Kumparan Logo

Melonjaknya Harga Sawit Bisa Bantu Pemulihan Ekonomi & Ekspor RI Akibat Pandemi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk. Foto: ANTARA FOTO/ Akbar Tado
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk. Foto: ANTARA FOTO/ Akbar Tado

Harga minyak sawit mencapai rekor tertinggi dengan 4.862 RM (Ringgit Malaysia) per ton. Harga ini menjadi yang tertinggi sejak rekor 13 tahun lalu atau 2008 silam.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, kenaikan harga minyak sawit berdampak pada ekspor sawit atau CPO. Ekspor CPO, kata dia, menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekspor.

"(Ekspor CPO) memang menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekspor kita yang menjadi sangat tinggi sekali pada saat sekarang," ujar Faisal saat dihubungi kumparan, Kamis (7/10).

Naiknya ekspor Indonesia memang bukan hanya ditopang oleh CPO, tapi juga komoditas lain seperti batu bara dan barang tambang lain. Juga manufaktur, ekspor besi baja yang naik saat ini. Namun CPO menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Pekerja membongkar buah kelapa sawit di unit pemrosesan minyak kelapa sawit milik negara. Foto: REUTERS / Tarmizy Harva

"Yang jelas CPO memang pertumbuhannya termasuk yang paling tinggi di antara yang lain dan ini yang menjadi kontributor utama dalam pertumbuhan ekspor kita yang besar dan penyumbang utama surplus kita, surplus perdagangan yang terakhir itu hampir USD 5 miliar dalam 1 bulan sudah rekor tertinggi sepanjang sejarah," kata dia.

Pertumbuhan ekspor yang melesat, dengan sokongan CPO ini, dinilai bisa menjadi peredam kontraksi ekonomi. Akhirnya akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih dalam tahap pemulihan pascapandemi COVID-19.

"Dampaknya pada pertumbuhan ekonomi tentu saja sumber pertumbuhan dari net ekspor itu menjadi pereda kontraksi atau perlambatan pertumbuhan sumber-sumber pertumbuhan lain," jelasnya.

"Misalnya saat PPKM Darurat konsumsi rumah tangga kan mengalami perlambatan atau bahkan kontraksi bila dibandingkan dengan kuartalan. Tapi perlambatan atau tekanan dari konsumsi rumah tangga bisa diredam terutama dengan perbaikan performa net ekspor," lanjutnya.

Suasana pabrik olahan sawit milik PT Cipta Futura yang disebut-sebut milik mendiang Akidi Tio. Foto: ciptafutura.com

Dampak Naiknya Harga Minyak Sawit pada Produk Olahan

Pengamat Pertanian dari IPB Bayu Krisna Murti mengatakan harga CPO yang tinggi memang menjadi kabar gembira. Terlebih harga CPO juga diturunkan ke harga TBS petani yang juga naik. Namun dia menilai kenaikan CPO tak sepenuhnya berdampak baik.

"Harga CPO yang tinggi membuat biaya bahan baku semua industri pengguna CPO jadi naik. Industri minyak goreng, oleochemical, biofuel semua menghadapi biaya bahan baku yang semakin mahal," ujar Bayu kepada kumparan.

"Perlu diingat, ekspor kita dalam bentuk CPO kira-kira hanya 30 persen, yang 70 persen sudah dalam bentuk olahan. Jadi ada risiko produk olahan akhir akan jadi mahal," lanjutnya.

Daya saing CPO terhadap minyak nabati lain, kata dia, juga dapat terganggu. Saat ini memang tertolong harga kedelai dan bahan minyak nabati juga sedang naik tinggi, sehingga CPO masih bisa dijual ke pasar.

"Jika harga terlalu mahal, konsumen bisa berpikir ulang untuk beli produk-produk berasal dari sawit. Bisa menimbulkan masalah dalam jangka panjangnya," tutupnya.