Kumparan Logo

Maroko Bersiap Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2030, Bos Sepak Bolanya Jadi Menkeu

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) berbincang dengan Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko, Fouzi Lekjaa, dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Maroko di Stadion Monterrey, Guadalupe, pada 29 Juni 2026. Foto: CARL DE SOUZA / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) berbincang dengan Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko, Fouzi Lekjaa, dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Maroko di Stadion Monterrey, Guadalupe, pada 29 Juni 2026. Foto: CARL DE SOUZA / AFP

Maroko menunjuk ketua federasi sepak bolanya sebagai menteri keuangan. Negara yang akan menjadi salah satu tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2030 itu menghadapi tantangan berupa semakin terbatasnya ruang fiskal dan meningkatnya kebutuhan belanja sosial.

Mengutip Bloomberg, Minggu (18/10), Fouzi Lekjaa, mantan menteri anggaran, ditunjuk untuk memimpin portofolio ekonomi, keuangan, dan efisiensi publik dalam pemerintahan Perdana Menteri Fatima Ezzahra El Mansouri. Keputusan itu ditetapkan oleh Raja Mohammed VI pada Jumat pekan ini.

Mandat pemerintahan baru ini bertepatan dengan persiapan Maroko menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2030 bersama Spanyol dan Portugal. Pemilihan parlemen pada bulan lalu menjadi yang pertama sejak gelombang demonstrasi Generasi Z pada 2025 melanda kota-kota besar Maroko. Aksi tersebut menyoroti keluhan yang telah lama muncul terkait kesenjangan ekonomi dan buruknya layanan publik.

Lekjaa merupakan mantan insinyur agronomi dan inspektur pajak. Pria berusia 56 tahun itu bergabung dengan Partai Keaslian dan Modernitas (Authenticity and Modernity Party) pimpinan El Mansouri beberapa bulan sebelum pemilihan umum.

Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko Fouzi Lekjaa menghadiri rapat umum di Benslimane pada 20 September 2026. Foto: Abdel Majid BZIOUAT / AFP

Lekjaa berjanji meningkatkan belanja pemerintah sebesar 70 miliar dirham Maroko per tahun atau sekitar USD 7,2 miliar hingga 2031. Ia juga berkomitmen menciptakan lapangan kerja, menaikkan upah dan pensiun, serta menekan biaya hidup.

Namun, target tersebut tidak mudah dicapai. Maroko harus kehilangan akses terhadap mekanisme pembiayaan inovatif yang selama ini diandalkan sejak 2019 untuk mengurangi ketergantungan pada utang. Mekanisme tersebut terutama dilakukan melalui penjualan aset negara kepada dana lokal dengan imbalan pembayaran sewa.

Mekanisme pembiayaan itu menghasilkan sekitar USD 4,2 miliar pada 2025. Sementara itu, rancangan anggaran Maroko untuk 2027 diperkirakan akan diumumkan pekan depan.

Sebagai negara pengimpor bersih bahan bakar fosil, Maroko turut merasakan dampak meningkatnya ketegangan akibat perang di Timur Tengah. Bank sentral negara tersebut bahkan telah menaikkan proyeksi defisit transaksi berjalan tahun ini menjadi lebih dari dua kali lipat sejak perang di Iran pecah pada Februari.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada pekan ini mendesak Maroko untuk memperkuat ketahanan ekonominya dan memastikan “kebijakan fiskal selaras dan dikonsolidasikan secara tepat” guna mengelola dampak tingginya harga energi serta tekanan eksternal lainnya.

Menteri Perencanaan Nasional, Tata Kota, Perumahan, dan Kebijakan Perkotaan Maroko serta Wali Kota Marrakesh Fatima Ezzahra El Mansouri berbicara dalam konferensi pers di kantor pusat PAM di Rabat, Maroko, Kamis (24/9/2026). Foto: Abdel Majid BZIOUAT / AFP

Sementara itu, HCP, lembaga perencanaan dan statistik Maroko, melaporkan pada pekan ini bahwa sekitar 76 persen rumah tangga menyatakan standar hidup mereka memburuk selama 12 bulan hingga September. Lebih dari separuh rumah tangga juga memperkirakan kondisi tersebut akan semakin memburuk hingga akhir kuartal III 2027.

instagram embed