Kumparan Logo

Laba BFI Finance Stagnan Rp 1,09 Triliun di Kuartal III 2019

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung BFI Finance. Foto: Dok. BFI Finance
zoom-in-whitePerbesar
Gedung BFI Finance. Foto: Dok. BFI Finance

Pertumbuhan laba bersih PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) stagnan. Hingga akhir kuartal III 2019, perusahaan pembiayaan ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,09 triliun atau sama dengan realisasi tahun lalu.

Meski laba bersih stagnan, pendapatan perusahaan hingga akhir kuartal III 2019 sebesar Rp 2,97 triliun atau naik 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp 2,88 triliun.

Direktur Keuangan dan Corporate Secretary BFI Finance, Sudjono mengatakan, peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh keberhasilan perseroan mengelola bisnis secara efektif dan efisien. Selain itu juga dengan menekan biaya kredit (cost of credit) menjadi 1,83 persen.

“Laba bersih masih positif Rp 1,09 triliun. Kami berhasil menjaga pendapatan perusahaan tetap tumbuh. Salah satunya, kami berhasil menekan biaya kredit (cost of credit) menjadi 1,83 persen,” kata Sudjono dalam keterangan resmi, Senin (28/10).

Untuk pembiayaan baru hingga Juli 2019 sebesar Rp 4,18 triliun. Dari jumlah tersebut, komposisi pembiayaan BFI Finance berasal dari pembiayaan mobil sebesar 67 persen, motor sebesar 17 persen, alat berat dan mesin 14 persen, dan sisanya diikuti oleh pembiayaan properti, syariah, dan pembiayaan lainnya.

Ilustrasi uang rupiah Foto: Maciej Matlak/Shutterstock

Dari sisi jaringan, sampai dengan kuartal III 2019, BFI Finance telah berhasil menambah 12 outlet, dari sebelumnya 389 outlet pada periode yang sama tahun lalu menjadi 401 outlet. Dari total outlet tersebut, 45 di antaranya melayani pembiayaan syariah.

Sepanjang tahun ini, pertumbuhan industri pembiayaan secara umum hanya bertumbuh di kisaran 3 persen, masih di bawah target yang ditetapkan otoritas sebesar 6 persen.

Menurut Sudjono, industri pembiayaan tertekan karena melambatnya perilaku konsumen dan daya beli masyarakat. Selain itu, masih stagnan industri multifinance ini juga disebabkan oleh turunnya harga komoditas global.

“Khusus pembiayaan kendaraan bermotor (KKB) memang tengah melambat, karena terjadi perubahan perilaku konsumen dan daya beli masyarakat yang menurun. Pembiayaan di sektor modal kerja dan investasi yang paling banyak mengalami pelemahan akibat turunnya harga komoditas,” tambahnya.