Kumparan Logo

Kredit Motor Masih Banyak Diminati Warga, Apa Alasannya?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pekerja berjalan di dekat pengendara sepeda motor saat pelaksanaan rekayasa lalu lintas di Gerbang Tol (GT) Fatmawati 2 kawasan Jalan TB Simatupang, Jakarta, Selasa (16/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pekerja berjalan di dekat pengendara sepeda motor saat pelaksanaan rekayasa lalu lintas di Gerbang Tol (GT) Fatmawati 2 kawasan Jalan TB Simatupang, Jakarta, Selasa (16/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

PT Federal International Finance (FIF Group) mencatat jumlah penyaluran kredit motor roda dua mencapai Rp 22,8 triliun sepanjang semester I 2025. Angka itu mendominasi total pembiayaan yang disalurkan FIF Group pada periode tersebut yang totalnya Rp 58,3 triliun.

Capaian itu menunjukkan kredit motor saat ini masih banyak dipilih masyarakat. Direktur FIFGroup Daniel Hartono menuturkan setidaknya ada tiga alasan mengapa sepeda motor lebih digandrungi di Indonesia, utamanya dibeli melalui skema kredit.

“Yang pertama itu untuk pergi ke kerja, jadi sebenarnya satu motor ini buat tujuan produktif, yang kedua adalah untuk nganter ke sekolahan, dan yang ketiga untuk liburan, untuk pergi liburan. Jadi tiga hal ini kita tanya konsumen kita,” ujar Daniel dalam gelaran Astra Media Day di Menara Astra, Selasa (23/9).

Daniel menilai sepeda motor merupakan kendaraan yang cocok untuk semua kalangan. Dia mengakui saat ini daya beli dalam keadaan kurang baik, namun minat kredit ke kendaraan roda dua tidak berkurang drastis.

Daniel melihat di Indonesia masih ada daerah yang belum mempunyai infrastruktur mumpuni untuk mobilitas masyarakat. Dia menyoroti terbatasnya infrastruktur jalan di daerah-daerah tertentu seperti di pelosok-pelosok. Infrastruktur itu setidaknya masih bisa dilewati motor.

“Di sana memang infrastruktur mobilitas itu memang kurang better developed gitu, jadi untuk mendapatkan tiga hal tadi, itu adalah luxury buat mereka untuk mendapatkan akses mobilitas. Jadi itu yang membuat sebenarnya, kenapa permintaan demand itu terus bertumbuh gitu,” jelas Daniel.

Menurutnya, hal tersebut membuat persentase pembiayaan sepeda motor di FIF hampir imbang antara pembiayaan di Jawa dan luar Jawa, yaitu masing-masing 53 persen dan 47 persen. Daniel membeberkan saat ini FIFGroup menargetkan pembiayaan pada 2025 tumbuh 4,7 persen atau di atas Rp 49,6 triliun.

“Di luar pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur, yang memang kalau kita lihat di sana, pertumbuhan ekonomi driven faktornya beda, mereka lebih banyak komunitas, mereka lebih banyak ke tambang, mereka lebih banyak ke perkebunan dan pertanian gitu. Ekonomi driven ini juga kalau kita lihat di sisi pembiayaan motor, ini berbeda,” terang Daniel.