Kumparan Logo

Mendag Zulhas Janji TBS Sawit Naik di Atas Rp 2.000 per Kg, Petani Optimis?

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan meresmikan peluncuran produk minyak goreng Minyakita di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (6/7/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan meresmikan peluncuran produk minyak goreng Minyakita di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (6/7/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan atau Zulhas berjanji menaikkan kembali harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kembali di atas Rp 2.000 per kg. Hal ini seiring dengan peluncuran minyak goreng, MinyaKita seharga Rp 14.000 per liter.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Menurung berkata, pihaknya berterima kasih kepada Zulhas telah meluncurkan program MinyaKita. Namun, dia menilai sudah seharusnya Mendag juga memikirkan nasib petani.

"Banyak sekali pejabat berjanji, saya pikir jadi salah satu cara untuk menurunkan emosi kami para petani, tapi kalau jadinya tidak terpenuhi ini justru akan menambah derita kami," katanya kepada kumparan, Kamis (7/7).

Gulat melanjutkan, saat ini harga TBS petani semakin anjlok mencapai Rp 800 per kg di pabrik, bahkan di level pengumpul harganya dipatok Rp 250-350 per kg saja. Menurut dia, TBS sudah tidak ada artinya lagi.

Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO

"Jangan hanya menyelesaikan masalah minyak goreng, padahal itu awal dari kisruhnya harga TBS. Minyak goreng itu bahan bakunya dari TBS, kalau tidak kami panen maka akan ada kelangkaan bahan baku untuk minyak goreng," tegasnya.

Dengan begitu, dia pun meminta Zulhas juga berpihak kepada petani sawit. Salah satu caranya dengan menaikkan harga CPO Indonesia melalui pengurangan beban harga di hulu, yaitu pungutan ekspor dan bea keluar. Hal ini akan berdampak juga kepada naiknya harga TBS.

Gulat menuturkan, selama ini petani tidak mendesak patokan harga TBS harus berapa, melainkan setidaknya bisa mengikuti fluktuasi harga CPO internasional yang saat ini harganya juga sedang bagus.

Petani kelapa sawit demo menuntut pemerintah untuk mengakhiri larangan ekspor minyak sawit, di luar kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, di Jakarta, Selasa (17/5/2022). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

"Persoalannya sekarang harga CPO internasional tidak jelek-jelek banget, memang turun 2,5 persen tetapi tidak mengakibatkan harga TBS kami seperti sekarang Rp 800 perak, bagi kami ini salah satu kekhilafan dari Mendag sebelumnya," imbuhnya.

Dia mencontohkan, jika harga CPO Rp 20.000 per kg, maka harga TBS petani setelah dikurangi pungutan ekspor dan bea keluar, harga seharusnya berada di kisaran Rp 2.500-3.200 per kg.

"Sederhana bukan? Jadi kami tidak meminta harga TBS di atas Rp 2.000 atau Rp 3.000, tidak. Jika harga TBS petani Rp 200 pun kami terima kalau memang segitu harga CPO dunia," pungkasnya.