kumparan
19 Agu 2019 12:44 WIB

Mahathir Ajak Inggris Tak Ikut-ikutan Uni Eropa Boikot Sawit

Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Dataran Perdana, Putrajaya, Malaysia. Foto: Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengajak Inggris untuk tak ikut-ikutan Uni Eropa dalam memboikot produk minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Apalagi menurutnya, Inggris sudah memutuskan keluar dari Uni Eropa, sehingga cukup alasan untuk mengambil kebijakan berbeda.
ADVERTISEMENT
Hal itu diungkapkan Mahathir dalam sebuh kolom, seperti dilansir Reuters, Senin (19/8). Mahathir meminta Inggris tetap bekerja sama dengan petani-petani kelapa sawit, untuk mendorong produksi berkelanjutan.
Uni Eropa menghentikan penggunaan CPO sebagai bahan baku biofuel mereka, karena industri kelapa sawit dianggap menjadi sumber kerusakan hutan (deforestasi). Impor minyak sawit akan dihentikan secara bertahap, hingga pada 2030 benar-benar dilarang.
Langkah Uni Eropa itu sendiri, telah mendorong pemerintah Malaysia dan Indonesia sebagai dua negara produsen sawit terbesar dunia, mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.
"Sikap baru terhadap minyak kelapa sawit, yang tidak dibebani oleh kelompok-kelompok kepentingan khusus yang berpengaruh, dapat mengarah pada persyaratan perdagangan yang lebih baik antara Inggris dan kawasan (Asia Tenggara) daripada yang dinikmati saat ini," tulis Mahathir dalam sebuah kolom di Bloomberg.
Ilustrasi Kelapa Sawit Foto: Pixabay
"Kami berharap untuk menghindari perang dagang dengan Eropa," lanjutnya. "Tetapi jika terjadi, itu tidak berarti Inggris harus terjebak dalam perang dagang itu."
ADVERTISEMENT
Mahathir juga mengakui pentingnya kelestarian lingkungan dan mengatasi penggundulan hutan. Tapi menurutnya, jawaban atas persoalan itu bukan menentukan satu komoditas dan kemudian melarangnya.
Mahathir menyebut langkah yang diambil Uni Eropa dengan melarang minyak kelapa sawit, sebagai bentuk kolonialisme modern yang tidak memiliki tempat di dunia saat ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan