Kumparan Logo

Menanam Kemandirian di Tanah Kamojang Lewat Energi Matahari dan Panas Bumi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hendro Gunawan, Local Hero Pertamina yang mengembangkan pupuk organik yang diproduksi dari potensi yang ada di sekitar Kamojang, Kabupaten Bandung. Foto: Dok. Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Hendro Gunawan, Local Hero Pertamina yang mengembangkan pupuk organik yang diproduksi dari potensi yang ada di sekitar Kamojang, Kabupaten Bandung. Foto: Dok. Pertamina

Sebelum dikenal sebagai Local Hero Pertamina, Hendro Gunawan hanyalah seorang petani lokal di Kamojang, Kabupaten Bandung. Aktivitasnya sederhana, mengolah lahan dan membuat pupuk organik dengan cara sepuh yang telah dilakukan turun-temurun.

Namun, keterbatasan metode membuat produktivitas pertaniannya belum maksimal. Di saat yang sama, pupuk semakin sulit diperoleh dan harganya kian mahal. Pertemuan dengan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang perlahan mengubah cara tersebut.

“Kendalanya pas tahun-tahun kemarin itu ada kesulitan mendapatkan pupuk, baik organik maupun anorganik. Karena harganya yang mahal, sulit didapatkan. Kita inisiatif mengembangkan pupuk yang kita buat,” katanya saat berbincang bersama kumparan, Jumat (28/8).

Dari lahan pertanian setinggi 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut, lahir diskusi tentang bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di sekitar. Kotoran sapi, domba, dan ayam yang sebelumnya menumpuk di kandang dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk.

Hendro mengatakan, melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Kamojang tercipta inovasi produk Geothermal Organic Fertilizer (Geo-Fert). Bukan sekadar pupuk organik biasa, Geo-Fert diproduksi dari limbah dengan dukungan energi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Dari mulai tata cara pembuatan, pengolahan, serta proses pengeringan yang paling penting. Pupuk kita lebih cepat dibuat, sama dampak bagi tanaman lebih bagus karena kita bisa meningkatkan nilai produksi sampai 3 kali lipat karena menggunakan pupuk ini,” ungkapnya.

Pupuk tersebut memanfaatkan uap sisa (excess steam) dari PLTP Kamojang sebagai sumber panas untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik, sekaligus memanfaatkan PLTS off-grid dengan kapasitas 6,6 kWp + BESS 20 kWh untuk mendukung operasional mesin, penerangan, dan pompa.

Hendro menjelaskan bahwa mesin pengering yang digerakkan PLTP tersebut bisa memangkas waktu pengeringan pupuk dari awalnya kurang lebih 14 hari menggunakan sinar matahari secara manual, menjadi hanya sekitar 12 jam. Ide tersebut tercetus dari tim PGE Area Kamojang.

Hendro Gunawan, Local Hero Pertamina yang mengembangkan pupuk organik yang diproduksi dari potensi yang ada di sekitar Kamojang, Kabupaten Bandung. Foto: Dok. Pertamina

“Pengeringan (pupuk) di Kamojang itu sulit, ya, pengeringan kami bisa sampai 2 minggu lebih, tapi semenjak PGE mendampingi, pengeringan kita itu hanya menggunakan waktu 12 jam,” ungkapnya.

Adapun bahan baku pupuk tersebut dipasok dari kolaborasi dengan petani dan peternak setempat, yakni kotoran sapi, domba dan ayam yang sebelumnya menumpuk dan tidak termanfaatkan, serta sisa-sisa tanaman pertanian seperti limbah kulit kopi dan singkong.

“Kita memberdayakan pekerja dan buruh tani. Buruh tani di Kamojang kebanyakannya ada yang proyekan per tahun setahun sekali, ya, kalau petani, kan, setiap hari. Nah kita alokasikan mereka ke pengumpulan bahan pupuk, jadi kolaborasinya peternak sama pekerja dan kami juga mengedukasi mereka bagaimana yang tadinya jadi buruh tani menjadi petani,” jelas Hendro.

Hendro menyebutkan produk Geo-Fert telah dilakukan uji di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, dengan hasil bahwa kandungan dalam pupuk GeO-Fert sesuai standar Kementerian Pertanian.

Petani yang tergabung dalam KTH Cikondang Kamojang mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk organik dengan narasumber dari UNPAD, serta benchmarking langsung ke Fakultas Pertanian UNPAD untuk belajar terkait pupuk hingga skema uji laboratoriumnya.

Setiap tahunnya, kapasitas produksi pupuk Geo-Fert mencapai 240 ton dan memanfaatkan sekitar 480 ton limbah organik. Pupuk ini tercatat meningkatkan produktivitas tanaman kopi hingga 75 persen, kubis 69 persen, hingga daun bawang 57 persen.

“Selain dari menaikkan kualitas dan jumlah hasil produksi, ya, kita juga semenjak jadi local hero jadi mandiri di bidang pertanian, sama edukasi ke petani juga jadi pekerja juga lebih banyak karena kita yang tadinya tidak bisa jadi bisa,” jelas Hendro.

Berkat PLTS dan PLTP, efisiensi pun tercipta tidak hanya dari penghematan waktu, namun juga biaya operasional. Hendro menceritakan, biasanya kebutuhan biaya listrik dan BBM mencapai Rp 500.000 per bulan untuk mengolah pupuk puluhan ton.

Hendro Gunawan, Local Hero Pertamina yang mengembangkan pupuk organik yang diproduksi dari potensi yang ada di sekitar Kamojang, Kabupaten Bandung. Foto: Dok. Pertamina

“Karena ada PLTS kita jadi gratis. Penggilingan kalau yang tadinya kita sebelum ada listrik menggunakan bensin satu kali penggunaan, itu bisa sampai karena jumlahnya puluhan ton, itu bisa sampai Rp 500.000. Tapi kalau sekarang sudah pada terpangkas,” ungkapnya.

Ke depannya, pengembangan produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari pupuk Geo-Fert akan terus bertambah, yakni abon ikan hasil tambak yang peletnya berasal dari limbah pertanian Kamojang, perkebunan kopi, hingga peningkatan teknologi pencampuran.

“Kita mau ada arah pengembangan menggunakan mesin juga dalam pengolahan pencampuran pupuk ini menggunakan mesin, karena kita mesinnya baru pencacahan, penggilingan, sama pengemasan. Kalau ada buat mesin pencampuran, ya, lebih bagus lagi,” tandas Hendro.

Cerita program Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal (Kanyaah) DEB Kamojang, bukan semata tentang penghematan. Produktivitas pertanian ikut meningkat hingga tiga kali lipat, sementara masyarakat mendapat akses terhadap pelatihan, fasilitas, dan pengembangan kapasitas.

Dampak ekonomi dari program ini yakni menjadi wadah investasi senilai Rp 264 juta, dengan manfaat ekonomi yang timbul sekitar Rp 82 juta per tahun, dengan waktu pengembalian modal (payback period) selama 3,2 tahun.

Dari pupuk organik hingga energi yang dimanfaatkan sendiri, Desa Laksana, Kecamatan Ibun perlahan membangun rantai produksi yang lebih mandiri. Sebab pada akhirnya, energi berdikari bukan hanya tentang siapa yang menghasilkan listrik, tetapi tentang sejauh mana energi itu mampu membuat masyarakat menghasilkan lebih banyak nilai tambah dari potensi yang mereka miliki.

VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menjelaskan program DEB menjadi salah satu program unggulan Pertamina untuk menumbuhkan kemandirian yang dipadukan dengan penggunaan energi terbarukan.

Sampai dengan bulan Agustus 2026, melalui program DEB, Pertamina telah menjangkau 269 daerah dengan sumber energi 237 panel surya, 21 metana & biogas, 8 mikrohidro, 1 hybrid dan 2 biodiesel.