Kumparan Logo

Mengenal Bagas, Petani di Pinggiran Jakarta yang Pekerjakan Eks Preman

kumparanBISNISverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Bisnis Pertanian milik Bagas Supratman di Teluk Naga, Tangerang. Foto: Abdul Latif/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Bisnis Pertanian milik Bagas Supratman di Teluk Naga, Tangerang. Foto: Abdul Latif/kumparan

Menjadi petani di kawasan perkotaan bukan pemandangan yang lazim. Apalagi bagi Bagas Suratman, mantan pekerja serabutan yang kini sukses menekuni profesi sebagai petani di perkotaan sejak 2004 lalu. Ia bisa mengantongi omzet belasan juta per hari. Lahan pertaniannya berada di pinggiran kota Jakarta, tepatnya di Rawa Lini Teluk Naga, Tangerang, dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Saat ditemui kumparan pada Jumat (26/4), pria berperawakan tinggi dan besar ini sebenarnya sudah enggan berbicara lagi di media. Sebab, sejak kesalahan pemberitaan membuatnya didatangi orang pajak, kementerian hingga pemerintah daerah.

“Saya sudah menutup bicara (kepada) media. Itu ada media yang memberitakan omzet saya sehari sampai Rp 100 juta. Itu per hari lho. Sampai saya didatangi orang-orang pajak. Itu hoax media yang ngeberitain omzet saya Rp 100 juta per hari,” protesnya.

Sesekali ia menjawab pertanyaan sambil menemui tamunya. Ada banyak tamu setiap hari yang datang. Mereka rata-rata ingin belajar bagaimana Bagas sukses mengelola lahan pertanian perkotaan.

Bukan hanya warga biasa, dari Bupati hingga Kementerian Pertanian pernah menengok lahannya. Ia juga pernah diundang menjadi pembicara di salah satu universitas di Kota Malang, Jawa Timur.

Namun, Bagas berkisah tentang kehidupan kelamnya saat masih bekerja serabutan. Layaknya kebiasaan preman, kenakalan apa saja sudah pernah dialaminya. Dari pemabuk hingga penjudi.

“Dulu saya mabuk terus, judi apalagi udah pernah semua,” katanya sambil senyum mengingat masa kelamnya.

Pada saat masa kelam tersebut, Bagas bisa dibilang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Apalagi berbekal ijazah STM saja, Bagas mengakui ketatnya persaingan mencari kerja di ibu kota pada saat itu.

Adapun beberapa profesi yang pernah ia kerjakan mulai sopir metromini, kuli bangunan, porter bandara hingga pedagang sayuran dan buah.

Suasana Bisnis Pertanian milik Bagas Supratman di Teluk Naga, Tangerang. Foto: Abdul Latif/kumparan

Usia Bagas yang sudah mulai dewasa, serta menyadari anak-anaknya sudah mulai tumbuh besar membuatnya merenung. Bagas merasa sebagai kepala rumah tangga tak bisa hidup dengan cara senang-senang selamanya.

“Kalau saya stuck aja keluarga saya mau makan apa. Karena kita sudah mempunyai tanggung jawab, saya kan jadi kepala keluarga nah itu kalau saya diem enggak ngapa-ngapain, kita kan dituntut sama keluarga,” terangnya.

Akhirnya pada tahun 2004 itulah awal mula ia berbisnis pertanian di Teluk Naga. Bagas memutuskan menjadi petani karena hanya itu skill yang bisa dia miliki. Dahulu luas tanahnya hanya 3.000 meter persegi (m2). Awal-awal menjadi petani, Bagas hanya menanam kangkung secara otodidak.

“Pertama ke pasar, semakin lama permintaan makin banyak kan barang jadi mahal. Kita enggak punya barang. Akhirnya jalan satu-satunya saya harus menanam sendiri kangkung,” terangnya.

Perlahan tapi pasti ia membeli mobil-mobil pick-up untuk menegembangkan bisnisnya. Saat ini ada 5 mobil yang setiap harinya untuk mengirimkan barang ke pasar tradisional dan pasar modern. Hingga saat ini, lahan pertaniannya ditanami 28 komoditas buah dan sayuran di hamparan seluas 26 hektare (ha).

“Sewa semua, misalkan satu ha Rp 10 juta yaudah untung rugi ya bayar seperti itu,” katanya.

Ruangan pengemasan sayuran di bisnis pertanian milik Bagas Supratman di Teluk Naga, Tangerang. Foto: Abdul Latif / Kumparan

Hanya saja dalam perjalanan menjadi petani tak melulu mulus. Ia pun pernah merasa gagal panen setelah beberapa tahun merintis menjadi petani. Pada saat itu, ia merasakan rugi puluhan juta.

Bagas pun mengakui pada saat itu merupakan titik jenuh menjadi petani. Tetapi ia mengerti bahwa profesi lain tidak akan bisa diharapkan dengan minimnya skill.

“Rugi puluhan juta, kalau digabung secara umum ratusan juta nyampe. Titik jenuh itu pasti ada yang penting kalau dunia pertanian itu pokoknya telaten,” sebutnya.

Bagas menuturkan kunci sukses menjadi petani adalah rajin dan disiplin. Sebab, tidak ada skill khusus dalam bertani. Hingga saat ini, ia mampu membimbing anak-anak pesantren yang baru saja lulus untuk bekerja di tempatnya sebagai karyawan.

Bagas memang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitar seperti ibu rumah tangga. Bahkan eks preman dan pengangguran dari kampung yang merantau khusus belajar pertanian di tempat Bagas.

Mereka diajari dari cara membajak sawah, menanam, hingga merapikan lahan sawah. Setiap hari mereka melakukan pekerjaan tersebut dari pukul 7 pagi hingga petang. Total ada 50 orang yang kini membantu Bagas mengelola 26 ha lahan pertanian di dekat Bandara Soetta itu.

Salah satu karyawan binaan Bagas, Andika yang sore itu bersama beberapa temannya sedang sibuk mencangkul tanah. Andika yang kini berusia 23 tahun ini sudah bekerja bersama Bagas selama 4 tahun. Ia karyawan paling senior di antara teman-teman yang lainnya.

Andika pun memaparkan tujuan bekerja bersama Bagas adalah untuk mendapat pengalaman. Sebelumnya, Andika hanya seorang sopir truk pengantar sayur di pasar Brebes, Jawa Tengah.

“Jadi belajar dengan tekun diambil ilmunya. Nanam Bayam, Kangkung. Yang penting tekun aja nuruti peraturan bos (Bagas). Kalau dibilang kerja berat ya berat di sawah. Enggak masalah orang usaha yang penting halal,” tuturnya.

Andika berharap suatu hari nanti dia akan menjadi petani mandiri yang memiliki lahan sendiri berbekal dari ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari bekerja bersama Bagas.

“Harapan usaha lain cuma kepingin pedagang sayuran. Ingin punya lahan sendiri,” katanya.

embed from external kumparan

Selain Andika, ada juga cerita dari emak-emak yang bekerja dengan Bagas sebagai mitra. Lisda mengaku terbantu dengan bekerja mencabut sayuran dan buah di lahan pertanian karena bisa mendapat Rp 80 ribu per hari. Ia telah bekerja selama 6 tahun di lahan yang dikelola oleh Bagas. Suatu hari nanti, Lisda berharap mampu pergi ke tanah suci untuk menjalani ibadah umroh.

“Penginnya umroh,” ucapnya usai mencabut rerumputan di sekitar lahan.

Sementara itu, Lisda bekerja sejak pukul 7 pagi hingga petang bersama emak-emak yang lain. Sebelum bekerja di tempat Bagas, Lisda mengaku hanya ibu rumah tangga. Kini anak-anaknya semakin besar, biaya sekolah pun semakin mahal. Itu yang menjadi salah satu alasannya bekerja bersama Bagas.

“Lumayan buat ongkos anak tiap pagi. Alhamdulillah. Sekarang aja uang peralatan sekolah Rp 400 ribu aja udah ya dari sini kebantu,” katanya.

Bukan hanya Lisda, Emak-emak lainnya Tuti menyatakan hal serupa. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari serta uang sekolah anaknya yang duduk di bangku SMP, ia memutuskan menjadi petani pencabut sayuran dan buah dengan Bagas.

“Suami mah ogah kerja. Jadi kita sendiri yang nutupin kebutuhan sehari-hari. Belum lagi nanti pulang dari sini masak, pagi nyiapin anak-anak sekolah,” lanjutnya.

Bagas selalu menekankan kedisiplinan kepada seluruh karyawannya. Meski terkadang nada suaranya memang sangat lantang mirip preman pasar, tapi begitu cara Bagas menerapkan kedisiplinan kepada seluruh karyawannya.

Suasana bisnis pertanian milik Bagas Supratman di Teluk Naga, Tangerang. Foto: Abdul Latif / Kumparan

Adapun harapan Bagas kepada pemerintah agar setidaknya mendukung mitra petaninya. Secara terang-terangan ia menegaskan tidak berharap bantuan dari pemerintah. Sebab, orang-orang melihat Bagas bisa dikatakan sukses.

“Secara pribadi ya dibilang mampu ya enggak. Dibilang enggak mampu kok luasnya (lahannya) begini ya,” katanya.

Menurutnya , pemerintah perlu memperhatikan mitranya karena ada banyak sekali mitra petani yang kini bekerja dengan Bagas. Mitra petani Bagas saat ini tersebar di kawasan Sumatera dan Jawa Timur.

“Mereka tolong lah mereka dibantu. (Butuh) traktor butuh cangkul, butuh mesin rumput atau misalkan sekarang saya itu ada pemerintah yang memperhatikan Insyaallah itu cepat bisa dan mereka semangat. Karena dunia pertanian itu melibatkan orang banyak,” tuturnya.