Kumparan Logo

KOTRA Ungkap Tantangan Investor Korsel untuk Masuk Industri Halal di RI

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bendera Korea Selatan. Foto: railway fx/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bendera Korea Selatan. Foto: railway fx/Shutterstock

Industri halal menjadi salah satu hal yang didorong oleh pemerintah Indonesia. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, industri halal menjadi kesempatan ekonomi yang menarik untuk digarap.

Korea Selatan juga tengah berusaha untuk masuk ke industri halal di Indonesia. Korea Trade Investment Promotion Agency (KOTRA) sebagai agensi pemerintah yang membantu perusahaan Korsel untuk berinvestasi di luar negeri, khususnya Indonesia, mengatakan banyak perusahaan yang mulai tertarik untuk memproduksi produk halal.

"Korea tertarik untuk lebih banyak memproduksi barang halal. Kami berusaha untuk masuk ke daerah-daerah yang kami tidak begitu familiar, yang salah satunya adalah industri halal," kata Manager Asia and Africa Research Team KOTRA, Park Joo-ho, kepada wartawan peserta program Indonesia-Korea Journalist Network di Kantor KOTRA, Seoul, Rabu (30/5).

Meski demikian, Park mengakui banyak tantangan yang dihadapi perusahaan Korsel yang ingin berinvestasi produk halal di Indonesia. Apalagi, perusahaan dan masyarakat Korsel pada umumnya masih belum terbiasa atau familiar dengan agama atau budaya Islam.

"Jika saya boleh jujur, masyarakat Korea masih belum familiar dengan muslim. Itu menjadi tantangan kami. Dan untuk memasuki industri halal kami masih dalam tahap awal," ungkapnya.

Kantor Korea Trade Investment Promotion Agency (KOTRA) di Seoul, Korea Selatan. Foto: Nadia Riso/kumparan

Supaya bisa masuk ke dalam industri halal, Park mengatakan KOTRA terus berkomunikasi dengan institusi yang bergerak di industri halal supaya bisa mendapatkan sertifikat halal dan membawa produk halal mereka ke negara yang dituju, termasuk Indonesia.

"Persoalan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan sertifikat halal, saya rasa itu adalah hal yang biasa. Sebagai contoh, kami ingin mengekspor hanwoo (daging sapi premium Korsel) ke Malaysia. Tapi, kami berkomunikasi dengan otoritas di Kuala Lumpur. Kami terus mendekati dan berdiskusi dengan mereka agar produk kami bisa masuk ke sana," tuturnya.

"Tidak hanya dengan Malaysia, namun hal yang sama akan kami lakukan juga dengan Indonesia. Sehingga dengan demikian, kami dapat memasuki industri halal di Indonesia.

Selain industri halal, perusahaan Korsel masih sangat tertarik membawa produk kosmetik mereka masuk pasar Indonesia. Dengan kepopuleran K-Pop hingga K-Drama, masyarakat Indonesia semakin menggemari skincare hingga makeup buatan Korsel.

Namun, Park mengatakan perusahaan kosmetik Korsel membutuhkan waktu 3-12 bulan untuk mendapatkan sertifikat yang menyatakan produk kosmetik bisa dipasarkan di Indonesia.

"Alasan utamanya karena [untuk mendapatkan sertifikat] membutuhkan waktu yang lama. Karena budaya kami adalah ppali ppali [cepat-cepat], jadi kami ingin sertifikat dikeluarkan dengan cepat," pungkasnya.

embed from external kumparan