Mama Marta: Mengenalkan Kriya Papua Hingga ke New York

Marta Ohee atau yang akrab disapa Mama Marta, dengan bangga memperlihatkan tas yang ia kenakan siang itu, Jumat (12/7). Bukan tas biasa memang, namun sebuah tas yang terbuat dari serat-serat kayu yang dipilin sedemikian rupa, hingga menjadi kantong. Noken namanya.
Pembuatan noken tidak sembarangan. Untuk mengambil seratnya saja, bahan baku berupa kayu khusus harus direndam selama satu minggu. Lalu masih harus dicuci, dijemur, baru diambil seratnya. Itu baru untuk mengambil bahan utamanya saja.
Belum pembuatannya. Agar serat kayu tersebut bisa kuat dan tidak mudah putus, serat kayu harus dipilin secara manual di atas paha.
“Sebetulnya sudah ada sekarang mesinnya. Tapi tidak sebaik kalau manual. Hasilnya tidak sekuat kalau dipilin manual,” terang Mama Marta kepada kumparan.
Mama Marta mengenal betul cara pembuatan noken. Kegiatan itu sudah ditekuninya lebih dari 25 tahun, hingga kini menjadi mata pencaharian. Noken sendiri merupakan salah satu budaya suku Sentani di Papua, yang diturunkan dari generasi ke generasi diturunkan.
Mama Marta menjelaskan, budaya membuat noken masih terus dipertahankan di Sentani. Terutama oleh perempuan yang memang diwajibkan untuk bisa membuatnya sedari muda.
“Seorang perempuan, kalau mau menikah, harus sudah tahu buat noken. Itu adat kita di sana. Kalau perempuan belum bisa membuat noken berarti jangan dulu menikah,” terangnya.
Noken menurutnya, juga menjadi simbol budaya kecintaan ibu pada anak perempuannya.
“Perempuan kalau mau menikah, seorang ibu harus kasih noken. Kasih noken sebagai tanda bahwa ibu masih mencintai anaknya,” lanjut Mama Marta.
Yang menjadi kekhawatiran Mama Marta kini, tak semua yang bisa membuat noken, mau terus mengerjakannya. Selain menyiapkan bahan bakunya lama, membuatnya pun memang tak mudah. Tak heran jika usaha pembuatan noken di Sentani, jauh berkurang.
Kini berkat ketekunan Mama Marta, telah membuat kampung halamannya, Desa Asei Besar di pinggir Danau Sentani, dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas Sentani. Khususnya berbagai karya kriya dari kulit kayu.
“Setiap hari ada saja wisatawan asing yang datang ke kampung kita. Karena kampung Asei terkenal dengan kerajinan kulit kayu. Jadi setiap kapal putih yang datang ke pelabuhan, tidak ke mana-mana tetapi ke Asei dulu untuk melihat kerajinan kulit kayu,” paparnya.
Tak sekedar melestarikan budaya, kerajinan kriya Mama Marta telah menghidupkan ekonomi Desa Asei. Lewat merek usahanya, Krema Handcraft, produk kerajinan khas Sentani sudah melanglang buana hingga ke Merauke, bahkan Aceh. Juga ke benua tetangga di Australia.
Dan kini sebuah babak baru usaha itu akan menjelang. Mama Marta bersama Krema Handcraft akan tampil di ajang pameran kerajinan kriya berskala dunia, New York Now 2019 di New York, Amerika Serikat.
Keberangkatan Mama Marta ke Negeri Paman Sam itu, atas dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI. Sebelumnya, bank terbesar di Indonesia itu juga melakukan pembinaan terhadap usaha-usaha kerajinan, melalui BRICraft dan BRI Microfinance Center.
Sebelum ke New York Pernah ke Belanda
Mama Marta akan menjadi salah satu dari dua pebisnis kriya Indonesia, yang dikirim Bank BRI ke New York. Seorang peserta lainnya adalah perajin tas dan manik-manik asal Bandung, Mira Lismawati.
New York Now sendiri merupakan pameran dagang yang cukup istimewa. Karena tak hanya menampilkan hasil karya produk-produk dari Amerika Serikat tapi juga dari seluruh dunia.
Pameran ini juga agak berbeda dengan pameran serupa karena New York Now, banyak dikunjungi pebisnis di Amerika Serikat. Sehingga, pameran ini dapat menjadi gerbang untuk bisa go international bagi produk kerajinan Indonesia.
Mama Marta berhasil terpilih menjadi salah satu UMKM kriya yang akan dikirim ke New York Now, setelah menjadi salah satu UMKM terbaik di BRICraft 2019. Event tahunan Bank BRI untuk UMKM-UMKM itu, diikuti perajin kriya dari seluruh Indonesia.
Bersama Mira Lismawati yang memiliki brand Semomondezzy Handmade, Mama Marta menjadi yang terbaik dari 30 peserta pilihan yang mengikuti BRICraft 2019.
Ini bukan pertama kalinya Mama Marta akan ke luar negeri bersama BRI. Pada tahun 2014 lalu, Mama Marta juga pernah dikirim ke Belanda untuk mengikuti pameran Floriade. Bedanya, kali ini Mama Marta dipersiapkan lebih serius agar mampu menembus pasar Amerika.
Hal ini tak lepas dari peran Jennifer Isaacson, seorang pakar bisnis kriya asal Amerika Serikat. Isaacson secara khusus memberikan pelatihan di BRICraft 2019 lalu. Usai BRICraft, Jennifer juga secara khusus mendaftar apa saja yang harus dilakukan oleh Mama Marta, agar produknya bisa tampil lebih baik di New York Now.
“Banyak yang didapat dari BRICraft 2019. Ilmu yang tidak pernah kita dapat, banyak sekali di sana,” cerita Mama Marta. “(Misalnya) kalau tas saya kan talinya pendek, jadi harus yang panjang. Di Amerika itu, katanya talinya harus panjang. Jadi kami berterima kasih sekali,” ujarnya.
Tidak hanya standarisasi produk, Jennifer juga memberikan berbagai tips untuk memasarkan produk agar lebih menarik. Termasuk soal packaging, pemotretan produk, hingga pembuatan website.
Bank BRI melalui BRI Microfinance Center juga memberikan pendampingan khusus bagi Mama Marta, agar dapat memenuhi standar Amerika seperti yang disampaikan Isaacson. Lebih jauh dari itu, harapannya produk Krema Handcraft dapat menembus pasar ekspor.
“Harapan saya ke depan, ke New York nanti, dengan promosi ini kita orang Papua bisa berkembang terutama di bidang ekonominya dengan hasil-hasil karya kami,” kata Mama Marta.
Mama Marta mengaku, sangat bersyukur dengan ajakan ke luar negeri untuk kedua kalinya dari BRI ini. Ia juga menyebut, sebetulnya ada pihak-pihak lain yang ingin bekerja sama dengan dirinya seperti ia bekerja sama dengan BRI, namun baginya, kerja sama dengan BRI sudah lebih dari cukup.
“Saya bilang, cukup dengan BRI. Sudah cukup karena BRI sudah kirim saya ke luar, Pemda saja tidak pernah kirim kita. Cuma barang kita saja yang dibawa ke luar negeri, tapi orangnya tidak. Tapi saya bermitra dengan BRI, jadi nasabahnya BRI, saya bersyukur sekali bisa ke luar negeri, hanya karena BRI,” aku Mama Marta.
“Dan besok ke luar negeri lagi. Jadi saya sangat bersyukur sekali, bisa bermitra dengan BRI.”
