Laris Bisnis Sewa Hunian saat KPR Pinggiran Jakarta Kian Mahal
·waktu baca 4 menit

Pekerja muda di Jakarta dihadapkan pada sederet dilema mendapatkan hunian, utamanya antara pertimbangan harga dan jauh dekatnya dengan tempat bekerja.
Hunian di kawasan Jakarta terkenal dengan harganya yang tidak ramah di kantong pekerja dengan gaji pas-pasan atau sedikit di atas Upah Minimum Provinsi (UMP). Pada akhirnya, mereka harus melipir ke kota-kota penyangga atau memilih mengontrak/sewa rumah atau apartemen.
Chief Executive Officer Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, mengungkapkan daya beli masyarakat Jakarta terus menurun, sebab hunian di bawah Rp 500 juta semakin sulit ditemukan.
“Untuk membeli rumah misalkan seharga Rp 500 jutaan sudah tidak ada lagi di Jakarta, kalaupun ada kondisinya bangunan dan lokasinya mungkin berada di jalan kecil,” ungkap Ali.
Ali menuturkan, salah satu jalan bagi pekerja jika masih ingin bertempat tinggal di kota metropolitan sehingga dekat dengan tempat bekerjanya, adalah dengan menyewa rumah atau apartemen.
Kondisi ini menyebabkan permintaan sewa hunian, baik itu kontrakan rumah maupun apartemen, melejit. Dalam laporan Pinhome Home Rental Index & Pinhome Home Value Index kuartal I 2024, permintaan sewa rumah meningkat sebesar 55 persen pada kuartal I tahun 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Kota Depok, Kota Jakarta Selatan, dan Kota Bandung.
Tingginya tingkat suku bunga pinjaman dalam pembelian rumah disinyalir menjadi penyebab sewa menjadi pilihan praktis dan ekonomis untuk memiliki hunian bagi mereka yang belum siap secara finansial untuk beli rumah.
Pinhome mencatat ketika suku bunga acuan BI mulai menembus level 6 persen pada Oktober 2023, permintaan sewa rumah mengalami peningkatan 88 persen secara kuartalan di kuartal IV tahun 2023.
Bahkan, permintaan rumah sewa diperkirakan akan terus meningkat pada kuartal II tahun 2024. Kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 6,25 persen per April 2024 pada awal kuartal II tahun 2024 membuat menyewa rumah akan semakin menjadi pilihan bagi konsumen.
Di sisi lain, tren harga sewa ternyata menurun di kuartal I 2024. Menurut Pinhome, kota-kota penyangga di sekitar Jakarta umumnya mengalami penurunan harga sewa tahunan secara kuartalan. Penurunan tertinggi terjadi di Kota Tangerang, Kota Bogor, dan Kabupaten Bekasi, masing-masing dengan perubahan harga sebesar -18 persen, -14 persen, dan -10 persen.
Ali berpendapat naiknya tren sewa rumah disebabkan karakter pasar yang tidak pas (mismatch) antara kebutuhan dan pasokan hunian, sehingga konsumen tidak dapat membeli hunian yang dekat dengan tempat kerjanya.
“Karenanya mereka terpaksa memilih untuk menyewa karena daya beli juga mungkin terkendala,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Joko Suranto memaparkan beberapa indikasi yang menyebabkan tren sewa hunian meningkat. Pertama, para pekerja belum memastikan apakah akan menetap lama atau berpotensi pindah dari suatu wilayah.
Kemungkinan kedua, lanjut Joko, para pekerja masih menghitung atau menabung dahulu untuk uang muka (down payment) pembelian rumah atau pengajuan KPR, atau masih mengkaji lokasi rumah yang strategis.
“Ketiga, mungkin yang mereka belum bisa melakukan pembelian, jadi belum bisa menabung tapi juga belum pasti tadi, sehingga mereka harus tetap bekerja dan mengefektifkan jaraknya dan sebagainya maka mereka menyewa,” jelasnya.
Dampak Lain Kenaikan Suku Bunga
Pinhome juga menyoroti kenaikan suku bunga acuan BI di April 2024 menjadi 6,25 persen diprediksi membuat permintaan KPR menurun pada kuartal II 2024.
Sebelumnya, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di 6 persen pada kuartal III dan IV tahun 2023 sempat mendorong pertumbuhan 36 persen untuk KPR rumah seken dan 55 persen untuk sewa rumah di kuartal I 2024 dibandingkan periode sama tahun lalu.
Pinhome juga menyoroti properti residensial di pasar sekunder alias rumah seken juga mengalami penurunan harga di kuartal I 2024 di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jabodetabek, imbas kenaikan suku bunga.
“Hal ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga KPR dan pergeseran preferensi pembeli ke rumah dengan harga lebih terjangkau,” jelas CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata.
Dayu menekankan, penting untuk dicatat bahwa penurunan harga jual tidak selalu berarti penurunan minat terhadap properti di Jakarta. Sebagian calon pembeli mungkin memilih untuk menunda keputusan pembelian dan beralih ke opsi sewa karena kenaikan suku bunga KPR.
