Kumparan Logo

Menanti Pengumuman BI Rate, Bakal Turun atau Tetap 5,75 Persen?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi logo Bank Indonesia. Foto: Reuters/Fatima El-Kareem;
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi logo Bank Indonesia. Foto: Reuters/Fatima El-Kareem;

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan suku bunga acuan atau BI Rate dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Rabu (21/5). Salah satu aspek yang disebut menjadi pertimbangan penting adalah stabilitas nilai tukar rupiah.

Saat ini, suku bunga BI berada di 5,75 persen. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet depresiasi nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir membuat ruang pelonggaran suku bunga menjadi sangat terbatas, hal ini membuat opsi paling mungkin adalah menahan suku bunga.

“Dalam kondisi seperti ini, saya melihat BI akan lebih mengutamakan stabilitas nilai tukar dan menjaga persepsi pasar terhadap ketahanan ekonomi domestik,” ujar Yusuf kepada kumparan, Rabu (21/5).

Menurutnya, BI akan terus memantau perkembangan global dan domestik secara saksama. Meski inflasi domestik masih ada dalam kisaran target dan cenderung rendah, menurut Yusuf hal ini belum menjadi alasan kuat bagi BI untuk menurunkan suku bunga.

Yusuf melihat BI masih berhati-hati dan fokus pada stabilitas makroekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Tekanan eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Fed yang belum sepenuhnya dovish, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta potensi gejolak di pasar keuangan global menjadi pertimbangan utama,” kata Yusuf.

Konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Gedung BI, Rabu (19/2/2025). Foto: Ghifari/kumparan

Ekonom CELIOS, Nailul Huda, memproyeksi langkah BI dalam RDG kali ini juga akan mempertahankan suku bunga. Hal yang diperhatikan BI saat ini menurut Nailul adalah kestabilan nilai tukar rupiah.

“Kekhawatiran ketika menaikkan suku bunga adalah nilai tukar yang bisa melemah, sehingga BI harus intervensi lebih banyak untuk pasar valas. Sedangkan, meskipun ada ruang untuk penurunan suku bunga dari sisi inflasi, tapi dari sisi moneter tidak,” ujarnya.

Meski demikian, Nailul masih berharap penurunan suku bunga bisa terjadi. Hal ini agar sektor riil dapat tetap bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Tapi saya berharap ada penurunan suku bunga acuan untuk menggerakkan sektor riil. Agar tenaga kerja bisa terserap lebih banyak,” kata Nailul.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal memandang alasan BI mempertahankan suku bunga adalah melihat kondisi saat ini.

Meskipun dia juga tidak menampik ada kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di domestik. Sebab proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah 5 persen yaitu di kisaran 4,7 persen.

Terlebih konsumsi dalam negeri, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, semuanya mengalami perlambatan, sehingga memang ada kebutuhan untuk melakukan pelonggaran moneter dan pelonggaran fiskal.

instagram embed

Akan tetapi pada saat yang sama, juga ada tekanan global meningkat, mulai dari perang dagang yang berdampak pada ekspor impor, investasi, juga nilai tukar yang melemah. Ini disebabkan oleh adanya dorongan kecenderungan capital outflow atau capital flow ke AS dari negara-negara emerging markets yang membuat nilai tukar itu menjadi tidak stabil.

Pelemahan rupiah di antara negara-negara lainnya dinilai termasuk yang paling dalam. Sehingga menurut Faisal, penurunan suku bunga juga diperlukan untuk stabilisasi nilai tukar.

“Jadi walaupun ada kebutuhan untuk menurunkan tingkat suku bunga, untuk mendorong perekonomian domestik, tapi juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap nilai tukar, sehingga kemungkinan juga akan tetap dipertahankan,” tutur Faisal.

Terkait opsi pemangkasan suku bunga, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi BI akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) hari ini ke 5,50 persen.

Perkiraan ini didukung oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal. Di sisi domestik, inflasi tetap terkendali per April 2025, tercatat sebesar 1,95 persen year-on-year (yoy) dan berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen. Penurunan suku bunga juga bisa menjadi respons atas melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal I 2025.

“Hal ini memberikan ruang yang cukup untuk kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2025 melambat menjadi 4,87 persen year-on-year, sehingga memerlukan pelonggaran moneter untuk mendukung permintaan agregat,” kata Josua.

Penurunan suku bunga menurut Josua juga bisa terjadi karena kondisi global yang membaik. Hal ini bisa dilihat dari hasil pembicaraan perdagangan Amerika Serikat (AS dengan China baru-baru ini yang mengarah pada pencabutan tarif balasan dari tingkat di atas 100 persen menjadi 30 persen untuk barang China dan 10 persen untuk barang AS selama periode sementara 90 hari.

Selain itu, data inflasi AS, baik dari sisi penawaran/supply maupun permintaan, menunjukkan tren penurunan, memperkuat argumen bagi The Fed untuk memulai pemangkasan suku bunga kebijakan FFR. Hal ini memicu sentimen risk-on di pasar keuangan global, mendorong aliran modal masuk ke pasar emerging markets, termasuk Indonesia.

“Ke depannya, jika ketidakpastian global terus mereda dan kondisi eksternal membaik lebih lanjut, kami memperkirakan adanya pergeseran strategis dalam sikap kebijakan BI, dari orientasi pro-stabilitas saat ini menuju kerangka kerja yang lebih pro-pertumbuhan,” ujar Josua.

Terkait rupiah, Josua melihat rupiah mulai menguat sejak 16 Mei 2025 yang membawa nilai tukar di bawah Rp 16.500 per USD. Ia juga melihat potensi penurunan suku bunga BI masih bisa berlanjut sampai akhir tahun.

“Akibatnya, kami melihat ruang untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada sisa tahun 2025, yang berpotensi menurunkan suku bunga BI menjadi 5,25 persen,” kata Josua.

Sebelumnya, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, juga mengtakan BI bisa menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 5,5 persen di bulan ini. Apalagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini terpantau stabil.

“Kita melihat mungkin paling cepat kalau memang rupiahnya relatif stabil, ada ruang kemudian pemangkasan suku bunga acuan 25 basis di RDG (Rapat Dewan Gubernur BI) di bulan ini, jadi 25 basis dari 5,75 persen ke 5,5 persen,” kata Andry dalam Mandiri Economic Outlook Q2 2025 bertajuk Building Resillience in the Midst of Global Turbulence di Jakarta, Senin (19/5).