Kumparan Logo

Kurs Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Bahlil Kaji Dampaknya ke Subsidi Energi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di kawasan Kwitang, Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di kawasan Kwitang, Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal menggelar rapat membahas dampak pelemahan kurs rupiah terhadap subsidi energi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah hingga menyentuh level Rp 17.500.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) ESDM Laode Sulaeman mengatakan, rapat tersebut melibatkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama jajaran menteri lain. Kendati begitu, dia tidak menjelaskan kapan rapat tersebut dilaksanakan.

"Itu kebetulan Pak Menteri sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya. Jadi kita tunggu aja," ungkapnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5).

Laode belum bisa memastikan apakah ada kemungkinan perubahan harga BBM bersubsidi dibahas dalam rapat tersebut. Pasalnya, info terakhir pemerintah tidak akan mengubahnya hingga akhir tahun ini.

"Belum ada info-info lain lagi kan, selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti," tegasnya.

Di sisi lain, Laode juga menegaskan bahwa dari sisi pasokan energi saat ini tidak ada masalah, baik itu bensin, solar, maupun LPG, meskipun perang di Timur Tengah masih memanas.

"Saya tiap hari macet di jalan, tapi di negara lain ada yang sudah jalan kaki gitu ya. Artinya di kita masih cukup, cadangan masih tersedia, baik itu untuk BBM, bensin, solar maupun LPG," ungkap Laode.

Pihak Kementerian ESDM, lanjut dia, selalu fokus menjamin ketersediaan bahan bakar setiap harinya agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

"Pak Menteri kan kalau ditanya tuh beliau menceritakan bahwa kita setiap hari itu kadang harus begadang-begadang untuk ngejar stok itu biar sesuai. Itu yang kita lakukan biar masyarakat tetap bisa terlayani," tutur Laode.

Impor Minyak dari Afrika

Laode juga menjelaskan impor minyak mentah dipenuhi dari negara yang tidak melewati Selat Hormuz, utamanya dari negara Afrika seperti Nigeria dan Angola.

Kendati demikian, dia tidak bisa membeberkan berapa besar kenaikan volume impor minyak mentah dari negara-negara tersebut, yang memang sudah berjalan secara business to business (B2B) bahkan sebelum ada eskalasi perang AS-Israel dengan Iran.

"Kita dari Nigeria, negara-negara Afrika seperti itu. Jadi sumber-sumber lain non-Selat Hormuz. Sudah jalan. Kayak contohnya crude sudah dari Nigeria kan ada crude. Saya enggak bicara volume tapi dari sumber-sumber lain kita sudah dapatkan," tutur Laode.

Selain itu, Laode juga menyebutkan rencana impor minyak mentah dari Rusia masih dalam pembahasan, namun kesepakatannya akan berbentuk government to government (G2G).

"Ini juga sedang disiapkan agar kita segera bisa mengimplementasikannya. Ya ini lagi dibahas kan, salah satunya nanti formatnya itu adalah G2G," tuturnya.