Kumparan Logo

Mengapa Investor Seakan Tak Pernah Puas Membeli Emas?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi emas. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi emas. Foto: Shutterstock

Selama berabad-abad, emas telah menjadi aset andalan di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi. Statusnya sebagai komoditas bernilai tinggi yang mudah dipindahkan dan dijual di mana pun memberikan rasa aman saat segalanya terasa kacau.

Namun, tidak semua orang menyukainya. Investor legendaris Warren Buffett menyebut emas sebagai aset yang 'steril'. Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway Inc. pada 2011, ia menulis:

“Jika Anda memiliki satu ons emas selama-lamanya, maka Anda akan tetap memiliki satu ons emas pada akhirnya," tulis Buffett.

Meski begitu, para investor tetap mencari perlindungan lewat emas batangan di tengah memanasnya perang dagang Presiden Donald Trump, utang pemerintah AS yang mencapai rekor hingga menimbulkan kekhawatiran soal kesehatan fiskal, serta meningkatnya tekanan terhadap independensi Federal Reserve.

Investor membanjiri dana ETF berbasis emas tahun ini. Total kepemilikan di awal September mencapai level tertinggi sejak Juni 2023, menurut data Bloomberg.

Lonjakan permintaan membuat harga emas terus mencetak rekor baru pada 2025, melanjutkan reli brutal dari tahun sebelumnya. Harga emas menembus USD 3.500 per troy ounce pada awal September, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa seiring ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed.

Kepemilikan ETF emas kini menggelembung ke level yang terakhir kali terlihat pada 2023.

Stabil dan Likuid

Ilustrasi alat makan emas. Foto: Claire Adams/Shutterstock

Bagi investor modern, alasan utama berinvestasi emas adalah karena stabilitas dan likuiditasnya, bukan karena kegunaan praktisnya.

Emas dikenal sebagai aset yang nilainya meningkat di tengah gejolak pasar. Ia juga dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi ketika daya beli mata uang tergerus. Kekhawatiran akan inflasi kini menjadi sorotan seiring tarif impor Trump yang bisa menaikkan harga secara global.

Inflasi AS juga jadi perhatian utama karena Trump terus menekan The Fed untuk memangkas suku bunga. Emas, yang tidak memberikan bunga, biasanya lebih menarik saat suku bunga rendah karena opportunity cost-nya menurun dibanding instrumen berbunga.

Status emas sebagai aset pelindung juga menguat seiring agenda dagang Trump yang menggoyang kepercayaan terhadap aset aman lain seperti USD dan obligasi pemerintah, sekaligus menggugat keistimewaan global Amerika Serikat.

Secara historis, harga emas berkorelasi negatif dengan USD. Karena emas dihargai dalam USD, saat dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. USD sempat menyentuh posisi terendah tiga tahun terhadap mata uang utama lain pada Juli dan masih melemah hingga akhir Agustus.

Di luar faktor pasar, kepemilikan emas berakar dalam budaya India dan Tiongkok, dua pasar terbesar emas dunia di mana perhiasan, batangan, dan bentuk emas lainnya diwariskan lintas generasi sebagai simbol kemakmuran dan keamanan. Rumah tangga di India diketahui menyimpan sekitar 25.000 ton emas, lebih dari lima kali cadangan emas AS di Fort Knox.

Konsumen fisik terkenal sensitif terhadap harga. Namun, saat daya tarik emas di pasar keuangan mulai surut, pembeli perhiasan dan batangan kerap masuk dan menopang harga.

Buka tabungan emas untuk dana tetap produktif bersama BRI. Foto: Dok. Shutterstock

Reli harga emas sejak awal 2024 juga dipicu pembelian besar-besaran oleh bank sentral, terutama dari negara berkembang yang ingin mengurangi ketergantungan pada USD. Emas membantu diversifikasi cadangan devisa dan melindungi dari depresiasi mata uang.

Bank sentral tercatat menjadi pembeli emas bersih selama 15 tahun terakhir. Laju pembelian mereka bahkan meningkat dua kali lipat setelah invasi Rusia ke Ukraina. Pembekuan aset bank sentral Rusia oleh AS dan sekutunya memperlihatkan betapa rentannya aset valuta asing terhadap sanksi.

Pada 2024, bank sentral membeli lebih dari 1.000 ton emas untuk tahun ketiga berturut-turut, menurut World Gold Council. Saat ini, mereka memegang sekitar seperlima dari seluruh emas yang pernah ditambang. Namun, pembelian mulai melambat seiring harga yang tinggi.

Kenaikan harga emas yang hampir tak terputus sejak awal 2024 bisa segera terkonsolidasi jika investor mulai merealisasikan keuntungan. Penurunan eskalasi tarif Trump atau tercapainya perdamaian Rusia-Ukraina juga bisa menekan harga emas.

Meski demikian, bank sentral tetap menjadi pilar utama dalam tren bullish emas. Jika mereka mulai memangkas cadangan, dampaknya akan besar.

Namun sejauh ini tak ada indikasi bank sentral besar akan menjual emasnya. Negara maju tercatat sangat sedikit menjual emas sejak 1990-an, ketika penjualan agresif menekan harga lebih dari 25 persen dalam satu dekade. Kekhawatiran atas dampak destabilisasi ini melahirkan perjanjian pertama antar-bank sentral pada 1999 untuk membatasi penjualan emas secara kolektif.

Ilustrasi gelang emas. Foto: AFP/PUNIT PARANJPE

Memiliki emas tidak gratis. Karena berupa fisik, pemilik harus membayar biaya penyimpanan, keamanan, dan asuransi.

Investor yang membeli emas batangan dan koin umumnya membayar harga premium di atas harga spot. Perbedaan harga geografis juga bisa muncul, menciptakan peluang arbitrase.

Hal ini sempat terjadi awal 2025, saat kekhawatiran Trump akan mengenakan tarif impor emas membuat harga emas berjangka di bursa Comex New York melonjak jauh di atas harga spot di London. Para pemilik emas fisik pun berlomba-lomba mengirim logam mereka ke AS demi memanfaatkan selisih harga dan meraih keuntungan ratusan juta USD.

Perdagangan arbitrase ini berhenti mendadak pada April, setelah pemerintahan Trump menyatakan bahwa emas tidak akan dikenai tarif. Meski begitu, pasar sempat panik ketika Bea Cukai AS menyebut beberapa emas batangan masih terkena tarif 'resiprokal' ala Trump. Namun, Trump kemudian memastikan bahwa emas tidak akan dikenai pajak impor.

instagram embed