Kumparan Logo

Listrik Menyala di Pelosok, Bahlil: Simbol Kehadiran Negara & Buka Jalan Ekonomi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Program Listrik Desa. Foto: Dok. Kementerian ESDM
zoom-in-whitePerbesar
Program Listrik Desa. Foto: Dok. Kementerian ESDM

Cahaya listrik terus menerangi hampir seluruh pelosok negeri. Pemerintah di bawah arahan Presiden RI Prabowo Subianto memperluas akses energi bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil melalui program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Kehadiran listrik di desa-desa bukan sekadar penerangan, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan pendidikan, produktivitas, dan taraf hidup.

“Di desa-desa terpencil, cahaya listrik kini menjadi simbol kehadiran negara dan pembuka jalan bagi kesempatan sosial-ekonomi. Listrik tidak lagi hanya aspek penerangan, namun meningkatkan pula akses pendidikan, produktivitas, dan taraf hidup masyarakat,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta, Selasa (21/10).

Program Listrik Desa kini telah menjangkau 10.068 lokasi dan memberi manfaat bagi lebih dari 1,2 juta calon pelanggan baru. Sementara itu, realisasi program BPBL periode 2024 telah diterima 155.429 rumah tangga (RT). Untuk periode Januari–September 2025, sebanyak 135.482 RT telah terpasang dari target 215.000 RT hingga akhir 2025. Program ini menjadi langkah pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat serta mempercepat pemerataan energi di seluruh wilayah Indonesia.

Program Listrik Desa. Foto: Dok. Kementerian ESDM

Rasio elektrifikasi nasional saat ini telah mencapai 99,1 persen. Bahlil mengatakan, bagian kecil yang belum teraliri listrik merupakan daerah dengan kondisi geografis paling sulit dijangkau karena rumah-rumah warga tersebar di pulau-pulau terluar dan wilayah pedalaman.

Kementerian ESDM kini tengah melakukan transformasi menuju energi yang lebih bersih. Proyek pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan terus dipercepat, dan sebagian besar sudah beroperasi dengan baik.

“Perubahan arah kebijakan juga mencakup transformasi menuju energi yang bersih dan berkelanjutan. Pemerintah sudah meresmikan puluhan pembangkit energi terbarukan, mempercepat proyek PLTS berkapasitas 100 gigawatt, dan melibatkan koperasi desa dalam transisi energi. Ekonomi dan ekologi tidak harus dipertentangkan. Keduanya bersinergi menciptakan fondasi pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan merata,” imbuh Bahlil.

Bahlil menegaskan, pemerintah bertekad mempercepat capaian elektrifikasi hingga 100 persen. “Setelah 80 tahun merdeka, tidak selayaknya ada warga yang masih mengalami gelap gulita,” ujarnya.

Program Listrik Desa. Foto: Dok. Kementerian ESDM

Di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Ruslam menjadi salah satu warga yang menerima bantuan BPBL. Ia merasa hidupnya jauh lebih mudah sejak rumahnya dialiri listrik. “Alhamdulillah, sekarang rumah kami terang, tanpa harus mikir beli bensin tiap malam. Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, dan saya bisa istirahat dengan tenang,” ucap Ruslam.

Cerita serupa datang dari Elias Inyomusi, warga Kampung Iraiweri, Distrik Anggi, Pegunungan Arfak. Kini rumah-rumah di kampungnya terang berkat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Anggi. “Semua rumah itu harus dapat listrik, supaya untuk kami punya anak-anak kami itu bisa belajar, mamak-mamak bisa masak dengan (penerangan) lampu. Saat saya lahir di sini, kami belum ada lampu. Kami bikin api. Kami baca, belajar, itu pasang, bikin gelegar untuk jadi pelita,” ungkap Elias.

Pemerintah menargetkan seluruh pelosok negeri akan menikmati listrik sepenuhnya pada tahun 2030. Bahlil kembali menegaskan, rasio elektrifikasi 100 persen harus tercapai agar tidak ada lagi warga yang hidup dalam kegelapan setelah delapan dekade Indonesia merdeka. Cahaya dari tiang-tiang listrik di desa-desa kini menjadi tanda bahwa negara benar-benar hadir dan membawa terang bagi warganya.