Kumparan Logo

Layani Transportasi Antarpulau, PTDI Rancang Pesawat N219 Tipe Amfibi

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prototipe Pesawat N219 buatan PTDI Persero dipamerkan di Indo Defence 2018 Ekspo & Forum di Jakarta Expo Internasional Kemayoran. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Prototipe Pesawat N219 buatan PTDI Persero dipamerkan di Indo Defence 2018 Ekspo & Forum di Jakarta Expo Internasional Kemayoran. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)

PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) tengah mengembangkan pesawat N219 tipe amfibi. Pesawat N219 varian amfibi bisa mendarat di perairan dan mampu meningkatkan konektivitas di daerah terpencil 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal).

Corporate Business Development PTDI R Krisnan mengatakan sebetulnya pesawat N219 varian amfibi tak jauh beda dari standar yang telah lebih dulu diciptakan.

"Ringkasnya pesawat N219 Ini tinggal dikasih float (agar bisa mengambang di permukaan air) saja sudah bisa jadi pesawat amfibi," kata Krisnan kepada kepada kumparan sambil menunjuk salah satu prototipe pesawat N219 yang dipamerkan di Indo Defence 2018 Ekspo & Forum, di Jakarta Expo Internasional, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (7/11) .

Krisnan melanjutkan, kebutuhan akan pesawat yang amfibi memang tak terelakkan. Apalagi di wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan.

"Amfibi ini sangat penting apabila antarpulau ini sulit dijangkau untuk moda laut sekalipun karena banyak ombak yang besar sehingga sulit dijangkau kapal-kapal motor," kata dia.

Kegunaan pesawat amfibi bisa mencakup banyak hal, mulai dari mengangkut penumpang dan barang, penerbangan turis, hingga evakuasi penanggulangan bencana.

Penamaan Pesawat N219 buatan PT Dirgantara (Foto: ANTARA/Rosa Panggabean)
zoom-in-whitePerbesar
Penamaan Pesawat N219 buatan PT Dirgantara (Foto: ANTARA/Rosa Panggabean)

Dibandingkan pesawat sejenis buatan yang lain, pesawat N219 PTDI ini mampu membawa beban hingga 2,3 ton dan memiliki kecepatan 210 knot (1 knot setara 1,856 km/jam).

"Pesawat ini memiliki rate of line yang tinggi, jadi bisa cepat menanjak, jadi kalau di Papua itu banyak bukit jadi bisa menanjak. Konfigurasi yang memudahkan penggunaan kargo dan penumpang, bisa dilipat di dinding maka space-nya bisa digunakan untuk mengangkut barang-barang atau sebagian-sebagian," tegasnya.

Hingga saat ini, Krisnan membeberkan pesawat amfibi N219 masih dalam tahap kajian awal. Adapun tahapan proses yang mesti dilalui hingga bisa mendapatkan sertifikasi untuk dipasarkan adalah perlu melalui preliminary design, detail design, pembuatan prototipe, kemudian pembuatan produk selesai lantas kemudian testing dan pengujian jam terbang.

"Amfibi itu kira-kira diperlukan 4 tahun lagi. Karena banyak sekali yang harus diperhatikan karena kita belum tahu bakal dilakukan testingnya di mana," tambahnya.

Jika seluruh proses itu berhasil, pesawat PTDI itu direncanakan bakal digunakan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan domestik utamanya di daerah 3T, sebelum akhirnya dipasarkan ke luar negeri.

"Tentunya untuk ekspor mereka yang memerlukan dioperasikan di wilayah perairan, seperti Filipina yang karakteristiknya sama kayak kita di kepulauan. Kemudian di Maldives itu juga menggunakan pesawat amfibi, di Pasifik ada negara-negara kecil secara teknis memerlukan amfibi," ujarnya.

Berkenaan itu, pihaknya bakal menggandeng AS untuk bisa mengembangakan amfibi, utamanya dalam proses produksi float.

"Masih baru akan dilakukan rancang bangun bersama mitra, karena kita memerlukan design yang belum pernah kita melakukan design pesawat amfibi sebelumnya, jadi kita akan kerja sama dengan pembuat float yang berpengalaman dari AS," tutupnya.