Laba Bersih Barito Pacific Sentuh USD 1,819 Juta per September 2025
·waktu baca 3 menit

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membukukan laba bersih setelah pajak mencapai USD 1,819 juta atau sekitar Rp 30,3 triliun (kurs Rp 16.631 per Dolar AS) sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Laba ini melonjak 2.882 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 61 juta.
Lonjakan laba ini didorong oleh efek positif akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (ACE), efisiensi operasional, dan pengakuan akuntansi bargain purchase.
Direktur Utama Barito Pacific, Agus Pangestu, menilai kinerja tersebut menjadi bukti keberhasilan transformasi dan strategi ekspansi perseroan. Ia mengatakan capaian itu mencerminkan komitmen BRPT terhadap keunggulan operasional, optimalisasi portofolio, serta pengelolaan modal yang disiplin.
Agus mengungkapkan pertumbuhan ini memperkuat keyakinan perusahaan terhadap prospek jangka panjang.
"Pendapatan mencapai USD 5,564 juta, meningkat signifikan sebesar 232 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara laba bersih setelah pajak melonjak menjadi USD 1,819 juta menunjukkan peningkatan skala dan keunggulan operasional kami," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (31/10).
Pendapatan konsolidasi Barito Pacific selama Januari-September 2025 mencapai USD 5,564 juta atau sekitar Rp 92,5 triliun, melonjak 231,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 1,677 juta.
Dari total pendapatan, segmen petrokimia memberikan kontribusi terbesar yakni USD 5,102 juta sekitar Rp 84,9 triliun, melonjak 314 persen dari tahun sebelumnya. Segmen energi menyumbang USD 457 juta atau Rp 7,6 triliun naik 3,6 persen, sedangkan segmen lain stabil di USD 4 juta atau sekitar Rp 66,5 miliar.
EBITDA konsolidasi naik 421 persen menjadi USD 2,219 juta, dengan margin EBITDA meningkat dari 25,4 persen menjadi 39,9 persen.
Per September 2025, total aset Barito Pacific meningkat menjadi USD 16,011 juta sekitar p 266,4 triliun, naik 52 persen dari posisi akhir 2024. Total liabilitas mencapai USD 9,637 juta atau Rp 160,3 triliun, sementara ekuitas naik menjadi USD 6,374 juta atau Rp 106 triliun.
Rasio utang bersih terhadap ekuitas membaik dari 0,72 kali menjadi 0,54 kali.
Selain sektor kimia dan energi, Barito Pacific juga mencatat kemajuan di berbagai lini bisnis. Melalui Chandra Asri Group (CAP), perseroan memperluas kehadiran regional dengan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso milik ExxonMobil di Singapura. Di sektor kimia, pembangunan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon telah mencapai 33 persen penyelesaian.
Sementara itu, Barito Renewables terus menyelesaikan proyek retrofit dan Binary Salak (24,3 MW), menuju target kapasitas 2,3 GW pada 2032.
"Kami akan terus memperkuat bisnis melalui ekspansi strategis, menjaga disiplin pengelolaan modal, serta melakukan daur ulang modal untuk membuka peluang baru. Dipandu oleh visi jangka panjang kami, kami yakin bahwa upaya-upaya ini tidak hanya akan menjaga momentum pertumbuhan, tetapi juga menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham," tutur Agus.
