Bisnis
·
11 Juni 2021 14:34
·
waktu baca 3 menit

Mantra Baru dalam Bisnis: Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Mantra Baru dalam Bisnis: Kolaborasi, Bukan Kompetisi (2686)
Ilustrasi team work. Foto: Shutterstock
Mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya, Gojek berkolaborasi dengan Tokopedia dan melakukan merger menjadi GoTo. Keduanya sama-sama menyandang nama besar sebagai startup teknologi terkemuka di Indonesia, bahkan sudah masuk ke level sebagai unicorn di dunia.
ADVERTISEMENT
Tapi berbisnis di era baru, strategi kolaborasi menjadi lebih populer dibandingkan berkompetisi atau bersaing.
Head of Expertise Group Finance PPM Manajemen, Yanuar Andrianto, mengatakan kolaborasi dalam era kini mempunyai nilai tambah agar bisnis bisa makin kuat menghadapi berbagai kompleksitas tantangan.
"Dinamika bisnis yang dihadapi ke depannya berubah-ubah sebagai bagian dari tantangan bisnis yang erat kaitannya dengan keuntungan dan risiko kegagalan," kata Yanuar kepada kumparan.
Sejarah mencatat, sebuah kolaborasi sukses melahirkan nama besar yang melegenda. Sebut saja misalnya kolaborasi John Lennon sebagai gitaris dan vokalis dengan Paul McCartney sebagai bassis, vokalis, juga pencipta lagu terkemuka. Mereka sukses menjadikan The Beatles sebagai nama besar, bahkan hingga kini tetap melegenda ketika grup musik itu sudah bubar.
ADVERTISEMENT
Contoh lain, kolaborasi antara Larry Page dan Sergey Brin dalam merintis perusahaan yang kemudian kini dikenal sebagai Google. Berawal dari sebuah eksperimen iseng-iseng soal algoritma pencarian, kini yang mereka rintis telah mewujud jadi perusahaan teknologi digital raksasa.
Belajar dari contoh-contoh sukses kolaborasi yang melahirkan bisnis-bisnis besar, Yanuar membagi tips sukses menjalin kolaborasi:
Pertama, tetapkan tujuan bisnis yang jelas sejak awal kolaborasi disepakati. Apalagi, bisnis yang dijalankan dengan kolaborasi tentu membutuhkan koordinasi dan komunikasi dengan partner. Supaya koordinasi dan komunikasi efektif, tujuan bisnis, model bisnis, rencana strategisnya, dan scenario planning-nya harus dirumuskan secara jelas.
Kedua, setelah itu pelaku bisnis juga mesti menetapkan peran dan tanggungjawab yang objektif. Mulai dari mekanisme pembagian jobdesc, hingga secara hukum sebagai pegangan bisnis bersama.
ADVERTISEMENT
Ketiga, tak kalah penting adalah membangun rasa saling percaya dan komitmen dalam kolaborasi bisnis. Hal ini menjadi kunci agar kolaborasi dalam mengembangkan usaha bisa berjalan langgeng.
Sementara itu Founder Yukbisnis.com, Jaya Setiabudi, punya pandangan yang agak berbeda. Menurutnya, tidak semua kolaborasi diperlukan, khususnya saat memulai bisnis.
Hal yang sangat penting pada fase awal membangun usaha, adalah segera memulai bisnis itu sendiri. Artinya jika kolaborasi membuat perjalanan bisnis di awal jadi lebih lambat atau malah terhambat, maka kita tidak disarankan untuk melakukan kolaborasi di awal.
Hanya saja menurutnya, jika memang setelah bisnis berjalan, maka disarankan berkolaborasi. Tentu saja ini untuk memberikan keuntungan bagi masing-masing pihak. Misalnya untuk efisiensi produksi.
Jaya Setiabudi menambahkan dua aspek yang menjadi kunci supaya kolaborasi bisa membuat bisnis jadi besar. Yakni:
ADVERTISEMENT
Pertama, kolaborasi dilakukan di antara lini produk yang berkaitan. Misalnya sama-sama di fashion atau konveksi, yang satu spesialis desain sementara mitranya spesialis menjahit. Dengan kolaborasi, maka kapasitas produksi terpenuhi optimal dan harga produk jadi lebih murah.
Kedua, kolaborasi bisnis harus memiliki target pasar yang sama karena dapat memberikan keuntungan bagi masing-masing pihak.