Menilik Hanggar Perakitan Pesawat Senegal di PTDI Bandung, Ada Andil BJ Habibie

Cat pada struktur besi banyak yang mengelupas, kaca ruangan pada sisi kiri gedung sudah kusam lantaran lama tak dipakai. Gedung itu, meski megah, hanya terlihat seperti hanggar pesawat tua biasa.
Namun siapa sangka, hanggar itu ternyata merupakan saksi bisu perakitan pesawat oleh anak bangsa untuk diekspor ke luar negeri, salah satunya N69 ke Senegal.
Pun saat penyerahan pesawat CN235-220 MPA kepada AU Senegal oleh Menhan Prabowo, dilakukan di hanggar yang dinamakan Hanggar Assembly Line itu. Hanggar ini terletak di Kompleks Pabrik PT Dirgantara Indonesia, Bandung.
Tak cuma itu. Hanggar tersebut ternyata merupakan saksi penerbangan pesawat pertama yang digagas oleh BJ Habibie. Saat kumparan mengunjungi hanggar tersebut pada akhir 2019, gedung ini masih tampak begitu kokoh meski sudah tua.
Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, Muhammad Ridlo Akbar membeberkan, hanggar itu dibangun sekitar tahun 1980-an. Eks Presiden Direktur PTDI saat itu, BJ Habibie, turut andil dalam desain hanggar tersebut.
"Ini dibangun awal 1980-an, hanggar ini umurnya bersaing dengan umur saya," katanya kepada kumparan, saat itu.
Dia pun mengakui, hanggar itu merupakan saksi bisu pesawat pertama yang digagas BJ Habibie, N250. Adapun pesawat itu terbang perdana melalui upacara seremoni di depan hanggar tersebut pada 10 Agustus 1995. Kala itu Presiden Soeharto turut hadir.
"N250 tahun 1995, itu ya di sini. Di depan hanggar ini. Memang lokasi ini bersejarah," tegas Ridlo.
Dia menambahkan, hanggar itu hingga 2019 belum pernah dilakukan renovasi skala besar lantaran struktur bangunannya dinilai begitu kuat. Jika terdapat renovasi, itu hanya sebatas instalasi yang ada di dalam hanggar.
"Dari sisi capability, ini masih mumpuni. Yang kami improve adalah suasana di dalamnya saja sesuai kebutuhan. Tapi secara desain dan hanggar masih sangat mumpuni. Strukturnya kuat ini, desain Jerman," katanya.
