Menaker Sebut Pengangguran di RI Turun Imbas Ekonomi Pulih

7 Maret 2023 14:26
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dalam Rakernas Bidang Ketenagakerjaan di Menara Kadin, Selasa (7/3/2023). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dalam Rakernas Bidang Ketenagakerjaan di Menara Kadin, Selasa (7/3/2023). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, mengungkapkan pengangguran pada 2022 menurun seiring kondisi perekonomian nasional yang kian pulih. Ia mengatakan pengangguran per Agustus turun menjadi 5,86 persen atau ada 8,4 juta orang.
"Seiring pemulihan ekonomi ini, kondisi ketenagakerjaan mengalami tren yang positif. Kalau kita lihat BPS Agustus 2022 pengangguran kita bisa turunkan menjadi 5,86 persen," ujar Ida dalam Rakernas Bidang Ketenagakerjaan di Menara Kadin, Selasa (7/3).
Menurutnya capaian tersebut bukan hanya kerja pemerintah, melainkan kerja gotong royong dari semua stakeholder di bidang ketenagakerjaan. Ia menilai kontribusi dunia usaha dan industri sangat besar untuk menurunkan angka pengangguran Indonesia yang meledak akibat pandemi COVID-19.
Meski begitu, Ida menuturkan tantangan ketenagakerjaan yang masih dihadapi sampai saat ini adalah persoalan kualitas sumber daya manusia. Sekitar 56 persen pendidikan angkatan kerja masih didominasi oleh tingkat pendidikan SMP ke bawah.
"Ini persentase lebih tinggi 56 persen, angkatan kerja kita didominasi oleh angkatan kerja yang tingkat pendidikannya SMP ke bawah," ujar Ida
Ribuan pelamar kerja mengantre untuk dapat masuk ke dalam lokasi Bursa Kerja yang digelar Dinas Tenaga Kerja Kota Batam di Batam, Kepulauan Riau, Senin (7/11/2022). Foto: Teguh Prihatna/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Ribuan pelamar kerja mengantre untuk dapat masuk ke dalam lokasi Bursa Kerja yang digelar Dinas Tenaga Kerja Kota Batam di Batam, Kepulauan Riau, Senin (7/11/2022). Foto: Teguh Prihatna/Antara Foto
Hal tersebut berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran yang didominasi oleh angkatan kerja dengan tingkat pendidikan lebih baik, seperti SMA, SMK ,dan perguruan tinggi. Ida menyebutkan ada 1,2 juta pengangguran dengan kontribusi tingkat penganggurannya sebesar 6,2 persen.
"Angkatan kerja masih didominasi oleh tingkat pendidikan SMP ke bawah, sementara yang menganggur justru dikontribusikan oleh SMA, SMK, dan Perguruan Tinggi. Ini faktor link and match, tidak adanya link and match masih cukup dominan," ungkap Ida.
Di sisi lain, ia mengungkapkan disrupsi global terjadi begitu cepat melalui revolusi industri 4.0 yang datang hampir bersamaan dengan pandemi COVID-19. Selain itu, teknologi digital berkembang dengan sangat pesat berdampak pada terjadinya transformasi di bidang ketenagakerjaan.
Ida berujar ada 3 transformasi besar yang terjadi. Pertama, transformasi keterampilan. Kedua, transformasi pekerjaan, dan ketiga adalah transformasi sosial.
"Di saat pendidikan angkatan kerja banyak SMP ke bawah kita harus mengalami transformasi keterampilan, pekerjaan. Siap tidak kita dengan tingkat pendidikan SMP ke bawah, kemudian perguruan tinggi menyumbang pengangguran kita harus menghadapi transformasi," tutur Ida.
Untuk itu, kata Ida, kuncinya adalah kolaborasi, koordinasi, dan sinergi. Ida berharap link and match juga dapat dilakukan dengan kolaborasi antara dunia usaha, dunia industri, dan dunia pendidikan.
"Pemerintah kalau untuk pendidikan Pak Mendikbud, yang mengorkestrasi untuk pelatihan vokasi Kemenaker yang mengorkestrasi. Kita sama-sama dalam sebuah orkestrasi yang indah akan indah apabila kita mau melakukannya. Kita mau bersinergi, kita mau berkoordinasi," ujar Ida.