Mandiri Institute Catat Indeks Tabungan Kelas Bawah per Mei 2025 Turun
·waktu baca 2 menit

Mandiri Institute mencatat indeks tabungan kelas bawah per Mei 2025 mengalami penurunan dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.
Head of Mandiri Institute, Andre Simangunsong, menuturkan penurunan tren tabungan pada kelompok masyarakat bawah tersebut bawah terjadi sepanjang 2025.
“Yang kaitan dengan tabungan, kami juga melihat memang hampir sepanjang 2025, tabungan terutama untuk kelompok bawah ini sedikit menurun trennya,” tutur Andre dalam gelaran Mandiri Economic Outlook Q2 2025 bertajuk Building Resilience in the Midst of Global Turbulence di Jakarta, Senin (19/5).
Dalam paparan Andre dijelaskan, per 15 Mei 2025 indeks tabungan kelas bawah berada pada posisi 79,6 poin. Sementara pada Mei 2024 ada di posisi 85,9 poin.
Meski demikian, dia melihat ada geliat pertumbuhan indeks tabungan kelas bawah per 11 Mei 2025. Menurut dia, ini menjadi sinyal positif pertumbuhan indeks tabungan kelas bawah ke depan.
“11 Mei kelompok bawah, level tabungannya mulai meningkat. Jadi ini semoga menjadi katalis positif ke depan, bahwa masyarakat mulai mendapatkan income yang lebih tinggi,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Head of Macro and Financial Market Research Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, menuturkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sangat terpengaruh dengan kondisi global.
Dia menyoroti perekonomian global saat ini yang masih dihadapkan dengan polemik perang dagang Amerika Serikat-China.
“Kalau kita lihat beberapa minggu setelah pengumuman resiprokal tarif dari Trump itu terjadi capital outflow, ya ini tentunya juga berdampak negatif pada pertumbuhan DPK karena ada aliran arus dana keluar,” tutur Dian dalam kesempatan yang sama.
Dana pihak ketiga merupakan dana-dana yang dihimpun bank dengan menggunakan berbagai instrumen produk simpanan yang dimiliki oleh bank berasal dari masyarakat, baik perorangan maupun badan usaha.
Meski demikian, Dian juga mengakui akan ada sentimen positif terhadap DPK dalam beberapa waktu terakhir seiring dengan adanya sinyal meredanya perang dagang AS-China.
“Tapi sentimen semakin berangsur membaik, jadi kita berharap ada capital inflow yang lebih meningkat masuk ke sistem perbankan domestik,” imbuhnya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) likuiditas menjadi lebih ketat dengan pertumbuhan DPK sebesar 4,75 persen dan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang naik menjadi 88 persen.
