Laba AKRA Naik 12,2 Persen ke Rp 1,65 T, Paling Banyak Ditopang Pendapatan JIIPE
·waktu baca 3 menit

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,65 triliun hingga akhir September 2025 atau per kuartal III 2025. Angka ini meningkat 12,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) ) dari semula Rp 1,46 triliun di kuartal III 2024. Kenaikan laba terjadi di tengah tekanan ekonomi global.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (23/10), AKR juga mencatat pendapatan sebesar Rp 32,39 triliun, EBITDA Rp 2,47 triliun, dan laba kotor Rp 2,76 triliun. Sementara laba operasional mencapai Rp 2,05 triliun.
Dari sisi profitabilitas, Return on Equity (ROE) tercatat sebesar 20 persen dan Return on Assets (ROA) di level 7 persen, sementara rasio net gearing -0,08x.
Presiden Direktur AKR Corporindo, Haryanto Adikoesoemo, mengatakan capaian tersebut mencerminkan daya tahan model bisnis AKR di tengah gejolak ekonomi.
“Meskipun menghadapi tantangan ekonomi global sepanjang tahun ini, PT AKR Corporindo Tbk berhasil membukukan kinerja yang solid dengan laba bersih sebesar Rp 1,65 triliun. Stabilitas ini didukung oleh model bisnis AKR yang terbukti tangguh, infrastruktur terintegrasi, diversifikasi strategis, serta disiplin keuangan yang ketat,” ujar Haryanto dalam keterangan resmi, Kamis (23/10).
Katanya, salah satu pendorong utama pertumbuhan laba adalah peningkatan signifikan pendapatan berulang dari kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).
"Pendapatan dari segmen utilitas industri JIIPE tumbuh pesat dibandingkan tahun sebelumnya, membentuk sumber pendapatan berulang baru yang kuat,” lanjutnya.
Dari sisi operasional, segmen Kawasan Industri mencatat pendapatan sebesar Rp 1,26 triliun, ditopang oleh lonjakan pendapatan utilitas yang meningkat 199 persen secara tahunan (YoY) yaitu Rp 526 miliar. Pertumbuhan ini terjadi seiring dengan beroperasinya penyewa utama secara penuh di kawasan JIIPE dan meningkatnya kebutuhan energi serta layanan utilitas lainnya.
Pendapatan dari monetisasi lahan dan sewa kawasan industri juga berjalan stabil, memperkuat kontribusi pendapatan berulang perusahaan. Perseroan mencatat, JIIPE kini menjadi salah satu kawasan industri strategis yang mendukung program hilirisasi nasional di sektor tembaga, kimia, dan energi terbarukan.
Sementara itu, segmen perdagangan dan distribusi tetap menjadi tulang punggung utama bisnis AKR, menyumbang laba bruto Rp 2,06 triliun di tengah volatilitas harga komoditas global.
AKR mencatat total aset sebesar Rp 33,7 triliun dan ekuitas Rp 14,56 triliun per September 2025, debt-to-equity ratio ada di angka 0,03x.
Ke depan, AKR berencana memperkuat ekspansi di segmen perdagangan dan distribusi, terutama di kawasan Indonesia Timur, serta mengembangkan jaringan Business-to-Consumer (B2C) melalui kemitraan strategis.
Haryanto optimistis semakin kuatnya iklim investasi di Indonesia, penjualan lahan di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE akan meningkat, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan pendapatan utilitas berulang.
“Ke depan, AKR akan memperkuat fokus pada optimalisasi segmen perdagangan dan distribusi. Prioritas utama meliputi ekspansi ke wilayah Indonesia Timur serta penguatan jaringan B2C,” ujar Haryanto.
