Kumparan Logo

Luhut: Investasi Carbon Capture Storage di Seluruh Dunia Tembus Rp 98 T

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di acara Halal bihalal di Lingkungan Kementerian Maritim dan Investasi, Selasa (2/5/2023). Foto: Dok. Kemenko Marves
zoom-in-whitePerbesar
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di acara Halal bihalal di Lingkungan Kementerian Maritim dan Investasi, Selasa (2/5/2023). Foto: Dok. Kemenko Marves

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peluang bisnis untuk proyek carbon capture dan storage/carbon capture utilization dan storage (CCS/CCUS) sangat besar dikembangkan di Indonesia.

Luhut menuturkan, investasi global dalam proyek CCS di seluruh dunia mencapai USD 6,4 miliar atau setara dengan Rp 98,1 triliun. Sementara Asia menyumbang kontribusi USD 1,2 miliar atau Rp 18,4 triliun.

"Investasi global baru-baru ini di CCS telah mencapai sekitar USD 6,4 miliar, dengan Asia memberikan kontribusi sebesar USD 1,2 miliar. Indonesia seharusnya menjadi bagian utama dari investasi teknologi ini," ujarnya saat International and Indonesia CCS Forum, Senin (11/9).

Luhut melanjutkan, Indonesia bisa menjadi pusat pengembangan CCS karena memiliki potensi yang sangat besar dalam sumber daya penyimpanan CO2 dan lokasi industri yang berdekatan, termasuk dari industri Asia Timur untuk transportasi karbon internasional.

Selain itu, kata Luhut, penerapan pajak karbon juga memberikan dorongan ekonomi pada proyek CCS. Menurutnya, industri migas mulai dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Papua secara teknis layak untuk dioperasikan oleh CCS.

embed from external kumparan

"Potensi penyimpanan di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 400 gigaton yang memberikan peluang bisnis dan investasi yang signifikan di negara ini," ungkapnya.

Luhut menuturkan, sektor CCS berkembang pesat dan menawarkan investor peluang yang menjanjikan keuntungan finansial jangka panjang sekaligus memenuhi tanggung jawab penurunan emisi.

Dia menambahkan, negara ASEAN dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi yang terus berkembang memainkan peran penting dalam jejak karbon global. ASEAN terus mengalami pertumbuhan industri dan kebutuhan energi yang signifikan.

Dengan demikian, penanganan emisi karbon menjadi prioritas di kawasan ini. Menurutnya, penangkapan dan penyimpanan karbon merupakan teknologi menjanjikan yang telah diterapkan di negara-negara global.

"Dengan mendorong kolaborasi dan berbagi pengetahuan, kita dapat memanfaatkan potensi penuh CCS untuk mewujudkan masa depan berkelanjutan di Asia Tenggara," pungkasnya.