Masyarakat Tak Perlu Ganti Kompor Jika Gas Melon Diganti CNG 3 Kg
ยทwaktu baca 3 menit

Wacana pemerintah menciptakan tabung Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kg untuk menggeser peran LPG 3 kg mendapatkan sorotan, baik itu dari sisi keselamatan hingga teknis pemasangannya.
CNG merupakan gas alam yang dipadatkan dalam sebuah tabung, sehingga memiliki tekanan yang sangat tinggi hingga 250 bar. Berbeda dengan LNG yang berbentuk cair, CNG masih berbentuk gas.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, tidak memungkiri aspek keselamatan masih harus dikaji oleh pemerintah. Hal ini merupakan ranah Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas, yang kajiannya akan selesai dalam 3 bulan mendatang.
Laode juga menyebut pemerintah akan memperhatikan kesesuaian tabung CNG dengan kompor yang saat ini menggunakan LPG. Dengan begitu, dia memastikan masyarakat tidak perlu mengganti kompor untuk bisa memakai CNG.
"Tabung tipe 4 dia menggunakan valve atau converter yang juga harus plug and play dan tidak menyebabkan beban tambahan, dan sampai ketika nanti sudah diproduksi, dia harus menyesuaikan sedemikian sehingga kompor tidak perlu diganti, tinggal plug, sudah mengalir. Tapi tadinya yang pakai LPG sekarang pakai CNG," tuturnya saat acara Talkshow APLCNGI dan Aspebindo, dikutip Jumat (8/5).
Kendati demikian, Laode menegaskan peta jalan (roadmap) yang sudah disiapkan belum bisa diumumkan kepada publik. Hanya saja, setelah kajian selesai 3 bulan nanti, CNG tabung 3 kg akan diproduksi secara masif dengan skema bisnis yang masih digodok.
Nantinya, dia pun membuka peluang tabung CNG bisa lebih murah dari LPG, meskipun perhitungan pemerintah saat ini yakni dengan harga yang sama dengan LPG 3 kg saja, CNG sudah bisa menghemat subsidi energi hingga 30 persen.
"Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan uji tekan dan lain-lain, ini memang faktor yang paling penting Pak Menteri juga mengamanahkan ke kami itu merupakan hal yang paling utama kita pastikan sebelum ini nanti dimasifkan," jelas Laode.
Laode mengatakan, teknologi dan implementasi tabung CNG sudah dikembangkan sejak tahun 1920. Pada tabung tipe 1, komponen yang digunakan adalah logam murni, kemudian berkembang menjadi tipe 2 hingga tipe 4 dengan berbagai campuran sehingga tabung menjadi lebih ringan.
"Tipe 4 ini sudah sangat ringan, jadi dia komposit fiber, kuat, dan pada kondisi hari ini tipe 4 ini dengan roadmap nanti yang sudah diterapkan oleh Pak Menteri (ESDM), insyaallah tipe 4 ini untuk tabung 3 kg itu nanti akan pertama di dunia itu adalah di Indonesia," ungkapnya
Seiring dengan berjalannya waktu, Laode menyebutkan kebutuhan konsumsi LPG semakin melonjak melebihi 7 juta ton per tahun, sehingga ada kenaikan impor yang signifikan. Hal ini tidak hanya membebani subsidi energi, namun juga devisa negara.
Bahan baku CNG, kata dia, bisa dipenuhi dari lapangan-lapangan migas raksasa yang sudah ada (existing) di Indonesia. Dengan demikian, konversi LPG menjadi CNG diperkirakan dapat menurunkan beban subsidi energi sekitar 20-30 persen sekaligus menghemat devisa.
"Kita harus memikirkan inovasi apa untuk bisa mengurangi, artinya dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kita akan terus menambah impor LPG kalau tidak bisa kita konversikan ke sumber yang lain," tegas Laode.
