Kumparan Logo

Menilik RI dalam SGIE, Sebagai Negara dengan Mayoritas Penduduk Muslim Terbesar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung mengamati baju muslim yang dijual saat berlangsungnya Halal Fair 2023 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (4/8/2023).  Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung mengamati baju muslim yang dijual saat berlangsungnya Halal Fair 2023 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (4/8/2023). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Istilah SGIE atau State of the Global Islamic Economy, menjadi perbincangan setelah Cawapres Gibran Rakabuming Raka mencecar Muhaimin Iskandar dengan pertanyaan mengenai strategi untuk menaikkan peringkat Indonesia dalam SGIE.

"Karena Gus Imin ini adalah ketua umum PKB, saya yakin Gus Imin paham untuk masalah ini, bagaimana langkah Gus imin untuk menaikkan Indonesia di SGIE?" tanya Gibran ke Cak Imin dalam debat Pilpres 2024, Jumat (22/12).

Imin mengaku kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan cawapres nomor urut 2 itu. "Terus terang saya tidak paham SGIE itu apa?" ungkapnya.

Istilah SGIE mengacu pada laporan tahunan tentang ekonomi halal dunia yang disusun dan dipublikasikan oleh Dinar Standard. Saat ini State of the Global Islamic Economy sudah diproduksi hingga edisi ke-9.

DinarStandard™ merupakan sebuah perusahaan riset strategi pertumbuhan dan manajemen eksekusi yang memberdayakan organisasi untuk mencapai dampak global yang menguntungkan dan bertanggung jawab.

instagram embed

Indonesia sendiri per Juni 2023 berdasarkan goodstate, memiliki jumlah penduduk muslim sebanyak 229 juta jiwa dan menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia berdasarkan laman Goodstate, per Juni 2023.

Mengutip laman DinarStandar, berdasarkan laporan di laman tersebut, Indonesia menempati posisi 4 SGIE dari 81 negara, dikalahkan oleh Malaysia di peringkat pertama, Saudi Arabia kedua, Uni Emirat Arab pada peringkat ketiga.

Kendati demikian, Indonesia telah berhasil mendahului Turki yang berada di peringkat kelima, Bahrain, Singapura, Kuwait, Iran dan Jordan dalam sepuluh peringkat teratas.

SGIE terdiri dari beberapa indikator, meliputi keuangan syariah, industri makanan dan minuman halal, pariwisata halal, fashion muslim, farmasi dan kosmetika halal, serta media dan hiburan yang halal.

Indonesia sendiri menempati posisi keenam dalam indikator keuangan syariah dengan skor 91, dikalahkan oleh Malaysia dengan skor 426,9, Saudi Arabia dengan skor 218,6, Bahrain dengan skor 121,9, Kuwait dengan skor 115,5 dan UEA dengan skor 114,6.

Lalu dalam indikator industri makanan dan minuman halal, Indonesia menempati posisi ke kedua dengan skor 71,1, dikalahkan oleh Malaysia dengan skor yang cukup timpang, yaitu 123,4.

Cawapres nomor urut 02 Gibran Rakabuming Raka bersalaman dengan Cawapres 01 Muhaimin Iskandar usai debat calon wakil presiden Pemilu 2024 di JCC, Jakarta, Jumat (22/12/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Selanjutnya indikator pariwisata halal, Indonesia bahkan tidak masuk ke dalam deretan 10 besar negara dengan pariwisata halal terbaik dengan skor 58. Adapun 10 besar tersebut ditempati oleh Malaysia, Singapura, Turki, Bahrain, UEA, Tunisia, Saudi Arabia, Kuwait, Kazakhstan dan Maroko.

Kemudian, indikator fashion muslim, Indonesia menempati posisi kelima dengan skor 68, dikalahkan oleh UEA di urutan pertama dengan skor 171,8, lalu Turki dengan jarak skor yang cukup jauh yaitu skor 95,1.

Indikator selanjutnya adalah farmasi dan kosmetika halal, Indonesia berada di urutan ke sembilan dengan skor 46,3, dikalahkan oleh UEA, Turki, Mesir, Prancis, Belgia, Belanda, Malaysia dan dipimpin oleh Singapura di urutan nomor satu dengan skor 107,9.

Terakhir, indikator media and recreation, Indonesia kembali terpaut jauh tidak menempati posisi sepuluh besar dengan skor 26,8. Adapun urutan sepuluh besar indikator ini dipimpin oleh Malaysia dengan skor 97,3, disusul oleh Singapura, UEA, China, Turki, Inggris, Belanda, Belgia, Jerman dan Amerika Serikat.

Meskipun berada di peringkat empat SGIE dan tidak menempati 10 besar dalam dua indikator, namun DinarStandard menyebut merebaknya isu ekonomi syariah sebagai bagian inti perekonomian kebijakan pemulihan dari pandemi, dimulai dari kebijakan ekonomi syariah nasional yang dilaksanakan sebelum datangnya pandemi, terutama yang bersifat wajib di Indonesia hukum halal.

Selain itu, dari segi investasi, Indonesia termasuk dari tiga negara dengan investasi di sektor ekonomi Islam. “Investasi di sektor ekonomi Islam di seluruh Pasar OKI dan non-OKI tertentu tumbuh sebesar 118 persen menjadi USD 25,7 miliar pada tahun 2020/2021 dari USD 11,8 miliar pada tahun 2019/2020. UEA, Indonesia dan Malaysia mencatat jumlah investasi tertinggi, dengan UEA memperoleh 16 persen dari seluruh transaksi yang tercatat,” tulis laporan tersebut dikutip pada Senin (25/12).