bukit Mas Siahaan, mengatakan tingginya pertumbuhan pembiayaan emas menunjukkan minat masyarakat terhadap emas sebagai pilihan investasi jangka panjang. Menurutnya, permintaan terhadap produk emas juga turut dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas.
“Emas itu kita bisa 81 persen. Kenapa sih kok emas itu menarik ya? Menurut kami ada sesuatu yang menarik buat masyarakat Indonesia untuk memilih investasinya jangka panjangnya,” jelas Bukit dalam Kick Off BCA Syariah Journalist Competition 2026 di BCA Syariah Headquarters, Jakarta Timur, Rabu (30/9).
Selain pembiayaan emas, pembiayaan konsumer BCA Syariah juga mencakup Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).
Bukit menilai masyarakat kini semakin selektif dalam menentukan kebutuhan dan pilihan investasi jangka panjang di tengah daya beli yang masih menghadapi tekanan.
“Maka, masyarakat Indonesia akan tentu lebih lebih selektif dalam memilih kebutuhannya di jangka panjang. Nah, tentunya dengan keuangan syariah ini tadi masyarakat akan terbantu,” lanjut Bukit.
Untuk pembiayaan emas, BCA Syariah menjalankan produk murabahah emas dengan menggandeng tiga pemasok, yakni Antam, Galeri24, dan Hartadinata. Ketiga pemasok tersebut telah memiliki sertifikasi dan menyediakan emas dengan tingkat kemurnian 99,9 persen atau 24 karat.
“Jadi ada kepastian di masa yang sesuai dengan pilihan nasabah normal 1 tahun sampai dengan 5 tahun bahwa nasabah tetap mencicil dengan nominal yang sama ketika ada perubahan harga, harganya naik itu merupakan keuntungan bagi nasabah,” jelas Bukit.
Adapun BCA Syariah mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp 109,4 miliar per Juni 2026. Angka itu naik 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 100,1 miliar.
Berdasarkan paparan BCA Syariah, pendapatan pembiayaan (financing income) naik 16,6 persen dari Rp 439,8 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp 512,9 miliar pada Juni 2026. Sementara itu, pendapatan treasury turun 4,6 persen menjadi Rp 176,6 miliar.
Di sisi lain, cost of fund BCA Syariah meningkat 5,8 persen menjadi Rp 267,3 miliar. Pendorongnya adalah peningkatan outstanding funding, meskipun perseroan berupaya menekan biaya dana.
