Melihat Progres MRT Fase 2A yang Punya Terowongan Bertingkat-Terdalam di RI
ยทwaktu baca 3 menit

Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A untuk paket CP202 terus berlanjut. Proyek yang menghubungkan Stasiun Harmoni-Mangga Besar ini kini mencapai 60,2 persen per 25 November 2025.
Pada Kamis (27/11), kumparan diajak melihat langsung area konstruksi Stasiun Sawah Besar, lokasi yang menjadi salah satu titik paling kompleks karena memiliki terowongan bertingkat (stack tunnel) dengan kedalaman 28 meter yang pertama kali dibangun di Indonesia.
Division Head Project Management of Construction 1 MRT Jakarta, Sony Desta, menyebut pekerjaan struktur utama Stasiun Sawah Besar hampir selesai.
"Kemudian untuk stasiun sawah besar ini sendiri, ini pekerjaan sebenarnya civil worknya sudah almost done. Nanti rencana di tahun depan sudah mulai pekerjaan mechanical, electrical, plumbing dan juga pekerjaan arsitektur," ujar Sony, di lokasi proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2A CP202, Sawah Besar.
Stasiun Sawah Besar Jadi Titik Paling Rumit
Berbeda dengan stasiun MRT bawah tanah lain yang menggunakan dua terowongan kiri-kanan. Ruang di koridor Jalan Gajah Mada, Sawah Besar disebut sempit dan dikelilingi bangunan tua (heritage). Dalam kondisi ini, terowongan tak bisa dibuat melebar seperti stasiun di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin.
Karena itu, tim merancang terowongan antara Stasiun Sawah Besar dan Stasiun Mangga Besar secara vertikal, satu di atas dan satu di bawah, sehingga membentuk konfigurasi bertingkat.
"Nah untuk tunnel sendiri, tunnel CP202 itu kita punya keunikan di sini ada dua TBM (Tunnel Boring Machine) yang kita gunakan dan sifatnya stack tunnel, atau atas bawah. Mungkin berbeda dengan stasiun MRT lainnya yang kiri kanan, karena ada lahan yang cukup, sehingga di atas bawah," kata Sony.
Artinya, Stasiun Sawah Besar menjadi stasiun terdalam MRT Jakarta, mencapai sekitar 28 meter di bawah permukaan tanah.
"Jadi kalau kita lihat kedalaman dari stasiun ini sampai level terbawah itu 28 meter, ini mungkin jadi satu stasiun terdalam saat ini yang kita bangun," lanjutnya.
Dua unit mesin bor (TBM) bekerja pada lapisan yang berbeda. Terowongan bawah nomor 1 sudah lebih dulu menembus hingga Sawah Besar sejak September 2025.
"Dan progresnya saat ini untuk tunnel yang paling bawah ini yang sampai duluan. TBM 1 kami menyebutnya, TBM yang terbawah atau sekitar 28 meter dari level tanah," papar Sony.
Sementara TBM 2 menembus lokasi pada Oktober 2025 dan kini dalam tahap persiapan menuju Stasiun Mangga Besar.
Sehingga TBM 1 ditargetkan menembus Mangga Besar pada April 2026, sementara TBM 2 menyusul pada Juli 2026. Kedua terowongan itu nantinya akan menjadi sambungan terakhir Fase 2A CP202 dari proyek keseluruhan proyek MRT fase Bundaran HI-Kota Tua.
Mitigasi Banjir dan Gempa Bumi
Karena lokasi berada di sebelah kanal Ciliwung, potensi banjir menjadi perhatian utama. Sony mengatakan semua akses masuk stasiun dilengkapi sistem pengaman banjir. Proyek ini juga mengikuti standar terbaru untuk menghadapi potensi gempa besar sesuai SNI.
"Setiap entrance, kita memprovide suatu flood barrier, kita menyebutnya. Atau semacam struktur, untuk menahan tanggul, atau membuat tanggul, untuk antisipasi juga terjadinya banjir. Jadi sifatnya ini, sifatnya emergency, jika memang level air sudah melebihi level bangunan entrance, maka ini tentunya kita pasang," ujarnya.
Dengan progres 60,2 persen saat ini, pekerjaan struktur sudah hampir tuntas dan bakal bergeser ke instalasi mekanikal, elektrikal, dan arsitektur mulai tahun depan. Seluruh proyek CP202 ini ditargetkan rampung dan dapat beroperasi pada akhir 2029. "Untuk target penyelesaian secara operasional keseluruhan, itu CP202 di akhir 2029 kita targetkan," imbuh Sony.
