Literasi Keuangan Perempuan Masih Rendah, OJK Gandeng Ibu-ibu PKK
·waktu baca 3 menit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan perempuan di Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari, mengatakan kolaborasi dengan Ketua TP PKK Tri Tito Karnavian bertujuan memberikan edukasi keuangan untuk perempuan Indonesia. Kerja sama ini didukung perbankan dan sektor industri.
"Kita ingin meningkatkan edukasi, literasi, dan inklusi masyarakat Indonesia terutama dari kelompok perempuan, karena kita semua paham bagaimana peran perempuan terhadap pemberdayaan ekonomi dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Kiki, sapaan akrab Friderica, saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/6).
Kiki menyebut anggota PKK tidak hanya dari kalangan ibu-ibu rumah tangga, namun ada pula yang mengelola UMKM. Sehingga para ibu-ibu itu bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di tiap daerah.
Sementara itu Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (PEPK) OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan transformasi digital membuka akses yang semakin luas terhadap berbagai produk dan layanan keuangan seperti investasi, pembiayaan, dan pembayaran.
“Ketika ada dananya dengan pola belanja yang mungkin menggiring kita kepada risiko, semuanya keamanan ada di tangannya ibu-ibu semua. Kalau ibu-ibu cukup memiliki pemahaman, literasinya terhadap berbagai produk keuangan ini baik, keuangan keluarganya juga aman,” jelasnya.
Dicky menilai, perempuan rentan terjebak dalam gaya hidup yang konsumtif. Dia juga meminta agar ibu-ibu tidak ikut-ikutan atau FOMO dengan teman sebaya dan malah terjebak dengan masalah finansial.
“Saya undang ibu-ibu semua nanti jadi duta untuk literasi, itu yang paling penting. Jadi inklusi keuangan atau kemudahan pembayaran itu enggak cukup kalau tidak diikuti dengan pemahaman bagaimana mengelola keuangan,” tegas Dicky.
Berdasarkan survei nasional OJK pada 2025, tingkat literasi keuangan perempuan baru mencapai 66,75%, sementara tingkat inklusi keuangannya mencapai 76,08%.
“Kalau literasinya lebih kecil daripada inklusinya, enggak baik kalau misalnya kita kemudian hanya belanja terus tapi tidak paham bagaimana mengelola keuangan," ucapnya.
Menurut Dicky, peran TP PKK sangat penting karena bisa merambah kepada struktur ekonomi paling kecil hingga pedesaan, bahkan keluarga. Sehingga kerja sama ini diharapkan dapat mengubah perilaku pengelolaan keuangan di masyarakat.
Hingga 2025, OJK telah menggelar 37 ribu kegiatan edukasi dan menjangkau 4,5 juta peserta di seluruh Indonesia. Jika edukasi bisa menjangkau seluruh anggota PKK yang mencapai 6,5 juta orang, maka edukasi ini bisa semakin terakselerasi.
Selain itu, OJK juga telah membentuk 39 ribu duta literasi keuangan Indonesia, di antaranya sebanyak 1.665 duta adalah segmen perempuan dan ibu rumah tangga. OJK juga memiliki aplikasi khusus Ibu-ibu yaitu sahabat ibu, cakap literasi keuangan syariah yang telah mengedukasi 16 ribu peserta di berbagai daerah.
“Kami berharap anggota PKK dapat menjadi duta literasi keuangan yang tidak hanya memahami pengeluaran keuangan yang baik tapi juga mampu menularkan pengetahuan, pengalaman, dan kebiasaan yang sehat kepada lingkungan sekitarnya,” tutup Dicky.
