Mendag Soal Masyarakat Diminta Belanja: Ada Efek Samping, Diusahakan Tak Parah

Pemerintah menggelontorkan berbagai insentif agar masyarakat mau membelanjakan uangnya di masa pandemi. Salah satunya dengan membebaskan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada mobil 1.500 cc ke bawah.
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, terus didorongnya konsumsi masyarakat agar ada perputaran uang yang beredar sehingga ekonomi bisa bangkit. Sebab, kontribusi konsumsi terhadap ekonomi nasional cukup tinggi, sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Sekarang saya musti gerakkan ekonomi dulu yaitu dengan konsumsi. Pasti nanti ada efek sampingnya tapi kita usahakan efek sampingnya tidak akan lebih memarahkan daripada situasi kita hari ini," kata dia dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (25/2).
Lutfi menjelaskan, efek samping yang dimaksud berhubungan dengan naiknya harga komoditas dunia. Naiknya komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) akan menguntungkan Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar dunia.
Tapi di sisi lain, harga komoditas minyak mentah juga terkerek. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, kondisi ini bakal menggerus neraca perdagangan non migas nasional sehingga defisit. Kondisi ini kerap terjadi pada Indonesia, misalnya seperti pada 2014 silam.
"Nah nanti ke depannya, bagaimana kita diversifikasikan supaya bisa mengatasi ketergantungan produk minyak luar negeri. Nanti kita siapkan lagi strateginya," kata Lutfi.
Impor Bahan Baku Turun Karena Banyak Masa Libur
Lutfi juga mengungkapkan tentang surplusnya neraca dagang per Januari 2021 yang mencapai USD 1,96 miliar. Selain karena sejumlah ekspor naiknya, surplus bulan lalu juga karena turunnya impor sejumlah barang, terutama bahan baku.
Impor barang konsumsi selama Januari 2021 sebesar USD 1,42 miliar, turun 17 persen (mtm) dan 2,92 persen (yoy). Impor bahan baku sebesar USD 9,93 miliar atau turun 2,62 persen (mtm) dan turun 6,10 persen (yoy). Sementara impor barang modal USD 1,99 miliar atau turun 21,23 persen (mtm) dan turun 10,72 persen (yoy).
Lutfi menyebut, turunnya impor bahan baku pada Januari karena banyak waktu libur pada Desember seperti Natal dan Tahun Baru. Di sisi lain, masih ada COVID-19.
"Impornya enggak bisa kita ilustrasikan the whole year-nya karena ada COVID dan ada libur di bulan-bulan berikutnya. Tapi kalau saya katakan impornya masih lemah dan berikan landasan pacu belum siap menggeliat ekonominya, itu saya tidak menyangkal," kata dia.
Meski begitu, dia optimistis ekonomi akan menggeliat di April 2021 karena biasanya pasar mulai bergerak di paruh ketiga awal tahun. Semisal, kata dia, industri otomotif di Jepang yang sejak Januari-Maret biasanya sedang berstrategi menyikapi pasar dunia, termasuk rencana menjual mobil yang akan diputuskan pada April.
"Saya yakin nih mustinya akan berubah karena begitu policy dari pemerintah (Indonesia) terutama misalnya bersangkutan dengan konsumsi mobil (dengan bebas pajak). Ini mobil kan bisa jadi lokomotif pertumbuhan ekonomi lainnya," ujarnya.
