Lifting Minyak dan Gas di 2022 Tak Capai Target, Begini Alasan SKK Migas
ยทwaktu baca 3 menit

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bicara alasan tak sampainya target kinerja hulu migas nasional tahun 2022.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan, reserve replacement ratio (RRR) di tahun 2022 mencapai 156 persen dari target, disebabkan selesainya beberapa plan of development (PoD) sehingga cadangan migas bisa dimonetisasi.
"Lifting minyak mencapai 612 ribu barel oil per day (BOPD) dan itu adalah 93 persen dari tahun lalu atau 87 persen dari target APBN. Ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan dari yang bisa dicapai," ujarnya saat konferensi pers, Rabu (28/1).
Sama halnya dengan minyak, Dwi menyebutkan realisasi lifting atau salur gas juga belum mencapai target, yakni 5.347 juta kubik per hari (MMSCFD), 92 persen dari target APBN dan 97 persen dari capaian tahun lalu.
Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja Benny Lubiantara menambahkan, realisasi pengeboran sumur eksplorasi di tahun 2022 sebanyak 30 sumur, dengan belanja modal sekitar USD 0,8 miliar.
"Relatif sudah mulai meningkat, kita bandingkan dari tahun lalu di tahun 2020 saat pandemi hanya 21 sumur tajaknya, sudah meningkat dari tahun lalu dan di 2022 ini (belanja) sudah mencapai USD 0,8 miliar," tuturnya.
Sementara itu, realisasi kegiatan eksploitasi di tahun 2022 yakni development well drilling sebanyak 760 sumur, masih kurang dari target hanya 96 persen, lalu ada 639 kegiatan workover atau 110 persen dari target, dan 30.299 kegiatan well service atau 102 persen dari target.
Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo, menjelaskan pada dasarnya realisasi lifting migas di tahun 2022 merupakan waterfall dari target yang ditetapkan sangat tinggi di tengah ketidakpastian pandemi COVID-19.
Wahju menuturkan, target lifting minyak di APBN 2022 sebesar 703 BOPD, sementara gas sebesar 5.800 MMSCFD. Baik minyak atau gas, terjadi permasalahan sama yang menyebabkan realisasi lifting di tahun lalu tidak maksimal.
"Ada beberapa waterfall misal beberapa decline dari lapangan yang memang sudah relatif tua lebih curam dari yang kita prediksi, hasil pengeboran di beberapa lapangan belum memenuhi target jadi input sendiri bagi kami untuk evaluasi di tahun 2023," jelasnya.
Selain itu, adanya banyak unplanned shutdown di kilang. Meski demikian, Wahju berkata SKK Migas melaksanakan serangkaian program di luar rencana yang menyebabkan adanya tambahan produksi sekitar 17.000 barel di tahun 2022.
"Salah satu flying break yang cukup signifikan itu unplanned shutdown. Produksi minyak, tidak terjadi declining. Kita sudah mulai incline mulai dari September dari grafik naik turun, begitu turun tinggi diikuti unplanned shutdown yang cukup tinggi juga, artinya data ini perlu direspons," tutur Wahju.
