Melihat 2 Pembangkit Listrik Penopang Ibu Kota Baru Indonesia

30 Agustus 2019 10:18
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
ADVERTISEMENT
Dua kabupaten di Kalimantan Timur, yaitu Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, tengah mendapat sorotan. Sebab, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memutuskan bahwa ibu kota baru Indonesia akan berlokasi di kedua wilayah ini.
ADVERTISEMENT
Salah satu hal yang dipertimbangkan dalam memutuskan lokasi ibu kota baru adalah ketersediaan infrastruktur dasar. Misalnya kelistrikan.
kumparan berkesempatan untuk mengunjungi 2 pembangkit listrik yang saat ini menopang Kalimantan Timur. Yang pertama adalah PLTU Teluk Balikpapan 2 x 110 Megawatt (MW). Sesuai namanya, lokasinya ada di Teluk Balikpapan. Di seberang PLTU ini tampak Penajam Paser Utara.
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Dengan total kapasitas yang mencapai 220 MW, PLTU Teluk Balikpapan adalah pembangkit listrik terbesar di Kalimantan untuk saat ini. Sekitar 18 persen pasokan listrik untuk Sistem Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimra) berasal dari pembangkit ini.
"PLTU Teluk Balikpapan 2 x 110 MW adalah yang terbesar di Kalimantan," kata Manajer Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (UPDK) Balikpapan, Yuskar Radianto, saat ditemui di PLTU Teluk Balikpapan, Rabu (28/8).
ADVERTISEMENT
PLTU Teluk Balikpapan juga merupakan pembangkit yang paling dekat dengan ibu kota baru. Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik dari pembangkit ini hanya sekitar Rp 800 per kWh.
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Beroperasi sejak 2017, PLTU Teluk Balikpapan merupakan warisan dari Fast Track Program (FTP) I. Bukan rahasia lagi, pembangkit-pembangkit listrik dari FTP I umumnya punya kekurangan dalam hal kualitas. Karena itu, PLTU Teluk Balikpapan perlu ditingkatkan keandalannya agar dapat menjamin pasokan listrik ke ibu kota.
"Pasti jadi perhatian kami karena PLTU ini paling dekat ibu kota. Akan kami tutup kekurangannya," tegas Yuskar.
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Pembangkit listrik kedua yang dikunjungi kumparan adalah PLTGU Tanjung Batu di Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Pembangkit yang hanya berjarak 200 meter dari Sungai Mahakam ini terdiri dari 2 Plant, salah satunya sudah beroperasi sejak 1996 alias 22 tahun lalu. Sedangkan satu lagi beroperasi sejak 2013, masih berusia 5 tahun.
ADVERTISEMENT
PLTGU Tanjung Batu merupakan pembangkit untuk Peak Load, yakni pembangkit yang dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan listrik saat beban puncak. Saat beban sedang rendah pada pagi hingga siang hari, PLTGU Tanjung Batu hanya memasok sekitar 18 MW.
PLTGU Tanjung Batu. Foto: Michael Agustinus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PLTGU Tanjung Batu. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Ketika beban puncak pada jam 5 sore sampai 10 malam, pembangkit ini memasok sekitar 140 MW. Bahkan kadang beroperasi penuh hingga 220 MW.
Manager PLTGU Tanjung Batu, Ghani Wahyu Nugroho, mengakui bahwa menjaga performa pembangkit listrik yang sudah sepuh ini tak mudah. Pihaknya harus memutar otak untuk merawat PLTGU Tanjung Batu. Sebab, suku cadangnya sudah sulit diperoleh.
"Harapan kami pembangkit ini bisa beroperasi sampai kiamat, kita overhaul begitu performa turun. Suku cadangnya dari Inggris. Untuk dapat yang kualitas sama, kami berusaha cari. Kalau enggak dapat di Inggris, kami cari di Korea Selatan," ia menuturkan.
PLTGU Tanjung Batu. Foto: Michael Agustinus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PLTGU Tanjung Batu. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Tantangan lain dalam mengoperasikan PLTGU ini adalah kurangnya pasokan gas. Idealnya suplai gas untuk PLTGU Tanjung Batu sebesar 10 MMscfd. Tapi saat ini hanya ada pasokan gas sebanyak 5 MMscfd dari Blok Sanga-Sanga. Itu pun kontrak jual beli gasnya hanya untuk 5 tahun dari 2018 sampai 2023. Setelah itu belum ada kepastian pasokan gas lagi.
ADVERTISEMENT
Akibat kekurangan gas, sebagian unit PLTGU harus memakai High Speed Diesel (HSD) alias Solar untuk bahan bakar. Penggunaan HSD membuat Biaya Pokok Penyediaan (BPP) jadi kurang efisien.
PLTGU Tanjung Batu. Foto: Michael Agustinus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PLTGU Tanjung Batu. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Bila semua unit menggunakan gas, BPP hanya Rp 800 per kWh. Saat ini PLN masih berupaya mencari tambahan pasokan gas supaya BPP listrik dari PLTGU Tanjung Batu bisa efisien.
"Kebutuhan gas 10 MMscfd, tapi baru dapat 5 MMscfd. Belum dapat alokasi lagi. Sementara mix dengan HSD karena enggak dapat pasokan gas 5 MMscfd," pungkas Ghani.