Kumparan Logo

Menengok Toko Mebel di Kawasan Klender yang Sepi Pengunjung

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Toko-toko Mebel di Pasar Klender, Jakarta Timur (Foto: Siti Maghfirah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Toko-toko Mebel di Pasar Klender, Jakarta Timur (Foto: Siti Maghfirah/kumparan)

Pagi ini, Kamis (28/12), Pasar Klender terlihat sangat ramai. Puluhan lapak penjual ikan, ayam, dan sayur mayur disesaki pembeli. Belum lagi deru laju motor yang berlalu lalang dan keberadaan warung-warung di pinggir jalan juga ikut menambah keramaian pasar.

Namun, keramaian di Pasar Klender kontras dengan kondisi toko mebel yang lokasinya ada di sebelah pasar. Bahkan, ketika kumparan (kumparan.com) memasuki sebuah toko mebel, hanya si pemilik toko yang berdiri di depan dan sedang berharap ada calon pembeli datang.

"Memang lagi sepi terus," keluh Toni (62), pemilik toko mebel Sehati membuka pembicaraan.

Pria yang ingin disapa Koh Toni ini mengatakan, kadang dalam sehari tidak ada satu unit pun mebel di tokonya yang terjual. Padahal ia merasa harga dagangannya tak begitu mahal.

Untuk satu meja kecil bertingkat tiga misalnya, pembeli sudah dapat membawanya dengan harga Rp 190.000. Kalau mau yang lebih bagus dan terbuat dari kayu yang lumayan tebal, harganya pun tak beda jauh, yakni Rp 250.000.

Toko Mebel di Klender yang Mulai Sepi Pembeli (Foto: Siti Magfirrah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Toko Mebel di Klender yang Mulai Sepi Pembeli (Foto: Siti Magfirrah/kumparan)

Lemari pabrik atau lemari yang terbuat dari triplek dibanderol harga Rp 1,3 juta hingga Rp 1,5 juta. Sementara satu set sofa ruang tamu dijual seharga Rp 2,5 juta.

"Sudah 2-3 tahun terakhir lah begini terus. Ada mungkin turun (penjualan) sekitar 30%,” katanya.

Dulu, katanya, ia bisa meraup pendapatan hingga Rp 20 juta lebih per bulan. Berbeda dengan sekarang, di mana pendapatan hanya Rp 10 juta, itu juga sudah sangat maksimal.

Sementara itu, Nur, karyawan toko mebel Klender Indah mengaku pernah diceritakan oleh Enci, sang pemilik toko tempatnya bekerja bahwa kondisi dulu cukup ramai, berbeda dengan sekarang yang sepi pengunjung.

"Katanya dulu bisa sampai 10 unit terjual sehari. Sekarang terjual 2 saja sudah untung," kisahnya.

Nur mengaku tak mengerti secara pasti penyebab toko-toko mebel di Klender sepi. Ia hanya memahami bahwa kondisi ini adalah risiko orang berbisnis.

"Kalau lagi sepi ya sepi, ramenya juga pernah. Ya setiap hari ada aja sih," lanjutnya.

Saat kumparan (kumparan.com) berkeliling di sekitar toko-toko mebel tersebut, kondisi tak banyak berubah. Sempat satu orang memasuki sebuah toko, namun hanya menanyakan harga lalu langsung beranjak pergi. Toko Toni maupun Nur sama-sama masih sepi. Belum ada satu unit pun dagangan mereka yang terbeli.