Kumparan Logo

Menilik Peluang UMKM Halal Masuk Pasar Global: Sertifikasi & Hilirisasi Penting

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Halal Brand Forum 2026 oleh IHATEC Marketing Research yang digelar di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026). Foto: Nabila Ulfa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Halal Brand Forum 2026 oleh IHATEC Marketing Research yang digelar di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026). Foto: Nabila Ulfa/kumparan

Peluang brand halal lokal masuk ke pasar global begitu besar. Sejumlah perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) besar telah merajai pasar ekspor, memperluas akses masyarakat ke produk halal. Kini, kesempatan terbuka bagi pelaku UMKM.

Sekretaris Umum Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Muhammad Aqil Irham menjelaskan saat ini Indonesia berada di peringkat 9 negara pengekspor produk halal. Ia yakin Indonesia sangat berpotensi untuk terus naik peringkat.

Dari 30 top perusahaan pengekspor produk halal di antara daftar negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI)—organisasi internasional terbesar kedua setelah PBB—ada 15 perusahaan Indonesia di dalamnya.

“Itu 30 perusahaan di dunia di negara-negara anggota OKI, 15 perusahaannya berasal dari Indonesia yang brand-nya halal. Itu ada Indofood, Garuda Food, Mayora, Kalbe, Kimia Farma, (dan lainnya),” kata Aqil dalam acara Halal Brand Forum 2026 yang digelar perusahaan riset IHATEC Marketing Research di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026).

“Tapi sayangnya baru perusahaan-perusahaan besar. UMKM kita belum memaksimalkan ceruk ekonomi itu untuk ekspor. Nah kalau kita lihat tantangannya, kontribusi kita masih 3 persen Pak ekspor ke negara-negara anggota OKI,” lanjut Aqil.

Ia menyebut, dari 6 juta pelaku usaha akomodasi dan makanan-minuman, yang sertifikat halalnya sudah terbit baru sekitar 1,57 juta. Menurutnya, ini merupakan tantangan bagi Indonesia agar menjadi pemain utama produk halal di tingkat global. Selain sertifikasi halal, Aqil menyebut perlu ada hilirisasi yang maksimal.

“Saya melihat UMKM itu memang enggak bisa dibiarkan sendiri, memang ada yang harus memediasi dari aspek manufakturnya. Supaya produknya bisa berkelanjutan dan banyak," kata Aqil.

Saya kira hilirisasi perlu jadi pertimbangan kita untuk ikhtiar kalau betul-betul ingin UMKM naik kelas,” imbuhnya.

Belajar dari Minang Kokoa Asli Sumbar

Ilustrasi biji kakao. Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Berbagai UMKM di berbagai daerah kini mulai bergeliat untuk menghadirkan produk halal yang mampu menembus pasar global. Dengan potensi sumber daya alam yang luar biasa, Indonesia tak kalah saing dengan eksportir lain.

Seperti produk kakao organik halal dari Minang Kakao yang meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk Top 50 The Best Cocoa in the World dan medali perunggu dari Cocoa of Excellence 2025 di Amsterdam.

Afdhal Aliasar selaku Founder Minang Kakao bercerita, awal ia menemukan kakao Sumatera Barat yang punya potensi besar sebagai komoditas pada 2016 silam. Sayangnya, kala itu banyak kebun kakao yang hasil panennya kurang bagus karena terkena penyakit, hama, dan tidak terurus.

“Petani kita kalau sudah nanam, dia pikir tongkat batu jadi tanaman. Tinggal dilempar saja nanti tinggal panen. Tidak begitu, Bapak, Ibu,” kata Afdhal dalam kesempatan yang sama.

Halal Brand Forum 2026 oleh IHATEC Marketing Research yang digelar di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026). Foto: Nabila Ulfa/kumparan

Ia pun berkeliling hingga ke luar negeri, belajar bahwa kebun yang hasilnya baik adalah kebun yang betul-betul diurus.

"Jadi kalau kita bicara mau produk lokal mau go global, benahi dulu ini. Kita harus berbenah diri bahwa kakao yang tinggal ditaruh bisa tumbuh besar seperti itu tapi hasilnya 5 persen saja tidak bagus terbuah. Jadi ini harus kita perbaiki," papar Afdhal.

"Menunggu pemerintah datang untuk memperbaiki itu, enggak datang-datang. Jadi kita harus kembali balik melihat komoditas unggulan kita apa, kita urusi dengan serius,” lanjutnya.

Minang Kakao miliknya dimulai dari menanam bibit kakao unggul dari Amerika Latin dan diolah dengan baik. Kolaborasi bersama petani lokal, ditambah dengan memperluas jaringan industri kakao dan belajar dari banyak sumber, mengantar Minang Kakao menjadi produk unggulan.

Ilustrasi logo Halal. Foto: Shutterstock

Afdhal menekankan, bicara halal tak hanya selesai di bahan baku atau proses yang sesuai syariat. Pasar global, menurutnya, kini fokus pada keberlanjutan (sustainability) dan ethical product. Hal ini penting untuk jadi perhatian UMKM atau perusahaan besar yang ingin memperluas produknya.

Mereka bicara mengenai green environment, child labor, deforestation. Hal-hal ini semua harus kita adopt. Jadi, tidak hanya halal, bagaimana pun hal-hal yang baik yang menjadi common practice di dunia, kita lakukan bersama-sama,” tuturnya.

Senada dengan Afdhal, Fachruddin Putra selaku Researcher Expert di IHATEC Marketing Research, menekankan pentingnya sebuah produk UMKM untuk tak hanya mengunggulkan kehalalan sebagai satu-satunya diferensiasi.

Pelaku usaha juga perlu untuk mengetahui segmentasi muslim dalam menyikapi produk halal agar produk tepat sasaran. Misalnya, muslim yang sangat patuh (strict) biasanya hanya memilih produk yang sudah berlabel halal. Sementara ada kelompok muslim yang tahu halal itu penting, tapi tidak mau repot.

“Untuk menang, produk harus memiliki kualitas, performa brand yang baik, selaras dengan gaya hidup konsumen, dan memiliki nilai etika,” ujar Fachruddin.

Halal Brand Forum: Ajang Diskusi, Membaca Arah Pengembangan Halal di Masa Depan

IHATEC Marketing Research menggelar Halal Brand Forum 2026 pada Kamis (16/4/2026) di Hotel Sofyan Cut Meutia, Jakarta Pusat. Foto: Dok. IHATEC Marketing Research

Acara Halal Brand Forum 2026 diselenggarakan oleh IHATEC Marketing Research pada 16 April 2026 dengan mengusung tema “Building a Value-Driven Halal Brand for Muslim Generation”. Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Sofyan Cut Meutia, Jakarta Pusat, dan dikemas dalam bentuk silaturahmi, seminar, serta diskusi.

Lebih dari sekadar pertemuan, forum ini menjadi ruang eksklusif yang mempertemukan para pemimpin perusahaan, khususnya peraih Top Halal Award, untuk terhubung, bertukar perspektif, dan membaca arah pengembangan halal brand ke depan. Di tengah dinamika konsumen Muslim yang semakin sadar nilai, forum ini mendorong brand untuk tetap relevan, adaptif, dan kompetitif melalui wawasan, jejaring, serta kolaborasi yang kuat.

Acara diawali dengan sambutan dari Evrin Lutfika selaku Direktur IHATEC Marketing Research. Dalam awal sambutannya, beliau menuturkan bahwa bagi IHATEC Marketing Research, Top Halal Award bukanlah garis akhir. Justru, ia adalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Top Halal Award telah diselenggarakan sejak tahun 2022, dan hingga hari ini telah diikuti oleh lebih dari 100 kategori produk dengan melibatkan puluhan merek di tiap kategori. Angka ini menunjukkan satu hal penting: semakin banyak pihak yang peduli, terlibat, dan ingin serius membangun halal brand secara berkelanjutan.

“Melalui Halal Brand Forum ini, kami ingin melihat semangat tersebut meluas, bukan hanya berhenti pada pencapaian penghargaan, tetapi diterjemahkan menjadi praktik nyata di seluruh lini ekosistem halal, dalam keseharian bisnis, pengambilan keputusan, dan interaksi dengan konsumen," jelas Evrin Lutfika.

Sebagai lembaga riset, IHATEC Marketing Research meyakini bahwa data harus berujung pada keputusan strategis, bukan berhenti sebagai laporan. Oleh karena itu, forum ini menghadirkan perspektif regulator, praktisi, serta para pengambil keputusan yang terlibat langsung dalam pengembangan ekosistem halal.

IHATEC Marketing Research menggelar Halal Brand Forum 2026 pada Kamis (16/4/2026) di Hotel Sofyan Cut Meutia, Jakarta Pusat. Foto: Dok. IHATEC Marketing Research

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan bahwa Top Halal Award 2026 akan kembali diselenggarakan pada bulan September mendatang. Pada tahun ini, jumlah responden riset ditingkatkan dari1.800 menjadi 2.100 responden yang tersebar di enam kota besar di Indonesia, sehingga insight yang dihasilkan menjadi semakin kuat dan representatif.

“Pada 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Insya Allah kami akan meluncurkan buku Authentic Halal Brand. Peluncuran ini dimaknai sebagai ajakan untuk menjadikan kebangkitan halal tidak hanya sebagai peluang pasar, tetapi juga sebagai gerakan berbasis nilai”, ungkapnya.

“IHATEC Marketing Research juga telah merilis Halal Review, sebuah portal yang dapat diakses padahalalreview.co.id, sebagai sumber wawasan mengenai perkembangan ekosistem halal secara nasional dan global,” tutupnya.