Konsumsi Kopi Decaf Meningkat, Korsel Impor 5.387 Ton di Paruh Pertama 2026

Di negara di mana rata-rata setiap orang mengkonsumsi 416 cangkir kopi per tahun, pesanan yang paling cepat pertumbuhannya di kedai kopi justru bukan kopi berkafein, melainkan kopi tanpa kafein atau decaf.
Kopi decaf, yang selama ini kerap dianggap hanya sebagai pilihan alternatif bagi ibu hamil atau orang yang sensitif terhadap kafein, kini menjadi salah satu kategori dengan pertumbuhan tercepat di industri kafe Korea Selatan. Tren ini didorong oleh konsumen yang ingin tetap menikmati secangkir kopi pada malam hari tanpa harus mengalami gangguan tidur.
Data menunjukkan permintaan terus meningkat pesat. Menurut Korea Customs Service, Korea Selatan mengimpor 5.387 ton biji kopi decaf pada paruh pertama tahun ini, naik 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara tahunan, impor kopi decaf untuk pertama kalinya melampaui 10.000 ton pada tahun lalu, tepatnya mencapai 10.040 ton, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 4.755 ton pada 2021.
Sebaliknya, impor biji kopi berkafein justru bergerak ke arah sebaliknya. Setelah mencapai puncak sekitar 195.000 ton pada 2022, volumenya terus menurun hingga menjadi 184.600 ton pada tahun lalu, seperti dikutip dari Korean Herald.
Di balik perubahan ini adalah meningkatnya perhatian masyarakat Korea terhadap kesehatan dan gaya hidup sehat. Alih-alih berhenti minum kopi sepenuhnya, konsumen memilih mengurangi kandungan tertentu, seperti kafein dan gula. Banyak orang kini tetap meminum kopi biasa pada pagi hari, lalu beralih ke kopi decaf pada sore atau malam hari untuk mengurangi asupan kafein.
Jaringan kedai kopi pun berlomba memenuhi permintaan tersebut. Ediya Coffee memungkinkan pelanggan mengganti semua minuman berbasis espresso dengan biji kopi decaf. Perusahaan juga memperluas lini produknya di luar gerai, termasuk kopi stik yang memadukan kopi decaf dengan jelai Italia sangrai, serta latte decaf siap minum yang dijual secara eksklusif melalui kanal daring.
Popularitas kopi decaf juga meluas ke luar menu kopi konvensional. Twosome Place mengombinasikan milk tea rooibos bebas kafein dengan satu shot espresso decaf dalam lini produk milk tea terbarunya. Sementara itu, Compose Coffee pada April lalu meluncurkan kampanye iklan yang dibintangi anggota BTS, V, dengan menggambarkan kopi decaf sebagai minuman yang menemani dua mahasiswa belajar hingga larut malam.
Peningkatan kualitas proses produksi juga membantu menghilangkan citra kopi decaf yang selama ini dianggap memiliki rasa yang hambar.
Produsen kini mulai meninggalkan penggunaan pelarut kimia dan beralih ke metode yang menghilangkan kafein menggunakan air atau karbon dioksida. Cara ini mampu mempertahankan tingkat keasaman dan karakter rasa biji kopi sehingga banyak penikmat kopi tidak lagi dapat membedakan rasa kopi decaf dengan kopi biasa.
Sebagai contoh, Starbucks menghilangkan 99,9 persen kandungan kafein hanya dengan menggunakan karbon dioksida superkritis dan uap air untuk menjaga cita rasa serta aroma kopi. Strategi tersebut membuahkan hasil. Pada tahun lalu, Starbucks menjual 45,5 juta cangkir kopi decaf, meningkat 39 persen dibandingkan 2024. Konsumen berusia 20 hingga 30 tahun menyumbang sekitar 60 persen dari total pembelian. Menu Americano decaf bahkan menjadi minuman terlaris ketiga di jaringan tersebut, sementara porsi penjualan Americano decaf meningkat hampir dua kali lipat, dari 6,6 persen pada 2019 menjadi 13 persen pada tahun lalu.
Pesatnya pertumbuhan pasar kopi decaf juga mendorong pemerintah memperketat regulasi. Saat ini, suatu produk masih dapat diberi label “decaf” apabila setidaknya 90 persen kandungan kafeinnya telah dihilangkan, standar yang lebih longgar dibandingkan standar internasional sebesar 99 persen.
Aturan tersebut akan berubah mulai 1 Januari 2028, ketika standar baru dari Kementerian Keamanan Pangan dan Obat Korea Selatan mulai berlaku. Berdasarkan aturan baru itu, hanya kopi dengan sisa kandungan kafein maksimal 0,1 persen berdasarkan kandungan padatan yang boleh menggunakan label “decaffeinated” atau mengklaim dibuat dari biji kopi decaf.
Profesor ilmu konsumen di Inha University, Lee Eun-hee, mengatakan preferensi terhadap kopi decaf belakangan ini merupakan suatu kelanjutan dari tren personalisasi. Hal tersebut menandakan konsumen menyesuaikan kandungan bahan yang mereka konsumsi dengan kondisi kesehatan dan selera masing-masing.
“Dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan kebugaran, kafein kini menjadi faktor yang sama pentingnya dalam memilih minuman seperti halnya protein atau gula,” ujar profesor ilmu konsumen di Inha University, Lee Eun-hee, profesor ilmu konsumen di Inha University.
