Kumparan Logo

Ma'ruf Amin: Nilai Produksi Tongkol hingga Cakalang di RI Capai Rp 39 Triliun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pedagang mengolah ikan asar (ikan cakalang asap) di Pasar Sentral Hamadi, Jayapura, Papua, Senin (15/11).  Foto: Gusti Tanati/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang mengolah ikan asar (ikan cakalang asap) di Pasar Sentral Hamadi, Jayapura, Papua, Senin (15/11). Foto: Gusti Tanati/Antara Foto

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengungkapkan total nilai produksi ikan tuna, cakalang, dan tongkol mencapai Rp 39 triliun pada 2023. Sebab, Indonesia punya keanekaragaman hayati laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Ma'ruf mengatakan seluruh keanekaragaman hayati menjadi masa depan Indonesia dan modal pembangunan berkelanjutan.

Menurut dia, potensi besar ini harus dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ramah lingkungan, seimbang, berkeadilan, sistematis, terukur, dan partisipatif.

"Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti total nilai produksi ikan tuna, cakalang, dan tongkol pada tahun 2023 mencapai Rp 39 triliun," kata Ma'ruf Amin dalam Peluncuran Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025-2045 di Istana Wakil Presiden RI, Kamis (8/8).

Ma'ruf Amin menjelaskan, keanekaragaman hayati Indonesia tidak hanya dapat mendukung ketahanan pangan dan energi, tetapi juga sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan ekonomi hijau dan biru.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Yogyakarta. Foto: Dok. BPMI Setwapres

Pada Desember 2022, Indonesia mengadopsi kerangka kerja global biodiversitas Kunming-Montreal yang disepakati dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB ke-15.

Langkah nyata atas komitmen yang kuat selaras dengan kerangka global dalam penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati periode 2025-2045.

Dokumen perencanaan ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang akan menjadikan pengelolaan keanekaragaman hayati sebagai salah satu instrumen mewujudkan Indonesia Emas 2045.

"Dengan kekayaan alam dan laut yang melimpah, Indonesia merupakan negara dengan jumlah biodiversitas terbesar di dunia dengan 22 tipe ekosistem alami yang tersebar pada 7 wilayah ekoregion dengan kekhasan masing-masing," kata Ma'ruf.

instagram embed